Perjalanan itu membawaku dalam sebuah pemandangan baru. Kalau-kalau tiba mati lampu, gerombolan pencari belut dan kodok akan meminjami sekedar sentir. 

——

Ada selalu suara ‘kukgeruuuu kukgeruu’ setiap aku melewati rumah Wo Sal. Ada suara gesrek gesrek menjereng dele di tampah menjadi menyebar. Untuk selanjutnya dipisah disiar dipetani dari sekedar kerikil batu atau bangkai kutu. 
Rumahnya selalu terbuka pintunya. Ada lincak yang anyaman bambunya sudah petal-petal sebagian. 

Suaminya belum pulang saat begini, karena dialah pimpinan regu bedil dara. Kadang juga sesekali menombak iwak kali. Di sana saat ini hanya suaminya yang masih bisa menangkap ikan dengan tombak seperti di film-film ketika shooting di Amazon. 
Wo Sal dulu seorang cantik. Gadis ranum. Istri yang bergembira atas pernikahan yang seminggu dirayakan pesta. Ibu baru yang selalu girang bermain boneka yang rewel menangis dan bisa mengompol. Yang pernah percaya pada dongeng. Pada kebanyakan katanya-katanya. Pada selimut yang kemudian mengantarkannya pada kegetiran seorang tua. Yang kelopak matanya menjadi kisut karena kebanyakan ia kucek menghilangkan iluh tangis. 

Suaminya seorang tua yang tegak. Tak banyak bicara. Uban rambutnya masih lamat-lamat. Tapi alisnya sudah putih semua. Seperti siluman mimpi yang menjadi musuh Sun Go Kong monyet nakal. Tatapannya tajam tapi teduh. Tidak kerempeng tidak juga busung buncit. Ia adalah tukang bedil yang selalu membawa apapun jika ia pergi berpamit pada Wo Sal untuk mencari lauk: kadang kelinci, kadang dara, kadang ayam yang kesasar masuk hutan. 

Suaminya hampir selalu benci jika Wo Sal memintanya membantu membuat tempe. Sekedar menginjak-injak tempe atau menebarkan ragi-ragi. Suaminya benci pada bau rebusan kedelai. 
Atau ketika Wo Sal kehabisan daun untuk membungkus tempenya. Suaminya tak hendak beranjak segeserpun untuk memetik daun di belakang rumah. Atau sekedar menemani Wo Sal dalam sebuah sripah untuk menunjukkan dia masih punya sekedar suami.

Setidaknya itu yang akan menambah kesendirian Wo Sal mengutuki selimut. 

Berbeda dengannya, suaminya justru berulang kali mencobai selimut sembari mendekatkan dirinya pada kurungan dengan lis bercat emas. Berkali-kali. Beribu-ribu kali. Sejak usianya masih sekitar tiga puluh setengah. Sampai sekarang sudah seorang tua tujuh puluh dua. 

Selalu begitu. Meski sudah sore hampir maghrib juga hujan. Meski kemudian selimutnya menjadi basah. Kusut gimbal. Seperti domba kehujanan. Rawing menggumpal-gumpal.

Konon ada katanya dekat rumah Wo Sal dulu ada seorang yang memegang ajian. Dukun dengan kemenyan. Rumbah namanya. Kalau-kalau ada suami tetangganya yang berselingkuh, dukun itu bisa menanam potongan besi beton di dalam perut penggoda. Lalu yang akan dimuntahkan adalah ulat bulu. Lengkap dengan bulu-bulunya. Jadi tenggorokan dan lidah seluruh mulutnya akan bentol-bentol tak mampu dia garuk. Si lelaki gatal tidak tertinggal, penisnya akan layu selama beberapa hari, lalu beberapa hari kemudian akan ngaceng mengeras tidak berhenti sambil menahan kencing yang tidak keluar beberapa hari. Semuanya akan terserah pada bini atau pada siapapun yang membayar. 

Dukun Rumbah tidak hanya bekerja membalaskan dendam dengan bayaran selipat dua lipat. Tapi Dukun Rumbah menjadi serupa dokter di kampung itu. Dokter binatang. Bukan dokter hewan–karena itu berbeda. Dia dokter binatang. Dengan tanda seru seperti ini: !

