Aku seperti Mo Yan, MP. Memori terbesarku kudapat ketika aku masih sangat kecil. Atau mungkin karena kedewasaan aku dapat ketika aku kecil. 

Menstruasi pertamaku kudapat ketika kelas empat SD; ketika anak-anak seusiaku masih meminta diantarkan dan ditunggui ibunya ketika sekolah–yang mana hal seperti itu tak pernah kudapatkan. 

Sejak TK bahkan aku berangkat dan pulang berjalan sendiri, kadang ibuku menitipkan untuk berjalan bersama dengan Tante Susan, maminya Happy teman sekelasku di TK. 

Aku harus menjaga kakakku sejak aku bahkan belum dapat mengurus diriku. Menyuapi ketika aku sendiri masih disuapi.

Aku tidak pernah tahu apa itu Timezone ketika Putri, sahabat SD ku menceritakan itu berulang-ulang dan mengatakan ia bisa mendatangi Timezone dua hingga tiga kali seminggu. Aku hanya berpura-pura juga aku pernah pergi kesana. Dan ketika remaja aku memiliki banyak kesempatan mengunjungi Timezone: aku sudah kehilangan minatku sama sekali.

Masa kecilku, sudah kukatakan, berbeda denganmu dengan kalian, setidaknya sebagian besar kalian. Masa kecil kalian pasti penuh dengan barbie, robot, tamia, lego, tamagochi, gimbot, dan percayalah aku tak merasakan itu semua. Kalaupun punya, itu sudah bekas Naninunu, dan sebagian besar sudah rusak. 

Sejak aku usia 4 tahun, aku harus menjadi anak yang berbeda. Yang berpikir. Yang bertanggung jawab. Yang memilih. Dan semuanya menjadi datang lebih awal. Indikasi kedewasaan. 
Menstruasi, memilih agama, mengasuh, dan jatuh cinta.

Dulu sekali ketika kecil. Tinggiku masih selemari laci televisi ibuku. Aku selalu berdetak-detak malu sekali. Setiap dekat saat-saatnya kami bertemu, aku selalu melatih diriku. 

Aku berlatih berbicara bercakap-cakap. Supaya ketika saat kami bertemu, aku setidaknya memiliki cara untuk menyembunyikan kebodohanku. 

Aku berlatih berbicara pada papan setrika yang dilipat berdiri. Tingginya saat itu sepertimu seusianya. 
Aku merasa sangat jatuh cinta. Tapi bukan jatuh cinta yang serakah. Yang dia hanya boleh menjadi milikku. Dan aku miliknya. 

Perasaan itu tidak pernah hilang. Tidak pernah pula lebih besar dari ketika pertama kali muncul. Perasaan itu masih hadir, bahkan beriringan dengan jatuh cinta dan patah hati terbesar dalam hidupku pada pria lain. 

Tanggal ulang tahunnya kujadikan sandi teleponku. Pernah namanya kupajang menjadi status jaringan di handphone nokiaku. Kami tumbuh bersama. Kami berbalapan tumbuh. Mana pola pikir yang lebih cepat maju.

Tidak pernah pula aku menginginkannya. Tidak pernah aku berdoa menangis-nangis memohon dia menjadi milikku. Milik yang berarti kekasih penuh asmara. Tidak pernah sekalipun.

Kami makan bersama. Saat bersama selalu menjagaku. Menjemput, mengantar, memberitahu, memarahi, menemani, mengawal, menggandeng, meninabobokan. 
Kebon Karet. Kembali lagi padanya sebuah sore. Tidak lagi berdetak-detak. Tidak lagi bergetar-getar. Kelopak matanya masih genit. Dia masih memesan dua mangkuk. Lontong kari dan mie kari. 

Aku tidak pernah berhenti jatuh cinta pada kuah itu. 

Tidak pernah juga berhenti padanya. Pada kelakar. 

Ditangkapnya kemurunganku. Hingga aku selalu akan lupa. Setidaknya beberapa kali putaran Braga. Aku selalu kesulitan membuka pintu setelahnya. 

Aku seperti Umbu. Yang terkadang tidak ingin terdeteksi keberadaanya. Kesedihannya. Membagi sunyi pada nyawa risau. Kalau-kalau aku lupa kesedihanku sendiri. Oleh karenanya aku menulis. Kalau-kalau aku bertemu muka di jalan yang menikungku, dengan kesedihanku kebingunganku. Kemurunganku. 

Pergilah menjauh. Aku tidak diasuh siapapun. Tidak juga akan kembali pada kubang berak sapi.

Aku pasti akan kembali ketempatmu. Kalau-kalau aku membutuhkan lagi tempat seperti kemarin. Sekedar menghela napas. Sekedar duduk mendengarkan. Sekedar mengunyah sambil menikmati kesedihan. Aku sudah tau kuncinya. 

Aku akan seperti selaput lumut. Yang mengambang. Yang tidak melawan. Yang tidak berontak. Yang tidak berkhianat. Yang jujur pada penerimaan tidak menerima. 

Apa yang berat dari ini? Aku melewati nyeri menstruasi disaat anak seusiaku masih meminta gendong. Aku memilih jalan dunia akhiratku ketika anak-anak seusiaku memilih warna sepatu lampu untuk dipakai kelas PAUD keesokan Seninnya. 

Apa yang berat dari ini kalau aku memilikiNya dan memilikimu sejak dulu sampai nanti kemudian. 

Sampai aku sudah dapat bangun kembali, mari kunjungi Cigrok. Mari kunjungi Selopanggung. Mari kunjungi Awipari. 

Mari kunjungi Gandri–memaknai dan mengakrabi mati. Mati yang lebih dekat nadi. Yang lebih dekat dari kesedihan dan kegelisahan. 
Tunggulah di mobil. Dan pasang saluran yang memasang disko di radiomu. Agar tak menular ketakutan jika kau tak mau. 

‘Akan hujan. Nanti akan aku susul ke Gubernuran. Tunggu disana dan jangan murung. Jangan bersedih hati. Dunia mencintaimu begitu banyak. Akan aku bawakan roti serikaya supaya kamu dapat menjerit gembira kembali.’

Pergilah menjauh. Kelopak matamu mulai sayu. Tertawalah atas apapun. Tapi jangan berani-berani kamu tertawakan dirimu sendiri. You matter. 

-73OttoIskandarDinata

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s