Aku tidak marah. Ingatlah aku tidak marah. Atas vonis pancungku atau atas aku yang menjadi terpidana. Aku hanya sedikit malu. Karena kabarnya seisi kota akan menonton pemancunganku. 

Mereka akan menikmati kematianku dibawah pancung. Mereka akan memotret. Menyoraki nafas terakhirku. Aku tak mengerti. Mengapa di sisa terakhirku, aku diharuskan menulis. Mereka bilang wasiat sebelum mati. Bapak kantor gubernuran mewajibkan ini.

Aku hanya akan menulis kalau begitu. Mereka bertanya: apa keinginanku sebelum pancung? Aku hanya ingin aku dipancung dalam ruang sepi dan tertutup sebenarnya. Tidak di lapang, tidak ditonton, tidak pula dipotret atau disoraki.

Aku malu juga takut. Aku ingin menikmati datangnya kematian dalam diam dalam sendiri. Dalam tidak riuh tidak sorai. 

Aku ingin masih memberikan kudang sembari menyanyikan kidung tak lelo ledung– pada bayi kotorku. Yang baru kugali dari kubur tanah. Yang baru saja kuselamatkan kembali. 

Aku masih ingin merengek pada Embah meminta jenang dan jadah sepulangnya Ia pasar menjual stagen. 

Aku masih ingin mengintipi Lantip dari jauh, berkeringat yang kepanasan di lapang sembari angon-angon. 

Aku masih ingin bercanda dengan Pilus. Anak kambingku. Yang kakinya pejok sebelah. Yang matanya pece sebelah. Yang cacat tapi mengembik begitu merdu. 

Aku tidak marah. Aku tidak murka. Aku hanya bersedih hati dan malu muka. Mengapa kematianku dirayakan seperti hajat. Dan akan aku didandaninya seperti pengantin sunat.

Orang pasti akan menyiapkan jarik dan lurik terbaik menuju lapang menyaksikan pancungku. Orang pasti akan bekal beberapa sen. Untuk membelinya kedelai bulu rebus. Menonton pancung dengan khusyuk masyuk. 

Aku tidak marah. Percayalah. Aku hanya ingin mati sendiri. Ketika aku lahir juga sendiri. Tidak ditonton oleh orang-orang yang menganggap kematianku sebagai hajatan sunat. Tapi tidak juga mengulungi amplop dengan uang beberapa ketip.
Embah jika kau dapat ijin membaca ini oleh bapak kantor gubernuran: ada rahasia kecil. Aku menyimpan sedikit gambir yang kusembunyikan dari baki pinangmu. Aku membutuhkanya untuk membersihkan perutku dari darah jahat. Aku mencuri. Tak apa ya hukumanku mencuri digabung. Dengan pancunganku. Dan aku sudah terhukum sekarang. Maka ampuni aku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s