Untuk diriku di masa depan, ingat dan baca ini baik-baik jika berbulan bertahun kedepan kamu memilih menyerah dan marah:
“Setelah keluar pintu ini, teteh lurus jalan sedikit ada ruangan sebelah kiri ya, masuk aja”

Ada banyak sekali kotak dengan banyak sekali nama. Ada dua orang disana. Mereka menyambutku ramah. 

“Teteh udah tau caranya?” aku menggeleng sambil tersenyum canggung.

“Oh teteh mah baru ya?”

Mereka meminta KTPku. Mencatat lalu memasukan semuanya ke dalam plastik bening. Dua lembar keping merah. Mengerikan awalnya kupikir. Tapi mereka meyakinkan aku, bahwa aku pasti bisa melewati ini. Selama aku yakin pada diriku sendiri–juga keras pada diriku sendiri.

“Ini udah saya urutkan ya. Senin selasa rabu kamis jumat sabtu minggu. Masing-masing lima. Dicicil aja gapapa biar teteh gak kaget”

Mereka meyakinkanku lagi dengan memberikan bantuan kecil. Dan mengatakan bahwa mereka akan harus menjadi teman akrabku selama bertahun-tahun ke depan. Mereka meyakinkanku. Bahwa aku akan bisa melewati. Membantu menghitung. Dimulai satu hari satu hari satu hari ratusan hari. Lalu tahunan lagi. Entah sampai entah tidak. 

Aku masih ceria dan banyak bertanya kala itu. Karena kupikir tidak ada yang cukup spesial untuk dipusingkan. Setelah semuanya selesai, aku berjalan keluar dan berterima kasih. Aku melihat puncak atap gereja. Dan berpapasan dengan seorang ibu yang keluar dari rumah wreda. 

Aku butuh duduk. Dan diam. 

Aku tidak baik baik saja ternyata. Aku hanya akhirnya menduga-duga. Entah darimana entah dari siapa. Tapi aku tidak marah sama sekali. Aku tidak juga berniat marah. Aku hanya bersyukur pada akhirnya. Aku bahkan setelah itu masih bisa merencanakan makan siangku ditempat yang jauh yang kuinginkan. 

Apa yang berat dari ini? Tidak ada tuh. Bertahun-tahun dari ini, ketika kamu merasa capek dan tidak ada yang berubah, ingat baik-baik: tidak ada yang berat sama sekali dari ini dibanding yang kau lihat di kiri kananmu. Bersyukurlah. Dan jangan menyerah. Telanlah. Meski kadang kau mual muak dan merasa papan-papan yang harus kau hadapi tiap pagi itu terasa sangat bedebah.

Untuk diriku sendiri: fokuslah. Ingat. Banyak sekali orang menyumbang tangan bantuan demi kamu masih bisa membaca ini. Jangan manja. Lupakan rasanya. 

Aku yang di masa ini–yang adalah masa lalumu, memohon:jangan mentahkan perjuanganku. Dengar yaso, trias, dewi, neng aco: tolong selamatkan perjuanganku sekarang yang kulakukan mati-matian demi kamu yang di masa depan yang membaca ini. 

Jangan kacaukan perjuanganku. Hanya karena kamu mulai manja dan menyerah dan merasa tidak berguna. Kamu berharga. Itulah kenapa aku memperjuangkanmu tetap hidup di kala depan, kuusahakan dari sekarang. 

Kumohon lupakan rasanya. Jangan ingat. Jangan catat di kepalamu. Betapa memuakkannya melakukan itu bertahun-tahun. Lupakan itu. Hanya jalani. 

Kamu berharga. Begitu kata banyak sekali orang. Begitupun kataku: dirimu sendiri di masa ini, yang berjuang keras menjagamu hidup. Agar dapat membaca ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s