tak lelo lelo lelo ledung

cup menenga aja pijer nangis

anakku sing ayu rupane

nek nangis ndak ilang ayune

tak gadang bisa urip mulyo

dadiyo wanito utomo

ngluhurke asmane wong tua

dadiyo pendekaring bangsa

cup menenga anakku

kae bulane ndadari

kaya butho ngegilani

Lagi nggoleki cah nangis

tak lelo lelo lelo ledung

cup menenga anakku cah ayu

tak emban slendang batik kawung

yen nangis mundak ibu bingung

tak lelo lelo ledung


Setiap yang ada alam adalah selalu seorang ibu. Setidaknya seperti ibu. Atau seharusnya berbelas kasih seperti ibu. 
Selagu pendek. Sebait sederhana. Membungkus sifat ibu. Yang belas-belas kasihnya.


Tak lelo lelo ledung. Cep menengo. Ojo pijer nangis.


Alam. Sistem ini. Tak selalu melulu ibu: adalah pengkudang. Pengais-ais. Tidak selalu dengan jarik kawung.

Lagu itu tidak pernah saya ketahui siapa yang menciptakan. Entah berasal darimana. Entah siapa yang menyanyikan pertama kali. Saya hanya tahu, tak lelo ledung dinyanyikan oleh seorang yang menggendong bayi, dengan jarik batik merah. Yang mengayun-ayun. Yang menepuk-nepuk bokong bayi.

Kenyataanya: sekarang pun, saya masih bisa menangis bertambah keras lalu tenang dan tertidur setelah mendengar gumaman itu. 

Meski saya bukan lagi bayi. Meski saya tidak lagi diayun-ayun. 

Lebih luas daripada itu. Tak lelo ledung bukan hanya sebatas nina bobo atau lullaby atau parendean versi jawa. Tak lelo ledung merupakan doa. Bisa juga bengbeurah manah. Yang menangis bukan lagi hanya sebayi kecil. Yang masih bisa digendong sejarik batik. Yang Ditepuk-tepuk bokong gemuknya.  

Masyarakat Jawa, adalah masyarakat yang penuh perhitungan. Selalu dengan riset. Sebagian besar hasil budayanya adalah akulturasi. Bagaimana agar supaya: masyarakat tidak kebingungan dengan filosofi Islam tanpa kehilangan kejawaan yang mereka kenal dengan dekat. Bahkan dalam sebuah lagu kudang-kudang. Lagu tak lelo ledung; setidaknya melalui tiga zaman hidup manusia: menangis karena cengeng ketika digendong–tidak ada yang bisa dilakukan selain menangis, menjadi manusia utama–atas doa pengemban bayi, dan keharusan kembali pada asal. 


Interpretasi lain, bagi saya: bahwa manusia kerap menangis karena penyesalan. Dan semesta–sebagai bala tentara Gusti Pangeran mengkudang manusia: untuk berhenti menangis, cep ojo pijer nangis–menyesali dan berserahlah. 

Tak lelo ledung bisa merupakan petikan kecil dari kitab petunjuk. Yang suci. Yang benar. Yang unsur-unsurnya mencakup banyak.


Dalam Al Quran: unsur terbesar adalah kasih. Kudang-kudang jiwa. Menenangkan bagi yang bersedih hati. Menyesal hatinya. Tujuan terbesar mengapa kita hidup. Juga; peringatan bagi yang salah jalannya. Lalu tentu saja; ajakan kembali pada asal muasal.


Tak lelo ledung pun nyaris sama: kasih pengemban kasih penggendong. Doa hidup mulia. Sebagai manusia utama. Menakut-nakuti si bayi dengan butho yang mencari anak cengeng. Peringatan agar tidak menangis. Tidak kemudian tersesat. Dan yang terutama: batik kawung–sebuah identitas. Pengingat kembali ke asal. Selalu ada tempat kembali.

Batik Kawung
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s