Betapa janji sekecil apapun akan kau sesali. Jika tidak mampu kau tepati. Apalagi dengan niat didepan tidak akan kau tepati. 
Sebenarnya janjiku hanya kecil. Tidak kecil sih. Sederhana saja. Aku berjanji akan pergi mendatangi dan jajan di kantin sahabatku dulu ketika SMA. Aku berjanji akan datang. Dan belum kulakukan. Dan betapa aku menyesal. Dia sudah pergi. Dan aku teramat sedih. Mendengar kabar setelah sudah berbulan dia pergi. Aku belum mengunjungi kantinnya. Bahkan untuk mengantarnya. 
Teman-temanku yang lain memanggilnya Anto. Aku memanggilnya Maria. Dia laki-laki. Seorang yang sungguh manis. Baik hati pendiam dan kalem. Tapi tidak ketika dia bersama denganku. Ia bisa terbahak dan bergosip dengan seru. Maria selalu menjagaku. Jika aku masih tertinggal di sekolah karena aku banyak mampir ke tempat jajanan atau tersangkut di ruang osis, Maria akan menjemputku kembali ke sekolah lalu kami bersama dengan teman lainnya akan entah apa saja, melakukan banyak hal yang juga entah apa saja di Boom. Atau hanya duduk di luar Boom melihat kendaraan berseliweran di Jalan Cisokan. Atau makan mie ayam jamur. Atau pindah ke Flash kalau-kalau Boom penuh. 
Menjelang sore, Maria akan mengantarku pulang. Biasanya pakai motor Eja. Atau kadang motornya sendiri. Dia memastikan aku sudah selamat pulang sebelum anak-anak di Boom bubar atau sebelum sudah maghrib. 

Maria anak pintar. Aku sering menyalin LKS geografi miliknya sejak pagi. Ia selalu datang pagi. Kami galau bersama menjelang UAS agama. Tentu saja perihal tes ngaji dan baca Quran. Tapi kami berhasil melewatinya dengan kecurangan mulus anyway.
Maria, beberapa bulan yang lalu, kita ngobrol banyak di Line. Kamu banyak cerita soal kekecewaanmu pada hidup. Pada manusia. Pada hati yang kadang tidak sanggup kau tangani dan kendalikan sendiri. 
Maria, kenapa begitu cepat. Kenapa begitu cepat. Kita bahkan belum bertemu. Aku belum mengunjungi kantinmu. Atau sekedar bercerita. Aku belum mengabarimu juga pada akhirnya aku bisa lulus juga dari kampus yang katamu sulit bagai perangkap. 
Maria. Aku sedih. Aku sedih. Aku sedih. 
Kamu kesakitan? Sekarang sudah tidak kan? Aku menyesal. Karena janji sesederhana itu tidak mampu aku penuhi. Aku menyesal dan bersedih. Karena aku bahkan tidak memiliki lagi kesempatan untuk membatalkan janji.
Maafin iyas ya Maria. Kamu tenang-tenang disana. Kamu sahabat aku. Kamu harus bahagia: karena semasa hidup kamu berhasil. Menjadi laki-laki dan manusia yang baik. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s