Aku sudah menemukan! Siapa dan berapa orang saja yang akan menangis tersedu-sedu, kalau-kalau aku tiba-tiba menghilang pergi entah tidak tahu kemana dimana. 

Atau siapa saja yang menangis ketika mendengar namaku diumumkan melalui toa masjid keras-keras pada suatu sore atau dekat pagi. 

Mereka akan menangis. Aku yakin begitu. Baik diam atau berteriak. Marah atau ikhlas. Bingung atau lemas terduduk. Mereka akan menangis. Kalau mereka mendapatiku tertidur tertutup kain. Mereka akan menangis. 

Karena selama ini setiap hari merekalah yang membuatku merasa beruntung dan berharga. Setiap mereka memiliki kesempatan mengucapkan sesederhana, ‘i love you yaso’ ‘ya Allah aku sayang banget sama yaso’ ‘i do love you neng’ ‘bahagia ya nengaco sayang, aku sayang aco’ dan banyak dan banyak.

Kupikir awalnya itu hanya satu kebetulan dari satu yang menyayangiku. Setelah kuhitung ada dua berikutnya, tiga, empat, delapan, sembilan, puluh, puluh. Banyak. Mereka semua mencintaiku. 
Setiap mereka mengirimiku pesan tak pernah lupa menyisipkan ‘aku sayang yaso’. Atau jika tidak bisa mereka ucapkan yang seperti itu, akan mereka tetap mengucapkannya dengan sekadar ‘how’s my little sister’s life?’. 

Itu yang meyakinkanku mereka akan menangis. Atas kematianku atau kepergianku yang mungkin hanya beberapa saat ke luar kota atau pulau atau negara.

Tapi yang terdekat adalah kematianku. Lebih dekat dari rencanaku nanti mencari wedang ronde dini hari. 

Mereka akan menangis. Ketika mendapati aku tidak lagi membalas pesan mereka setiap kali mereka mencari. 

Mereka sungguh baik. Tidak pernah mereka mencariku untuk meminta atau kala membutuhkan sesuatu. Itu bukan hanya sekadar aku memang tidak memiliki apa yang bisa mereka cari, jika aku memilikinya, mereka akan mencariku karena mereka mencintaiku. 

Aku meyakini itu. Karena cinta mereka bukan asmara yang bisa saja penuh muslihat. Tidak yang seperti itu. Mereka tidak memiliki alasan sedikitpun untuk membantuku apalagi menipuku dengan muslihat. 

Betapa kalian yang membaca ini, aku berharap kalian akan memiliki orang-orang seperti mereka di hidup kalian. 

Mereka yang akan menangis di pemakamanmu dan pernikahanmu. Di ulang tahunmu dan kelulusanmu. 

Tidak ada yang salah dengan tangisan pada momen kebahagiaan–karena orang dengan hati keras tak akan mampu untuk itu.

Aku hanya akan malu masih menangisi apa yang sudah seharusnya tidak lagi terpikirkan olehku.

Aku akan berhenti mencuri, karena aku tahu persis rasanya berkali-kali dipaksa mengaku menjadi pencuri. Lalu akulah yang dicuri.

Aku tidak ikhlas. Demi apapun, demi Tuhanku aku belum ikhlas. 
Mungkin akan. Mungkin tidak akan pernah.

Maka karenanya aku akan menjauhi kecurangan, bukan karena semata-mata aku dicurangi, tapi aku menginginkan kesembuhan bagiku sendiri. 

Aku tidak pernah tau dia akan menjadi bagian dari mereka yang menangisi kematianku dengan cara benar. Jika ya, aku memilih tidak tahu. 

Jika kematian adalah boleh menjadi sebuah perayaan: aku akan dengan senang hati memilih undangan. Siapa saja yang mengantar keberangkatanku. Mereka sebenarnya harus lebih gembira lebih-lebih dibanding mengantar keberangkatan haji. 

Bukan menangis karena perihal yang sudah jelas mereka tahu kepastian dan kedekatannya. 

Aku akan menawari kalian banyak-banyak air, kalau-kalau sudah tiba pemakamanku, aku tidak mau gentong padasan masih penuh belum sempat kupakai membasuh, kupakai bersuci. 

Aku akan tau kalian akan menangis. Bukan karena itu adalah ritual wajib kematian–tapi karena tidak ada hati akan terdiam dan mampu bersenang-senang melihat manusia yang dicintainya perlahan membusuk tidak bisa lagi dipanggil ditemui. 

Meski manusia tahu: kematianlah yang paling dekat. Lebih dekat daripada kakus. Lebih dekat daripada selimut yang menempel pada manusia berkemul.

Advertisements

One thought on “Mereka Akan Menangis

  1. kepada kamu yang berpikir tentang kematian karena kamu menikmati nafas, keberadaan kasih dan berpikir dengan segenap rendah-hatimu.

    kepada kamu yang dikelilingi berbagai energi semesta yang selalu kau pertanyakan melalui pohon pertanyaan yang selalu tumbuh di benakmu

    kepada kamu yang penuh rasa cinta dan kasih, yang dikuatkan oleh rasa perih dan air mata, yang tak pernah terlewat ditampar realita, yang terbentuk dari daging dan belulang, yang dikaruniai kesabaran terbatas dan rasa yang tak pernah ada habisnya…

    padamu, semesta akan berkompromi selalu hingga masamu (yang mana hanya tuhanmu yang tahu tentang itu).

    bahagiakanlah kau dan dirimu banyak-banyak, karena jika tiba waktumu, senandung ceriamu akan terus menerangi mereka yang terlelap dalam kelam.

    ❤ u, yaso..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s