Kamu memberiku uang kecil. Beberapa belas lembar saja. Supaya aku tidak terlalu bosan. Kamu menyuruhku menjajankan uang itu. Membeli beberapa bungkus cemilan apa saja yang kusukai. Pada Emak pembawa tenggok di samping kiri keluar gedung ini. 

Kamu masih merokok. Rokok matahari. Yang isinya 16. Itu yang membuatku makin jenuh menunggu. Karena gedung teater yang gelap semakin pengap. Nafasku makin putus-putus karena sesak. Kamu berkasihan. Membujuk-bujuk banyak. Aku semakin cemberut. Kamu makin bingung. Aktor-aktormu menunggumu.

Hanya uang kecil dan iming-iming dagangan Emak pemilik tenggok di samping kiri pintu keluar yang membuatku masih sanggup girang dan memeluk pundakmu.

Aku memilih-milih. Duduk di tangga turun. Sebelah kiri pintu keluar. Tenggoknya sudah kujelajahi. Aku duduk sambil mengunyah. Bekal receh darimu yang belasan lembar sudah makin habis. Kujajankan cepat-cepat. Getuk, cenil, lobi-lobi, oyek kelapa. Lumpia bengkuang dengan kucai satu batang. Lepeut dan gehu. Bolu lapis malang. Singkong parut kusisihkan untukmu. Kesukaanmu. Sebagai oleh-oleh dan bentuk terima kasih karena bekal uang jajanmu. 

“Hujan, Mas.”

Ketika kamu meneleponku menyuruhku masuk. Kamu mendengar suara hujan. Menyuruhku lekas masuk kembali ke dalam gedung. Kamu takut aku kebasahan. Aku suka berbasah-basahan. 

Melihat titik-titik air berlomba terjun. Siapa cepat menyentuh tanah, siapa pula yang paling cepat menumbuhkan.
Kamu kesal dan geram. Menyusulku kamu keluar. Membawakan sweater kumalku. Yang hangat. Yang aku sukai. Bertuliskan: Tanah dewa di negeri Sunda University. 

Membawa payungmu. Apel silver dan putih.

 

“Neng, masuk! Hujan!”

Nadamu sedikit mengancam. Kalau-kalau aku membandel. Aku hanya tertawa-tawa tidak henti mengunyah. 
Kamu melotot. Tapi pandanganmu menajam ke arah lain. Kamu menuruni tangga. Kamu, melihat ke satu arah. Seorang berpayung. Kamu memandanginya lama. 

Kembali padaku kamu berjalan. Dan membujuk.

“Ayo dong masuk. Hujan. Pakai sweternya. Kita main di dalam sambil latihan.”

Aku cemberut. 

“Di dalam pengap. Gelap. Banyak rokok. Aku mau jadi aktris juga. Tapi kamu gak sediakan aku peran!!”

“Tapi kan kamu tau pemerannya semua lelaki. Gimana caranya kamu bisa aku samarkan jadi laki-laki. Bokong dan payudaramu terlalu menonjol. Dibebat sebagaimanapun gak bisa disembunyikan. Temani aku saja sudah.”

“Aku ingin bermain.”

Makin cemberutnya aku. Tapi makin melirih suaraku. 

“Yaudah. Ayo main. Tapi jangan protes dengan perannya. Yang penting kamu gak main diluar gedung sendiri. Ada orang jahat.”

“Haaaa? Beneeer? Aku jadi apaaaaaa? Peran aku apaaaaa? Skenarionya apaaaa?” 

“Cukup berbaring. Kamu jadi sarkofagus Maria Magdalena.”

“Kok kesel mas!!!!!!”

Dia menggandengku masuk. Didudukkannya di kursi kebesarannya. Dan membagi sampeu parutnya. Dan kembali berbohong. Tidak juga aku diberikan peran. Bahkan hanya untuk menjadi sarkofagus.

–Rumentang Siang, ba’da Jumat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s