Assalamualaikum ya Sunan. 

Bandung, 7 April 2017

Ini adalah surat balasan saya. Seorang bocah yang kepada saya surat Sunan telah sampai saya terima. 

Kenapa Anda begitu baik hati ya Kanjeng Sunan. Terima kasih untuk selembar layang: sebuah pengingat atas pertanda. Setidaknya itu adalah lembar pertama yang sampai pada saya, dan ini adalah balasan pertama yang saya ingin segera tulis untuk sekedar berterima kasih dan memberitahu: ada anak angon yang gembira menerima layang darimu ya Sunan. 

Beberapa minggu ini saya menggumam-gumamkan terus surat dari Anda. Entah sembari mengepel rumah, memasak makan siang untuk Bapak, atau duduk pagi di teras klengsoran dengan Mbak Ian. 
Saya menyanyikannya dalam berbagai bentuk, Kanjeng Sunan. Mulai dari langgam gending Jawa, gumaman orang tua, sampai irama Shalawat Badar. Tapi, yang paling saya niknati adalah dalam bentuk gending Jawa. Saya menyetelnya keras-keras di teras, mungkin Mas Aris yang sedang mencuci motor trail dan mobil off roadnya itu bisa ikut mendengar. 
Hape saya kusimpan di lantai di sela paha kananku, ya Sunan. Aku memiliki speaker manual, karena pahaku yang besar menyediakan cukup ruang untuk menggemakan suara. 

Ya Sunan, saya dulu sewaktu kecil sempat bingung. Kenapa Kanjeng Sunan terus menerus menyuruhku bangun. Aku sebal. Memangnya aku sedang apa. Kalau aku sedang tertidur bagaimana mungkin aku bisa menyanyi. Tapi sebalku hanya beberapa detik– itupun karena sebenarnya saya kesal pada diri saya sendiri. Mengapa saya tidak mengerti. 

Tapi juga sebenarnya saat itu saya belum tahu kalau itu adalah surat darimu, ya Sunan. Aku selalu menganggap itu adalah nyanyian kegembiraan Pak Tani. Hitung-hitung membuang bosan karena terplorong panas ketika derep atau pakai ani-ani. 

Sampai saya sudah berapa besar saya tahu mengapa Kanjeng Sunan menyuruh saya untuk bangun tidur. Meski saat itu saya sedang melek begitu segar.

Saya mengerti. Mengapa sebenarnya harus kita rayakan saat sekarang. Sudah hijau katamu ya Kanjeng Sunan. Royo-royo. Penuh kesenangan dan ranum gembiranya: seperti sepasang manten baru. Yang masih malu-malu saling sentuh, tapi girang betul sampai dalam kamar. 

Saya kecil sempat bingung ya Sunan. Mengapa Sunan suruh saya memanjat pohon belimbing? Pertama: saya gemuk. Kedua: saya tak bisa memanjat. Ketiga: ibu dan bapak saya tidak memiliki pohon belimbing. Ada juga pohon belimbing di rumah Pak Faisal kala itu, tapi sudah sejak saya bayi pohon itu tidak berbuah kata ibu.

Tapi sudah kemudian saya beberapa besar saya paham. Mengapa belimbing. Mungkin itulah kenapa sejak awal Sunan mengingatkan dan memperingatkan saya: 

Tempat memanjatmu licin. Hati-hati. Tapi tetaplah terus memanjat. Karena belimbing itu ada di puncak pohon yang menjulang. 

Saya harus memetik belimbing. Yang geriginya ada lima sisi. Lima kali harus kukelilingi setiap hari. Supaya benar hidupku. Supaya terbasuh bajuku yang sudah koyak begini ya Sunan. 
Sampai-sampai Kanjeng Sunan pun tahu, sebelah pinggir pakaianku sudah robek bedah nyaris kelihatan isi perutku. Saya akan segera menjahit dan membenangi seperti saranmu ya Kanjeng Sunan. 

Karena, acaranya sebentar lagi. Tinggal sebentar sore. Kita akan berkumpul, berhitung-hitung sebentar. Menukar karcis: lalu masuk dengan pilihan dan persiapan masing-masing sendiri-sendiri. 
Mungkin itulah kenapa alasannya saya selalu gembira sekaligus urung malu, sekaligus jerih menyanyikan surat dari Kanjeng Sunan. Mengingat yang sebentar sore. Mengingat banyak yang belum kubasuh. Mengingat letak dimana kusimpan benang dan jarum

—- 

Oh iya Sunan, kata Moyo surat dari Kanjeng Sunan dilagukan ketika dia melihat satu upacara mengusir jin halus jahat.

Apa benar ya Sunan? Moyo menceritakan menggebu, ketika dia diminta menshooting sebuah acara di sebuah rumah yang ternyata acara tersebut adalah mengusir hantu. 

Saya sedikit lupa maafkan saya ya Sunan. Karena Moyo menceritakan begitu cepat dan saya banyak sekali takut karena kami saat itu duduk di pinggir sungai dan banyak pohon bambu dan banyak suara tongeret sehingga saya takut. Saya tahu ya Sunan, tidak ada korelasinya, maafkan saya, saya hanya mencari alasan karena saya takut, meskipun sebenarnya saya tahu saya tidak boleh. 

Lalu oh iya, Moyo menceritakan saat dia harus menshooting sebuah dokumentasi. Dan kemudian mereka harus berputar-putar mengelilingi rumah. Menjereng kain yang dibentangkan dan dipegangi regang masing-masing sisi. Mereka bersamaan membaca shalawat dan ayat-ayat. Lalu banyak yang saya lupa Sunan. Kemudian dari atas;yang tidak jelas sebelah mana atas yang memungkinan bisa jatuh sebuah benda–entah apa itu.

Bugggghhhh!!! 

Tepat diatas kain. Lalu mereka membungkusnya. 

Dan yang paling seram bagi saya, yang Moyo ceritakan adalah, setelahnya mereka mengelilingi rumah. Sambil bernyanyi– Moyo bersumpah tidak pernah mendengar surat Kanjeng Sunan begitu mistis penuh kuat seperti kala itu. Lalu sambil bersenandung pelan bersamaan oleh semua yang ada disana, mereka mengikuti orang paling depan yang menyapu mengelilingi rumah menggunakan sapu lidi sembari bernyanyi: 
Srekkk srekkk srekkkk. Sapu lidi disapu-sapu sekeliling rumah. 

Srekkk srekkk. 

Ilir-ilir ilir-ilir tandure wos sumilir.

Tak ijo royo-royo.

Tak sengguh temanten anyar.

Srekkk srekkk. 

Cah angon cah angon, penekno blimbing kuwi

Lunyu-lunyu penekno

Srekkkkk srekkk 

Kanggo mbasuh dodotiro

Dodotiro dodotiro kumintir bedah ing pinggir

Dondomono jumratono

Srekkk srekkkk

Kanggo sebo mengko sore

Mumpung gedhe rembulane

Mumpung jembar kalangane

Srekkkkk srekkkkkk

Yo surako surak iyo

Srekkkkk srekkkkk
Srekkkkk

Srrrrek
Srrrr

Srek.

#30dayschallenge #1hari1tulisan #day3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s