Hati manusia adalah pasar malam. Di dalamnya penuh wahana.

Hati manusia adalah wahana. Ia bisa menjadi beberapa yang sekaligus hal. Dapat ia menjadi taman penuh pelangi dengan sungai susu mengalir, yang banyak di kelilingi bocah yang tidak tahu menahu soal dengki dan kecurangan. Mereka tertawa. Dan itu musik taman. Yang tidak ada hal lain selain kebaikan hati. Bukan kesenangan. Tapi kebaikan. Di dalamnya tidak ada yang lain selain: doa dan penyerahan diri. Juga ketakutan. Dan harapan.

Hati manusia adalah wahana. Di dalamnya ada sekedar bianglala. Yang perputarannya tidak menakutkan. Tidak mengagetkan. Tidak tiba-tiba yang langsung seketika. Yang mencapai puncaknya menunggu giliran. Tidak saling dorong saling rampas. 
Hati manusia adalah wahana. Penuh di dalamnya kembang gula. Rambut nenek dan permen kapas. 

Hati manusia adalah wahana. Jungkat jungkit warna warni dan ban dengan tali ayun-ayun. 

Hati manusia adalah wahana. Sebuah pertunjukkan layar dengan tirai dengan tari kadang stakato yang kebanyakan. Sebuah pertunjukkan yang banyak sekali diam tanpa tepuk tangan. Sebuah kisah tanpa sandiwara. Sebuah tangis dan tawa yang sebenarnya nyata. Panggung yang dibiarkan ditonton diperlihatkan.

Hati manusia adalah wahana. Yang di dalamnya ada yang berjinjit-jinjit sembunyi-sembunyi penuh muslihat. Yang berpura-pura menjual karcis rumah hantu. Menciptakan horor dan ketakutan. Tantangan dan pengakuan keberanian. Atau mereka yang menjual kue keberuntungan dengan isi ramalan yang seragam, ditukar dengan koin terakhir seorang anak. 

Hati manusia adalah wahana. Ada yang sengaja datang begitu jauh untuk menertawakan. Pantomim badut yang tersandung. Yang tersiram cat. Yang kakinya pengkor. Yang kelopak matanya tak dapat menutup. Yang badanya mungil seperti tuyul. Yang rambutnya ijuk seperti keset. Penderitaan manusia lain adalah pertunjukkan puncaknya. Klimaks dalam cerita. Inti karcis yang dibayarnya.

Hati manusia adalah wahana. Ada yang begitu berani. Dengan bahaya. Dengan ketakutan. Pertunjukkan tong setan. Atau lidah yang memakan api. Yang dipertaruhkannya semua satu malam. 

Hati manusia adalah wahana. Kadang ia kembang api. Meletup bersinar menuju langit. Dilihat indah kampung sebelah. Lalu habis kembali gelap satu kali tarikan nafas. 

Hati manusia adalah wahana. Kadang ia permainan tembak boneka. Yang mahir akan membawa pulang. Yang curang akan membawa banyak. 

Hati manusia adalah wahana. Ia kadang kamar gelap seorang peramal. Lima belas menit lima belas ribu. Mereka-reka esok akan apa bagaimana. Menyelami hati sendiri pikiran sendiri. Kadang ia hanya menyepi. Mencari keramaian sendiri. Tanpa bicara tanpa bincang tanpa ramalan. 

Karena dalam malam yang paling pasar yang paling ramai, manusia butuh menjadi diam dan sepi: untuk mendengar kata hati yang justru paling ramai. Dirimu sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s