Kamu adalah bagian semesta. 

Sadari itu.

 
Itu yang selalu diingatkan Bu Atie padaku. Ibu menegaskan dengan berbagai cara. Katanya: salah satu cara aku menyadari menjadi bagian semesta adalah dengan bergaul, menyapa, dan sebanyaknya berbuat baik pada sebanyaknya orang–sekecil apapun kebaikan itu.

Aku lalu teringat pada guru favoritku yang teramat murah hati: Pak Suadamara Ananda. Kata bapak, beliau tidak memiliki ruangan kerja di kampus. 
“Semesta rayalah kantor saya”
“Saya bukan guru, sayalah murid. Kalianlah guru saya, sekaligus mata kuliah bagi saya”

Aku selalu berkata pada Pak Suadamara: 

“Bapak kayak Socrates ih”

Disamping brewoknya dan muka bijak yang dipenuhi rambut putih, beliau sering berkeliling menyapa kami siapapun yang sedang menunggu kuliah. Lalu bertanya. Membuat kami bingung. Dan menjadikan kami mendapat pembelajaran. 

Pernah Pak Suadamara marah di kelas. Mungkin bagi kita soal sepele: anak-anak mahasiswa menempati kursi di kelas untuk teman-temannya dengan menaruh buku, tas, tempat pensil, botol, atau apa saja diatas meja kursi untuk menandai tempat itu ‘sudah terisi’

Alhasil orang-orang yang telah datang duluan sering tidak mendapat tempat. Dan hal itu membuat Pak Suadamara bergetar karena bersedih. Beliau hampir marah. Katanya betapa curang manusia. 
Kalian mahasiswa, tidak memiliki empati. Menutup diri dari kesempatan bergaul dengan orang baru. Menginjak-injak usaha orang yang datang lebih pagi. 

Kata beliau, hal yang paling dekat yang mampu menjadikan manusia menjadi seorang manusia adalah: get along with people. 


Bapak benar. Bu Atie benar. Bukan karena semata-mata mereka berkapasitas memberi tahu maka mereka benar. Mereka memang benar karena benar. 

Beberapa waktu kebelakang, Moy mengunjungi pesantren dan menceritakan perbincangannya dengan Pak Kyai disana. Soal maaf. Ngapura. Hampura. Satu pertanyaan besarnya (dan aku) : seberapa batas manusia harusnya memaafkan manusia lainnya? 

Nah jawaban kyai: karena kita hanya manusia, dan bukan Tuhan. Jadi maaf kita tak terhingga. Maaf kita tak terhingga, karena tidak tahu rencana Tuhan atasnya

Tanpa batas. Manusia harus tanpa batas memaafkan. Karena manusia adalah pusatnya ketidaktahuan. Manusia tidak tahu apa yang terjadi dengan yang tidak diketahuinya.

Aku lalu teringat, bagaimana kalau kita tidak bisa menjangkau orang yang kita pernah berbuat salah padanya, dan tidak tau bagaimana cara meminta maaf padanya? 

Pernah Bu Atie bilang pada Miko yang kucuri pendam menjadi pelajaran: kita adalah bagian semesta. Kalau kamu kebingungan atau hal yang ingin kamu jangkau terlalu jauh, semesta yang akan menyampaikannya. Semesta memiliki sistem yang teramat hebat dan sempurna. 

Kamu bingung caranya meminta maaf pada orang yang kamu tak sadari berbuat salah padanya? Bercengkramalah dengan sebanyaknya orang. Berbaik hatilah pada sebanyaknya orang. 

Untuk Miko, yang sedang bekerja keras memperbaiki sistem. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s