Enam tahun. Kalau ia serupa bayi, mungkin kini sekarang dia sudah centil kemayu berangkat sekolah esde dengan sepatu lampu pro ATT. Dengan menggendong tas gendong warna biru dengan gambar sablon dragon ball. Aku memilih dia anak perempuan saja. Sepertiku. Meski sedikit tomboy, aku memilih enam tahun ini sebagai anak perempuan tomboy dan centil dan sedikit kurang ajar. Supaya dia bisa melawan dan meludahi pada apapun yang patut atas itu. 

Kamu tahu, manusia perlu sedikit kekurangajaran untuk bertahan hidup.
Atau jika enam tahun ini adalah seorang anak esde, dia sudah kelas enam. Dia sedang pusing mengikuti les dan memilih SMP mana yang paling elit dan tidak memalukan. 
Atau jika enam tahun ini adalah seorang anak kelas satu SMP, ia sedang kebingungan sekarang: karena dia akan bingung kemana ia akan beruniversitas. 
Atau akan menikah dan menjadi nyonya muda sebuah kedai beras dan menjadi ABG kaya raya.

Lebih dari itu ternyata. Masing-masing kita mulai menua. Kamu lebih banyak. Aku hanya mendewasa. Sudah terlalu banyak menangis jika kita garis besarkan sebuah enam tahun, sampai jika dikumpulkan untuk diceritakan, kita akan bersuara serak seperti The Rollies. 

Suaramu masih seperti bencong rupanya ya. Sengau menyebalkan. Tidak berhentinya kamu tertawa. Girang seperti sedang ulang tahun. Aku senang ada yang kembali. Bagiku, dan mungkin manusia lain; selalu ada kelegaan untuk bersentuhan kembali dengan hal yang pernah dikenalnya. 

Kamu datang dengan berita mengejutkan. Juga soal perangko. Terperangah bodoh melihat wajah bulatku. Yang masih sama. Mempertanyakan luka Harry Potter di keningku– kamu mengira aku sudah operasi khusus berganti jidat.  

Kamu senang. Katamu begitu. Katamu kamu menemukan dirimu yang lain. Setelah sudah lama dia bersembunyi. Atau disembunyikan?

Ada banyak yang ingin aku ceritakan tapi aku memilih kamu untuk tetap mengenalku sebagai gadis remaja yang pertama kali kamu kenal. Yang banyak menjerit karena tertawa dan terlampau ceria dan tidak kenal apa itu duka cita. Aku bahkan tidak pernah lagi mengira akan bersentuhan lagi denganmu bahkan hidupmu. Aku tidak lagi mengingatmu. Tidak juga pernah kuceritakan pada siapapun. Karena kamu terlampau rahasia– terlampau unik dan satu-satunya; seperti katamu soalku. 

Hanya sesekali aku mengingatmu: aku membuka gambar kursi dan taplak sketsamu. Juga mozaik yang membuatku terlihat seolah-olah cantik. Itupun hanya sesekali dari sekian banyak saat yang teramat lama. 

Berbeda dengan kamu: matamu selalu bergerak mengikut kemanapun aku bergerak. Ke kiri kanan, atas bawah, berbelok berjingkrak, melompat dan membungkuk. Semua gerakanku kamu ikuti. Aku sebenarnya kesal, mengapa kamu hanya berani menjadi wasit di kejauhan dan tidak menemaniku di saat tersulit di hidupku kala itu. 

Kamu sesekali menjemputku di depan rektorat dan mengajakku makan siang. Kamu mengancam supaya aku sudah berada di depan rektorat supaya mobilmu tak perlu pusing memikirkan parkir. Lalu setelahnya kamu akan selalu memuji entah rambut atau kaos kumalku yang kupakai kuliah. Satu rahasia yang tidak pernah kamu tahu: setiap kamu akan menjemputku dan pergi makan kemana saja– aku akan lebih ceria dari biasanya dan aku akan membawa sebungkus penuh gulali kacang dengan batang bambu dan kubagi-bagikan pada siapapun teman yang kutemui di fakultasku. Aku akan naik turun naik turun naik turun tangga membagikan itu karena senang. Karena kamu menjemputku. Dan aku teramat gembira karena itu. 

Kamu adalah Farel yang selalu aku protes karena kamu selalu memakai kaos hitam sedangkan Farel seharusnya memakai kemeja garis berdasi. Aku benci mendapati kenyataan Farel adalah pria menyebalkan dengan kaos dan tawa yang girang setiap berbincang denganku– bukan laki-laki dengan imej terjaga wibawanya penuh dan utuh. Dan satu sore aku teramat gembira karena kamu memakai kemeja untukku. Demi aku tidak mengoceh. Meski pada meeting sepenting apapun kamu akan tetap memakai kaos hadiah. Menyebalkan. 

Kamu tahu? Aku sedikit terkejut kamu menyimpan setiap memori soal kamu dan aku. Sekecil apapun. Setiap yang kuucapkan dan setiap yang tidak pernah bisa akan aku ingat. Aku masih tertawa cekikikan sendiri sejak kamu tadi mengingatkan soal aku yang bertanya apakah aku boleh minum susu ultra di dalam angkot– kamu menghentikan presentasi pentingmu dan keluar ruangan untuk mengangkat telpon dengan pertanyaan bodoh macam itu 😂

Dari semuanya, yang terpenting adalah aku merindukanmu ternyata. Aku menyadarinya sampai suara pertama kamu memanggil namaku tadi. Aku merindukanmu dan tak pernah menyadarinya. 

Terima kasih sudah kembali, meski kamu sebenarnya tidak pernah benar-benar pergi. 

Dear, Farel TSA. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s