Dukun Rumbah pernah sekali waktu berhasil memindahkan kutil sebesar jambu dari muka Kopot si pemanjat kelapa kepada punggung kirik yang baru dua bulan dilahirkan induknya. Berita itu menyebar. Tentu saja pada tetangga terdekatnya yang sedang kapesan karena anaknya menggigil setiap hari enggan makan sudah tiga bulan.
Wo Sal menangis pada Dukun Rumbah kala itu. 
“Oh Rumbah, anakku mau mati. Bagaimana ini? Anakku mau mati.”
“Anakmu sakit parah Wo Sal, tidak dapatnya ia kembali sembuh lincah berlari-lari. Aku tidak dapat membuatnya sembuh”
“Cukup bikin ia tak mati saja Rumbah”

Maka setelahnya, Dukun Rumbah si dokter binatang memberi pada Wo Sal selembar selimut. Berbulu-bulu serabut. Tapi begitu halus seperti selimut tujuh puluh lima ribu. 
Perintahnya: selimutkan selimut ini pada anakmu, setiap kali ia menggigil. Dalam sebelas kali tidak akan pernah anakmu akan mati. Tidak akan mati. Ia akan berceloteh riang. Ia hanya tidak bisa berlari-lari. Tapi dia tidak akan mati. 
Dan setiap sebelas kali penyelimutan itu pulalah, si dokter binatang akan memunguti bayaran dengan baik-baik dan lemah lembut namun menyebalkan. Katanya pada Wo Sal ketika pertama kali dia meminta bayaran adalah, bahwa saat itu sedang musim mangga manalagi dan ia butuh vitamin alamiah yang agak mahal supaya kemampuannya dapat terpelihara. Supaya anak kecil Wo Sal tetap tidak mati.

Kala kedua, dukun Rumbah mengatakan ia perlu membeli sekotak VCD lengkap dengan pemutarnya. Sekarang ia membawa alasan psikologis. Bahwa jiwa yang terhibur akan lebih terampil menjampe-jampei nyawa agar tak mati. Setelahnya: dukun Rumbah membunyikan dangdut Terong Penyet dan Kucing Gatal tidak pernah berhenti. 

Sampai penyelimutan yang kesebelas, selalu saja ada yang diminta oleh dukun Rumbah. 

Rumbah muda sebenarnya cukup pintar, ia pernah beberapa kali ikut jadi asisten mantri suntik. Tapi sikap sundalnya beberapa kali membuat ia terpaksa diusir istri mantri yang mendapati Rumbah merampok badan mantri-mantri bodoh berkali-kali. Ia terkadang kemudian melakoni diri menjadi ledek ronggeng dengan tarian super wagu– yang utama bukan uang sebenarnya, tapi supaya bokongnya bisa gratis dijamah oleh laki-laki ngibing. Rumbah gatal. Mulutnya melebar dan dia akan makan apa saja jika dia gatal. Termasuk sampah dan ari-ari bayi yang baru ditanam. Mungkin dari sana dia mendapat kekuatan serupa dukun. Bisa menanam beton di perut, atau menumbuhkan paku payung di dalam gigi berlubang, atau pecahan piring sabun colek menancap di langit-langit mulut. Begitupun dia menjadi dokter binatang kampung itu. Atau bisa jadi kemampuan menyembuhkan dan membuat sakit orang lain itu didapat dari keturunan sihir moyangnya yang satu paket menurunkan bakat sundal dan pemerasnya. 

Penyelimutan kesebelas oleh Wo Sal dan suaminya pada bayi yang mengompol itu mengejutkan seluruh kampung termasuk dukun Rumbah. Selimut dukun Rumbah pada bayi Wo Sal mengubahnya menjadi seburung derkuku. 

Wo Sal pingsan. Suaminya sesak napas dan mengucek-ngucek matanya. Dukun Rumbah ketakutan. Sambil berlari dia memungut selimut yang serabut-serabutnya nyaris menggumpal seperti domba berkeringat kehujanan. Dia berlari ke arah pereng sungai, menyelimuti dirinya dan berubahlah dirinya menjadi seburung derkuku dewasa. Terbang. Kabur pergi kemana tidak tahu. Tertinggal selimut teronggok tanah.
Di rumah Wo Sal, masih banyak tetangga yang terkaget ikut bersedih, diselimutinya bayi itu yang sekarang serupa burung dengan serbet lorek dari dapur dekat termos nasi tanak. 
 Kukgeru kukgeru celoteh-celotehnya meminta jagung dan cacing. Dikandangkannya pada kuringan dengan lis bercat emas. 

Setidaknya dukun Rumbah tidak berdusta. Ia masih membuat si bayi mengompol tetap hidup tak mati kerempeng. 

Bayi kukgeru masih hidup, sampai pemilu ke empat puluh tujuh. 

-tyd, 317, moyudan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s