Banyak serial investigasi hukum atau buku-buku kriminologi mengisahkan: bahwa penjahat terkeji adalah dulunya seorang korban kejahatan terkeji yang paling menyedihkan. 

Awalnya kupikir selalu begitu. Mempelajari keadilan restoratif dulu selalu setidaknya mengantarkanku pada pemikiran: bersikap lunaklah terhadap penjahat, karena penjahat ini adalah dulunya seorang korban yang menyedihkan.

Awalnya kupikir begitu. Orang yang mampu berbuat jahat adalah orang yang selalu memiliki alasan. Mengapa ia pernah tega menusuk mencabik perut seseorang, karena isi perutnya dulu pernah dikeluarkan dan dikunyah-kunyah penjahat lain. 

Awalnya kupikir begitu. 

Kupikir dulu, seseorang mampu berbuat keji pada orang lain adalah semata-mata karena orang lain pernah berbuat kejahatan besar padanya. 

Dan setiap kejahatan selalu soal pembalasan. Lex talionis murni. Mata bayar mata. Gigi balas gigi. Jari balas jari.
Awalnya kupikir begitu.

Tapi tidak sampai hari ini. Pikiranku berbalik. Kebalikannya sangat banyak.
Selalu ada sisi yang tidak pernah mampu dirumuskan. Oleh teori manapun. Oleh kebiasaan manapun. Oleh kelaziman manapun. 

Hanya karena ada sebuah ‘biasanya orang begini’ bukan berarti ‘semua orang akan begini’. 

Ada satu sisi yang tidak pernah mampu dipotret oleh kelaziman dan dugaan umum. 
Hanya karena seseorang ditusuk berkali-kali, lalu ketika ada kasus penusukan, maka seluruh telunjuk menunjuk padanya. 

Bagaimana jika tidak? 
Bagaimana jiga orang yang ditusuk berkali-kali lebih memilih mengurung diri menyembuhkan luka sedikit-sedikit sendirian. 
Menghabiskan segala yang tersisa dalam ruang yang ia bangun sendiri. Perlahan-perlahan. Ia menghasilkan sebuah ruang. Tak luas memang. Bahkan tak cukup luas untuk telentang. 
Tapi dalam ruang itu ia menemukan penyembuhan. Menemukan dirinya sendiri. Ia hanya berdua. Benar-benar berdua. Ia memasrahkan ubun-ubunnya. Ia hanya memohon satu hal pada Teman satu ruangnya. Ia tidak pernah memohonkan pembalasan. Ia hanya memohon kebenaran atas dirinya sendiri. 
Tidak membalas atas kejadian besar yang mengubah hidupnya sama mungkinnya dengan kemampuan orang berbuat keji tanpa alasan. 
Kupikir semakin aku mendekati aku yang semakin kini, aku melihat kelaziman yang diukur dengan ‘biasanya’ mulai pelan-pelan tidak terlihat. Setidaknya pada diriku sendiri.
Tidak lagi yang biasanya memiliki hak untuk membalas akan membalas. Dari ketidaklaziman itulah aku yang memperkenalkan namaku sendiri: identitasku.

Advertisements

One thought on “Identitas Tidak Lazim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s