Dalam sebuah surat untuk teman sekaligus musuh Jermannya, Albert Camus menyatakan bahwa ia–dan bangsanya; entah yang dimaksudnya sebagai bangsa adalah Perancis atau Aljazair– bahwa ia terkadang merasa malu. Bahwa malu karena ia dan mereka terlampau sering menggunakan akal, menggunakan pertimbangan akal yang sehat, yang seharusnya. Bahkan terjadang pula, ia dan mereka pernah sekali waktu rindu untuk menjadi bar-bar, tidak beradab: hanya agar dapat memperoleh kebenaran tanpa perlu melalui kesulitan. 

Tapi apa itu kebenaran? Sebuah perihal sudut pandang atau ukuran mutlak? 

Apakah kesetiaan itu benar? Atau bodoh? 

Aku tidak pernah–setidaknya sampai hari ini aku menulis ini, entah jika besok kemudian– melihat sebuah kesetiaan yang mengagumkan sekaligus mengesalkan dan membuatku geram. 

Hiroo Onoda…

Hiroo Onoda

 Ketika aku pertama kali mengenalnya melalui kisah dan tulisan, aku geram. Padanya juga pada Albert Camus yang begitu gegabah dan percaya diri: bahwa semua kepala menggunakan akal sehat. 

Ternyata tidak. Bahkan untuk sesederhana perihal kesetiaan.

Hiroo Onoda adalah seorang perwira angkatan perang Jepang yang bertugas di Filipina. Aku tidak akan menceritakan latar belakang hidupnya, aku akan tetap memberikan kalian ruang untuk mencari. Aku hanya ingin menceritakan perihal lain yang ada di kepalaku perihal 29 tahun terpenting dan tersulit dalam hidup seorang Hiroo Onoda muda.

Hiroo Onoda mulai bertugas di Filipina, tepatnya di sebuah pulau kecil dan terpencil bernama Pulau Lubang. Onoda dan teman sepasukannya sampai dan mulai bertugas di Pulau Lubang sekitar Februari 1945. Bergerilya, dan bersumpah untuk tidak akan menyerah. 
Mereka berada di dalam jauh hutan pulau. 

Selama beberapa bulan, Onoda bersama bergerilya bersama tiga orang teman satu pasukannya.

Oktober 1945, mereka menemukan selebaran pamflet di sekitar Pulau Lubang yang menyatakan bahwa Jepang telah menyerah. 

The war ended on August 15. Come down from the mountain!”

Onoda dan tiga orang temannya tidak mempercayai selebaran itu, dan mengira bahwa selebaran itu adalah taktik sekutu untuk membuat pasukan Jepang keluar hutan dan menyerah. 

Selama beberapa tahun Onoda hidup bergerilya dengan tiga temannya. Satu persatu teman Onoda meninggal. Karena berbagai alasan. 

Tinggal Onoda dalam hutan Lubang sendirian. Selama beberapa tahun, belasan tahun, puluhan, dua puluh sembilan tahun. 

Dua puluh sembilan tahun. 29. Tahun. 
Ia hidup dalam hutan bersembunyi dari hal yang tidak ada. Setia pada hal yang entah apa.

Tahun 1974. Norio Suzuki, seorang turis dari Jepang terbang langsung menuju Lubang. Sembari berturis, sebenarnya ia diam-diam ingin mencari jejak Onoda yang dicari di negaranya. Yang menghilang tak pernah pulang.
Sesampainya di Lubang selang beberapa hari, Suzuki beruntung karena ia bertemu Onoda. Onoda masih hidup. Kebingungan dalam hutan. Tidak tahu bahwa bioskop dan mobil sudah ramai diluar hutan. 

Suzuki mengajak Onoda untuk kembali ke Jepang bersamanya. Pulang ke tanah lahirnya. 

Mengesalkannya–baru kali ini aku kesal pada sebuah kesetiaan; Onoda tidak mau. Karena dia merasa berada di Lubang dan bertahan puluhan tahun sendirian karena perintah, maka ia akan pulang pun setelah ada perintah dari komandannya. 

Suzuki pun kembali ke Jepang tanpa Onoda. Dan melaporkannya pada pemerintah Jepang. Komandan atasan Onoda datang kembali ke Lubang untuk memberikan perintah langsung dan pemberitahuan bahwa perang sudah selesai. Bahkan sudah lama. Sejak lama sekali. Sudah hampir 30 tahun. 

Onoda muda– sebenarnya aku tidak tau harus menyebutnya apa. Ada kegeraman sendiri yang membuatku gemas. Kenapa Ia tidak mau mempercayai selebaran. Atau setidaknya mengambil resiko keluar hutan, memangnya dia tidak bertanya-tanya, mengapa hutan medan peperangan begitu selalu sunyi selama berpuluh tahun? Mengapa hanya ia yang tersisa. 

Mungkin ada pertanyaan. Mungkin ada kecurigaan-kecurigaan. Mengapa tidak pernah sampai padanya perintah atau teguran selama bertugas. 

Mungkin ia bingung dan frustasi. Teman-teman satu perjuangannya satu persatu tewas. Dan menangis menguburkan jasad. Berduka sendiri. Menangis sendiri. Mengucapkan bela sungkawa untuk diri sendiri. 

Mungkin ada banyak sekali waktu ia habiskan waktu mencari daun dan rumput, dan memakannya sendiri semata-mata supaya ketika sewaktu-waktu ada perintah datang padanya, ia masih bisa cukup kuat membayar tugasnya.

Mungkin ia bertanya dalam hati mengapa selama dia dalam hutan Lubang, ada setidaknya 29 kali kembang api menyala-nyala ia lihat dari luar hutan di tengah peperangan.

Mungkin ia adalah satu-satunya, yang tercatat dan kita ketahui, sebagai orang yang setia menunggu. Berpuluh tahun. Dengan penderitaan yang tak pernah tercatat dan mampu dicatat; hanya untuk mungkin menerima perintah: bunuh dirimu sendiri! 

Pada akhirnya Onoda mungkin tidak berperang melawan apa-apa. Tidak juga menghadapi musuh yang mana-mana. Tapi bukankah yang paling berharga dari seorang prajurit– dan manusia, adalah kesetiaan? 

Meskipun kesetiaan kadang konyol. Membunuh hidup sendiri. Tapi apalagi yang dapat dibanggakan pada manusia selain kesetiaan dan memori baik? Daripada hidup gagah jaketnya khianat. 

Advertisements

3 thoughts on “Kisah Hiroo Onoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s