Sebenernya udah lama banget gak review buku–karena udah lama gak ada uang sisa buat jajan buku. Dan mungkin ini adalah buku orang Indonesia pertama yang akan aku review. 

Satu bab pertama baca: mata melotot, geleng-geleng. Wow! 

Biasanya aku baca ini dalam keadaan semua orang udah tidur. Baca di sofa sambil minum susu ultra dingin. Dan perjalanan akan dimulai dari situ. 

Seorang penulis besar entah lupa, pernah bilang: buku terbaik adalah buku yang membuatmu lupa sedang membacanya. 
Dan Lelaki Harimau ini adalah tipe buku yang gaya tuturnya secara personal cocok banget. Itu hal pertama yang jadi koneksi besar. 

Bahasanya yang serampangan cerdas, tapi tidak murahan. Dan aspek besar yang menjadi koneksi bagi aku adalah ambangan cerita buku ini sangat surealis. Kelam. Tapi wajar. Bisa jadi benar-benar ada. 

Sebuah village tragedy yang tidak melibatkan banyak tokoh. Eka Kurniawan menjadikan setiap tokoh dalam buku ini matter. Memiliki arti. Memiliki porsi cerita. Sampai kita pembaca kebingungan menentukan mana tokoh utama. Setiap tokoh dibukakan pada pembaca masing-masing dua sisi. Sehingga tidak lagi mudah kita gariskan: mana antagonis mana protagonis. Semua serba lamat-lamat. 

Karena manusia selalu mempunyai sisi pojoknya sendiri: tempat dimana ia mengasah dan berdiam diri– mengamini keberlanjutan kebaikan dan menyesali dan berharap kesudahan keburukan. 

Margio bocah yang tumbuh menjadi laki-laki penggiring babi yang pendendam tapi menyimpankan sekam luka yang ia lihat sejak kecil: perihal tangan galak ayahnya dan mulut busuk ibunya. Pada akhirnya dia akan memilih menjatuhkan vonis hukuman pada Komar bin Sueb ayahnya. Kegilaan ibunya menyelamatkan dari palu hakim seorang anak. 

Atau Anwar Sadat, pemilik selangkangan gatal yang juga seniman penjiplak, yang dibunuh dan darahnya mancur. Merenungi kesedihan diabaikan putri bungsunya. Adakah ia salah dan menerima tulah sebagai ayah? 

Atau Komar bin Sueb yang sehabis menendang dan memukul dan membenturkan kepala ibu Margio ke leher kursi– berlari ke kios cukurnya, dan menangis seperti bayi haus. Menyesali tapi juga tidak pernah sanggup mendengar mulut istrinya yang ajur mengatainya. 

Kalimat pertama membuatku menyangka ini adalah buku tebak-tebakan mencari terpidana. Tapi salah besar. Bukan juga soal pembunuhan yang agak nyentrik. Bukan itu sama sekali. Ini adalah tragedi pedesaan. Yang gelap yang kelam. Yang membuatmu ingin mengintip dengan dekat, tapi sekaligus ingin berjarak sejauh mungkin karena energi kelamnya bisa membuatmu merasa turut bersedih. Dan berandai-andai. 

Eka Kurniawan tidak mendikte. Tidak memanjakan. Tidak memerintah kita mencintai atau geram meludahi mana tokoh yang ia pilih akan diapakan. Kitalah yang berkuasa penuh. 

Eka Kurniawan menunaikan tugas yang diberikan Roland Barthes: penulis sudah mati seketika pembaca membaca kata pertama sebuah tulisan– interpretasi sepenuhnya milik hak pembaca. 

Kata pertama Eka Kurniawan sudah langsung menunaikan tugas. Bukan hanya mati. Ia langsung memusnahkan dirinya. Tidak mau mengganggu dan membayangi siapapun tokoh disitu. 

Selamat Indonesia, janin baru telah lahir. Mungkin entah tahun-tahun kapan, Bung ini yang akan menyuguhkanmu sebuah dua bua nama baik untukmu. Entah Nobel entah yang lebih mulia dari itu.
Selamat, Bung! 

#30dayschallenge #1hari1tulisan #day2

Advertisements

4 thoughts on “Lelaki Harimau #yasobaca

      1. Bagus kok. Tapi corat coret di Toilet kumpulan cerita gitu.
        O aku blm tertarik malah. Lebih tertarik ke Lelaki Harimau sama Cantik Itu Luka. Katanya 2 karya itu dari banyaknya review oke bgt

        Like

      2. Lelaki Harimau bagus banget sih kalo aku bilang makanya lsg sengaja baca O, satir banget. Benang merahnya sama. Tragedi kehidupan

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s