“Ah! Di rumah banyak. Ngapain jajan begitu pas lagi maen. Mahal pula lagi.”

Begitu gerutuku padanya.

“Aku ingin makan yang lucu-lucu. Yang tidak bisa kubuat sendiri. Indomie doang mah banyak dirumah ibu sediain.”

Tapi lalu kamu bergumam. Sambil menghisap mataharimu. 

“gak ada orang yang bisa menolak indomie. Arep sak larang opo yo tetep dituku”

Aku membalas gumamannya dengan sedikit malu
“yaaa, iya sih..”

—-
Indomie adalah produk magis. Memiliki keterikatan religio magis orang Indonesia. Yang menjadikan merasa terikat secara komunal.

Ada banyak kerinduan orang Indonesia dimanapun, dapat ditawarkan setidaknya secara temporal oleh Indomie. 

Terima kasih Om Liem. Ini yang kerap aku dan teman-temanku ucapkan ketika kelaparan, hujan, dan menyusup kuah Indomie Ayam Bawang. Ini mungkin warisan terbesar yang diberikan oleh seorang pedagang pada bangsa ini. Jika pedagang lain berjualan, kemudian laris, kemudian keuntungan hanya miliknya seorang. Tapi Indomie, menghidupi banyak sekali orang. 

Ini bukan tulisan bersponsor atau berbayar. Hanya sebuah pemikiran sederhana. 

Betapa Indomie, sudah membantu menghidupi orang banyak tanpa harus mempekerjakan. 

Indomie adalah ikatan. Makanan yang dilematis. Betapa banyak orang akan mengorbankan dietnya, alerginya, atau janjinya; demi Indomie. 

Indomie mungkin adalah satu-satunya produk instan dengan loyalis terbesar di dunia, setidaknya di Indonesia. Hal ini menyebabkan Indomie bisa menghidupi jutaan orang tanpa perlu mempekerjakannya.

Sejak dulu, warkop dan burjo dan Indomie adalah seperti tritunggal. Indomie adalah mungkin satu-satunya produk instan yang paling banyak dibeli dalam bentuk matang di luar rumah, dengan sajian yang sama persis bisa kita buat sendiri di rumah.
Dan kita membayar dengan harga ddua, tiga, hingga tiga puluh kali lipat.  
Indomie di warkop, entah kenapa memiliki ciri khas. Dan kadang sulit diikuti dengan cara memasak sendiri di rumah.

Tekstur mie yang masih jelas bergelombang membentuk papan. Dengan irisan sawi hijau. Dan telor yang ikut diceplok dalam rebusan mie. Bumbu yang mengendap di bawah mangkok. Mangkok yang digunakan pun hampir seragam: mangkok dengan cap merk penyedap rasa.

Foto: dapet googling. Pas makan gak sempet foto. Laper 😆

Sekarang marak bermunculan warkop versi mewah. Apa yang mereka jual? Indomie. 

Ada yang sajiannya sesuai gambar bungkus, ada yang memakai keju, ada yang memakai susu, atau cakalang. Atau atau atau banyak sekali. Barusan sekali, ada menu Indomie goreng dengan dua iris ayam sebesar bola beklen dan satu telur ayam ceplok seharga: dua puluh enam ribu. Dan laku. Dan laris. 

Terlepas dari itu, Indomie sekarang sudah makin naik kelas. Dijual dengan harga bisa nyaris empat puluh ribu. Dalam ruangan serupa coffee shop mewah. Berpendingin ruangan. Berpajak mahal. Padahal satu bungkus mie bisa kita beli tak sampai tiga ribu rupiah. 

Kegaiban rasa Indomie yang terlampau memikat loyalis yang konsumennya hampir dari seluruh dunia; tidak dapat terjelaskan. 

Indomie menjadi makanan untuk bertahan hidup yang paling utama. Kadang pengobat hilangnya selera makan. Atau hadiah terhadap diri sendiri karena kita melewati hal yang cukup sulit hari itu. Menjadi comfort food

Kita sudah tau persis rasanya. Kita mengenali. Tapi ketika disajikan kita akan menyendok sedikit kuah dan meniup, dan menyusup pelan. Setelahnya akan berucap ‘Aaaaaahhh’ sambil mata tertutup.

Indomie. Mungkin sekarang sudah bukan lagi hanya sebatas barang dagangan toko Om Liem yang sukses laris dijual. Lebih dari itu, Indomie adalah ikatan. Representasi Indonesia, secara keIndonesiaan. 

Tadi sempet bertanya-tanya, kira-kira Jokowi suka makan Indomie gak ya? Ya makan lah pasti! Orang Indonesia kok.
Kalo Raja Salman? Kayaknya yo makan juga. Wong Indomie sampek Arab.

—-
“jadi mau makan Indomie di burjo apa mau makan unyu-unyu ra marai kenyang? Makin deres”

Aku cekikikan. 

“Burjo aja yok. Hujaaaaaan. Kita makan Indomie pake cengek sama minum STMJ”

“Aku jamin, makanan unyu yang karepmu tadi gak bikin nikmat. Biki. Nggrundel doang”


Oh iya Om Liem, atas jasamu melahirkan Indomie, aku dan semua temen-temenku mengucap: makasih ya om warisannyaaaaaaaa! Bilangin ke bagian produksi. Keping Indomienya jangan makin dikurusin. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s