Aku lagi-lagi rindu. Padamu lagi-lagi aku rindu.

Pada ayam bakar jepit bambu. Pada direktur kitchen cabinet-mu Pada kayuhan sepedamu. 

Pada dirimu yang seorang guru dan priyayi. Pada dirimu yang profesor tukang maknyus

Aku merindukanmu. Padahal ketika aku baru mampu berpikir, engkau sudah tidak ada lagi. 

Engkau meninggalkan romantisme, Pak Ageng. Aku adalah seorang anak, yang sejak dulu awal mula aku mengenal internet dan google dan kata kunci, pada sore yang seperti ini, aku terkadang memasukkan namamu. Pada kotak pencari. Hanya supaya dapat mereka memunculkan gambar potretmu. 

Berkacamata, berjanggut gemuk. Atau melihat tulisan-tulisan dan foto-foto yang mengungkapkan betapa mereka rindu padamu. Betapa tulisanmu merubah banyak sekali sudut pandang. 

Entah bersyukur, entah terperangah, entah makin cinta pada identitasnya. 
Aku sudah jatuh cinta padamu sejak aku anak-anak. Sejak aku belum tahu siapa dirimu. Aku hanya tahu engkau adalah Pak Ageng. Yang suka makan, jajan, mencicipi, misuh, dan naik pesawat. 

Ada memori terpanggil. Hanya dengan melihat sampul bukumu diunggah orang lain. Seolah kita pernah berbagi sate usus atau sambel brambang dalam meja dan waktu yang sama. 

Aku mencintai Jawa karenamu dan bapakku.

Aku tumbuh menjadi anak dan remaja yang banyak bertanya. Banyak membantah, semata-mata karena aku belajar melihat sesuatu dari sudut pandang yang kadang tidak semestinya didiktekan orang lain padaku. 

Karenamu. Karena kalian. 

Aku tumbuh menjadi wanita yang selalu mempertanyakan rasa. Mencintai ketukan-ketukan ritmis yang stagnan. Mendengar uyon-uyon dan gending keras-keras di pagi ketika Minggu saat srengenge baru mulai hangat. 

Orang akan mengira, engkau adalah komedian yang sedikit lebih pintar karena mampu menulis sketsa dan cerita. Mungkin benar sedikit. Kebanyakannya adalah engkau filsuf. Engkau seorang guru. Dan ayah bagi alam pikir pembacamu. Mengasuh. 

Sore ini lagi-lagi aku merindukanmu. Meski engkau bukan bapakku atau embahku. 

Aku merindukanmu. Pada aksaramu. Pada baitmu. Pada guyonanmu. Pada jeda-jeda pikiranmu. Pada kalimatmu. Pada nyawa yang kau hidupkan dalam tokoh dan sosokmu. 

Terima kasih sudah menetap. Sebagai ayah yang mengasuh pikiran kami. Meski dari dalam tanah kau sudah cukup sibuk menguping kekaguman kami anak-anak Indonesia.

Terima kasih, Pak Ageng. Terima kasih, Umar Kayam.

-sutradara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s