Aku sebenarnya sudah lelah. Dalam artian fisik. Banyak hari ini aku sudah cukup banyak menghabiskan tenaga untuk berjalan. Dan mencari dan berbincang. Tapi aku memaksakan menuliskan semuanya sebelum aku lupa dan tidak punya ingatan soal ini ketika aku sudah lupa.

Ini adalah sebuah surat. Yang ingin kutulis sepanjang yang aku mampu. Ini adalah surat. Untukmu. Bukan orang lain. Dan tak kuharap dibaca siapapun selainmu.

Katamu, Di Awipari. Trias, ingat tempat ini. Tidak ada yang tidak istimewa dalam setiap hal. Meskipun dalam yang hanya Awipari. Kamu tau persis kenapa.
Ada banyak hal menarik namun janggal. Dalam perjalanan ini. Di Cibatu aku melihat sebuah pintu. Yang tua dan tidak simetris. Dan tak kumengerti perihal mengarah kemana ia. Karena tepat di sebelahnya terdapat pintu yang serupa. Mengapa sebuah pintu serupa disejajarkan kalau ia akan mengarah tempat yang sama? Atau tidak?

Kamu yang menyadarkanku. Dan membukakan pintu untukku. Supaya aku bisa menonton langsung sebuah pertunjukan. Yang di dalamnya tak ada jalan cerita. Yang kemudian aku menjadi gelisah karena mereka-reka sendiri jalan ceritanya. Kamu yang mengantarkanku langsung agar aku bisa kemudian sampai. Sampai pada dugaan-dugaan soal cerita yang tidak dikisahkan dalam pertunjukan ini. Katamu, kamu pikir diri kamu siapa Trias? Lancang mereka-reka sebuah jalan cerita. Menduga-duga kemungkinan. 

Aku menghabiskan semuanya. Dengan keluaran yang keluar nyaris sempurna. Dengan banyak sekali betapa-betapa. Namun yang paling kuingat soal tadi: betapa aku kembali ingat rasanya terbahak nikmat karena melihatmu terbahak melihatku memasang muka jelek seperti hidung babi. 

Aku mendengar kepodang tak henti bersuara, sungai tidak berhenti mengupayakan. Dan berpayah. Aku menyadari ada banyak doa yang terlewat. Yang selama ini tak pernah kupikirkan bahkan untuk kupikirkan. Bukan soal pria atau asmara murahan. Bukan soal harta soal kekasih.

Katamu betapa ambil sebanyaknya kesempatan berbuat baik. Habiskan kekhawatiran selagi muda. Sampai benar-benar habis. 

Kamu bilang, gereja ini baru kau sadari cantik ketika kubilang begitu. Tangganya menjulang. Kubilang itu seperti tangga aborsi di sekolahku! Bahkan lebih curam. Gereja Maria. Berapa kali injakan gas dari situ: kita melihat merah oranye biru ungu jingga yang semuanya semburat. 
Terima kasih untuk cerita ini. Aku sampai. Setelah kebosanan film natal ratusan kali yang diputar karena tidak pernah selesai. 

Aku akan rebah entah berapa barang bentar ditemani suara jangkrik dan sungai. Yang kamu tau pasti, adalah impianku. Untuk bisa tertidur seperti itu. Aku tidak akan pengar karena berisik. Aku juga tidak akan cemas kalau-kalau binatang yang kau tunjukkan kala itu datang lagi. Tidak juga aku takut. Karena aku masih mendengar suaramu yang gelisah memikirkan kesenanganku besok. 

Mengapa lalu memerah pipimu setelah tolehan salam kiri yang terakhir? Itu adalah inti terbaik. Yang membuat aku tak berhenti gembira. Aku tak ingin siapapun mengerti ini. Karena ini hanya sebuah surat. Untukmu. Yang ingin kuselipkan ketika duduk di tangga Gereja Maria. Aku hanya lupa membawa pena kala itu. 

Teruslah berbicara. Aku memperhatikan. Tapi tidak mendengarkan. Aku tidak secerdas itu merekam sebanyaknya memori sembari mencatat apa yang kudengar. Duduklah yang baik. Jangan gelisah. Dan tetap berbicara.

Aku ingin menuliskan banyak sekali hal yang membuat jelas. Tapi aku hanya tak mau memorimu sendiri yang kau jaga, habis dan urai menjadi kata. Kamu pemikir dan pengingat. Bukan pencatat. Memorimu kamu simpan sebagai ingatan untuk kemudian kamu bicarakan. Bukan sepertiku yang pencatat karena dalam hitungan detik aku bisa riang atau sedih. Dan itu menghapus semuanya.

Apa kamu suka apa yang kubuat? Apa kamu juga suka apa yang kulihat? Titik titik jauh di saat gelap. Aku ingat bahak tawamu yang tak henti. Kamu begitu senang. Soal candaan kita. Dengan dilmah buah dan kopi pulau sebagai teman minum. Terima kasih juga kamu membagi keping hijau kesukaan pria itu dulu, padaku. Aku gembira. Pada kuah pedas yang kita makan dalam cahaya Yamaha. 

Disamping semuanya, aku berterima kasih. Atas hal baru. Atas pengasuhan. Atas mendengarkan. Atas antaran. Atas suara. Atas kebaikan. Atas pilihanmu: menjadi orang baik. Atas hadiah-hadiah. Atas coklat eskrim dan banyak sekali makanan panas yang kumakan lahap dan tergesa begitu rakus. Atas kakimu. Yang mengantarku.

Tertawalah sebanyaknya. Dan jangan berhenti bercerita. Lalu antarkan aku rebah barang beberapa bentar. Dan jangan berhenti berbicara. Awasiku dari jauh. Kamu harus ingat: kamu bukan pria asmaraku, atau pria yang menyelamatkanku, menyembuhkanku. Bukan. Kamu kupilih menjadi bukan siapa-siapa. Aku tidak jatuh cinta. Entah belum. Entah tidak bisa lagi. Aku hanya ingin menjadi remaja. Yang berdebar. Dan merasakan letup-letup kecil darimu. Dan aku tidak berniat meledakkan itu. 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Belum. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s