Guan Mo Ye. Bapak tua botak sipit dari Cina yang dikenal dan selalu ditulis dalam buku-bukunya sebagai Mo Yan; memenangkan nobel sastra tahun 2012. 
Anak tani, yang putus sekolah. Memenangkan Nobel Sastra. Karena ia menulis. Karena ia menulis!

Mo Yan adalah sudah petani sejak kecil. Awal-awal umur belasan, dia menjadi petani dan berhenti sekolah. Karena ada revolusi. Oleh karenanya, hampir semua tulisannya dilatar belakangi oleh revolusi. 

Mo Yan sempat menjadi tentara pada masa kepemimpinan diktator Mao. Saat itu ia memiliki akses terbatas sekali membaca sastra, tapi justru saat itulah imajinasinya makin liar. Ia banyak sekali menulis ketika itu. 

Memori paling favorit Mo Yan adalah memori kanak-kanaknya. Dari dua buku yang saya baca, Di Bawah Bendera Merah dan Sorgum Merah; tokoh dan memori sentral adalah justru dalam memori masa kanak-kanak. 

Sebenarnya yang membuat saya jatuh cinta pada Mo Yan bukanlah karena ia memenangkan nobel– hampir seluruh pemenang nobel sastra memiliki kecenderungan karakteristik tulisan yang hampir mirip: dilatarbelakangi revolusi militer, entah sosial, entah budaya.  Mo Yan, Pasternak, Camus, Coetze, dan lain lain lain. 

Saya jatuh cinta pada Mo Yan justru bukan pada buku unggulannya seperti Red Sorghum atau Big Breasts Wide Hips. Saya jatuh cinta justru pada Di Bawah Bendera Merah. Cerita soal sekumpulan anak-anak sekolah dasar. Yang bercita-cita menjadi supir truk. Yang menganggap bahwa truk kala itu adalah hal impian sehingga mengendarainya adalah dianggap keberhasilan paling mengagumkan yang mampu dibayangkan saat itu. 

Ceritanya sangat sederhana. Tapi justru itu yang membuat tulisan Mo Yan menjadi megah. Dia membelok-belokan, menaik turunkan, menatah, memahat sana sini. Sehingga menghasilkan sudut pandang baru. 

Ada yang tidak bisa ditemui dari penulis Cina atau Asia sezamannya. Atau bahkan teman satu almamaternya di Nobel. 
Mo Yan menghadirkan latar belakang sejarah dengan diselipkan kontradiksi-kontradiksi psikologis. Mo Yan juga tidak ragu menyelipkan pertempuran psikologis kacangan–yang manusiawi: iri dan dengki. Yang justru menjadikan tulisannya makin megah. Karena ia membentuk sudut pandang. Yang menyulap keremehan menjadi amat megah. Itulah mantra penulis. 

*untuk Kakak, demi Makasar International Writers Festival

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s