Hari ini aku bertemu seorang biarawati. Di sebuah rumah sakit. Kami duduk berdekatan karena sama-sama mengantri untuk dokter yang sama. Biarawati itu mengantar seorang bapak tua. Nomor antrian kami berdekatan. Beda tujuh nomor. 

Awalnya ia tersenyum padaku lalu bertanya apa sakitku. Kujawab dan bertanya kembali. Ia mengatakan ia tidak sakit. Ia mengantar Bapak tua itu. Kuasumsikan Bapak itu adalah jemaatnya. Karena mereka diantar juga oleh supir berseragam yang juga berbincang denganku. 
Selang berapa lama aku kembali mengobrol dengan teman yang mengantarku. Aku lupa kehadiran biarawati itu. Lalu ketika temanku pergi shalat ke masjid yang cukup jauh, aku sendirian. Dan biarawati itu menyerahkan sekotak buavita pada bapak itu. Dan ia menawariku roti dalam kotak perbekalan mereka! ‘Neng mau roti?’

Aku senang. Aku tidak menerima tawaran roti itu sih sebenarnya. Aku menjawab tawaran itu dengan ‘tidak Suster terima kasih banyak saya udah kenyang’. Tapi aku senang. Aku senang karena ada perpindahan energi baik yang aku terima. Bukan dari roti itu. Tapi dari energi baiknya. Dan itu sangat besar. Aku menerima energi baik bukan semata-semata karena tawaran roti padaku, tapi karena apa yang biarawati itu lakukan menemani bapak tua itu. Karena caranya memperlakukan orang lain. Caranya menunjukkan keramahan.

Lalu tiba giliranku aku dipanggil antrian. Kami tidak bertemu lagi. Setelahnya aku mengantri lagi di farmasi. Dan aku merasa ada perpindahan energi lagi yang tidak sengaja dan mau tidak mau kuterima. Dibelakang kursiku duduk ada tiga orang ibu yang bertanya padaku berapa biaya yang kubayar. Setelah kujawab, mereka meneruskan dengan perbandingan harga, dan keluhan, dan kesombongan, dan segala macam segala macam.
 Beruntungnya temanku mengajak pindah duduk. Sesudahnya aku bertanya: ‘kamu bisa gak sih merasakan kalo energi itu bernyawa berbentuk dan menular?’ lalu dia hanya tertawa. Dia merasakan hal yang sama.
Betapa benar: dirimu yang sepersekian detik akan menjadi memori. Entah baik atau buruk. Dirimu yang sepersekian detik akan mempengaruhi orang lain. Akan menjadikan sepanjang hari orang lain itu menyenangkan karena energi baikmu atau muram karena tertular energi burukmu. 
Energi itu lincah. Ia menembus apa saja. Dan setiap pertemuan dengan manusia lain adalah selalu merupakan perjodohan. Entah hanya meskipun sepersekian detik. Energi baik tidak akan bertambah jika kau tabung berhemat-hemat. Ia akan berkembang tumbuh jika kau sebarkan. 

Terlebih pada orang yang bersamamu bertahun-tahun. Bersekolah bersama. Kelompok silat. Arisan. Les menjahit. Apapun. Bagaimana bisa perjodohan panjang tidak membuat seorang manusia dikenang dalam memori baik? Bagaimana bisa manusia dikenang dalam ingatan yang bukan sisi terbaiknya? Atau bahkan tidak diingat pernah ada?

Banyak orang baik menamparku. Mereka mengirimkan energinya. Sesederhana bertanya: kapan kamu pulang? ayo lekas pulang! Kami rindu!

Dan memoriku akan mencatat tebal-tebal. Dia orang baik! Dan sejak itu aku akan mulai memperhatikan teman-temanku. Saudara-saudaraku. Dan siapapun yang bisa kujangkau. Dengan senyum dengan ramah. Dengan sumeh dengan someah. Dengan berpikir dengan berhati nurani. Dengan merasa dengan berempati. 
Sesederhana itu ternyata. Menjadikan dirimu sendiri sebagai memori baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s