Dunia rasa adalah dunia jungkir balik. Mereka serba-serba terbalik-balik. 
Jungkir balik. 

Mengapa kita justru merasa pada gelombang otak tertinggi saat kepala kita merendah serendah tanah–bahkan lebih bawah dari kemaluan kita. 

Mengapa justru kita makin sempit ketika kita menahan kelapangan.

Mengapa justru kita makin kaya menerima ketika kita banyak sekali mengeluarkan.

Mengapa kita justru banyak sekali mendapat, ketika kita banyak sekali kehilangan. 

Mengapa kita justru banyak sekali menjadi makna, ketika kita banyak sekali sia-sia.

Kenapa maaf menjadi tak terhingga, ketika dendam seharusnya membakar menjadi habis.*

Kenapa justru kita menjadi sangat penuh ketika kita sudah habis mengeluarkan. 
Kenapa kita justru makin kuat ketika terluka sebanyaknya.

Manusia adalah tandu. Ia memikul. 
Manusia adalah pedati. Ia membawa beban. Diseret perlahan ia menurun lembah. 

Manusia adalah sebuah zirah. Keras dan tak bunyi ketika diketuk. Ia melindungi yang berdaging dan tak berdaging.**

Manusia adalah lakon. Dalam sebuah dunia. Yang jungkir balik. Yang terbalik-balik.

Manusia adalah penyerut pengasah; bagi manusia lainnya.***

Credit:

* : Moy

** dan *** : Vickey Dotulung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s