Pakai rok mini warna ijo oranye, kaos gambar gajah dimasukkan, dan jepit rambut berbentuk topi– seperti topi mini asesoris putri ratu kerajaan Inggris. Acid dan Mega belum lahir kala itu. Apalagi Rintan dan Elsa. Karena aku masih yang paling bungsu. Semua orang mengasuhku. 
Mbak Dani, Mbak Nunik, Moyo, Jati masih abg. Remaja wangi Eskulin cologne gel. Mas Didit sama Mas Yayan lagi galau milih universitas. Lik Ning masih jadi gadis unyu pasca kuliah. 

Remaja Eskulin dan Shower to Shower

Iya! Aku adalah anak centil yang salah kostum pergi ke pantai pake rok. Dan pakai asesoris topi mini kerajaan Inggris. Setidaknya aku anak yang paling pintar, karena berpakaian paling ringkas. Tidak perlu gulung-gulung celana seperti semua yang foto disitu. 

Pergi ke Parangtritis. Diajak Bapak Ibu kami semua. Karena iba hati anak bungsunya–aku, belum pernah liat laut. Dari Sejati janjian di Nulisan. 

Aku bahkan tidak tahu saat itu umur berapa. Masih kecil. Masih kurus. Belum bongsor. Aku mulai bongsor itu sejak SD, saat sudah mendekati menstruasi. Tapi aku sudah centil. Karena aku centil sejak bayi. Makanya aku memilih memakai rok mini dan asesoris jepit rambut ala British Royal. Topi kecil yang tidak ada faedahnya. Toh aku akan tetap kepanasan dan keplorong matahari ketika di Parangtritis. 

Aku sebenrnya lupa siapa saja yang ikut. Mungkin orang tua kami masing-masing ikut dan dibelakang kamera. Sepertinya sih ikut. Karena kalau gak ikut, orang sebanyak itu gak akan muat naik mobil Bapak. 

Oke setelahnya aku ingat: begitu sampai Parangtritis dan air pantai menyentuh kakiku, aku melompat-lompat kegirangan seperti ulang tahun. Lalu berteriak: 

“Aaaaaahhhh aku bahagia sama gembira sekaliiiiiiiii!!!!!”
Iya, bagi kalian yang mengenalku, sampai dewasa pun aku masih tetap anak yang ceria, gembira, pecicilan, dan LEBAY. Itu adalah bakat alamiah. Dari aku kecil aku MEMANG sudah begitu. Tapi lalu itu sebenarnya ada efek baiknya, aku menjadi lebih mudah untuk mengungkapkan kasih dan simpati pada siapapun orang terdekatku. 
Kostumku bukan tidak membawa drama, aku ingat kakak dan sepupu-sepupuku menakut-nakuti, karena rok miniku yang berwarna hijau, dan karena kami saat itu akan pergi piknik ke Parangtritis yang adalah pantai selatan. Dimana ada mitos memakai baju hijau akan disukai Ratu Selatan dan diajak ke kerajaannya. Aku menangis dan mendadak bad mood. 
Aku adalah tipe anak yang akan mempengaruhi mood hampir semua orang sejak kecil. Aku bisa membuat seluruh rombongan gembira karena keceriaanku, bisa juga membuat sebuah ruangan seolah tidak bernyawa karena buruknya suasana hatiku. Dan Bapak lalu meyakinkaku, kalau hijau yang disukai Ratu adalah hijau polos dan hijau tua. Bukan hijau yang ada motif warna lain dengan gambar boneka. Kurasa cukup masuk akal saat itu. Lalu aku bisa melonjak-lonjak gembira kembali dalam hitungan detik.
Akupun sempat berfoto di atas andong dengan Mbak Dani. Berfoto saja, tapi tidak berkeliling. Pemilik andong itu cukup baik hati membiarkan ada anak rewel yang ingin berfoto tapi tidak cukup berani berkeliling dengan terguncang-guncang naik andong. Sesudahnya, aku lupa apa yang terjadi. Yang jelas aku fokus pada kegembiraanku. Setelahnya, karena aku dan orang tuaku tinggal di Bandung, tentu saja momen piknik tamasya dengan sepupu-sepupuku seperti itu hampir jarang terjadi lagi. Beberapa kali ketika aku sekolah, dari sekolah dasar sampai SMA aku pergi berlibur sendiri di Jogja. Tapi yang menjadi pengawalku seperti biasanya hanya Moyo dan Jati. Tidak pernah lagi aku bermain dengan Mas Didit, Mas Yayan, dan Mbak Nuniek. 
—-

Sekitar hampir dua puluh tahun kemudian, aku kembali lagi tamasya ke pantai. Sebenarnya pantai adalah selalu tempat yang membuat bergidik. Sebuah perasaan aneh. Takjub sekaligus takut. Seperti miniatur contoh yang menegaskan: betapa kecil dan bukan apa-apanya dirimu sendiri. Dan perasaan seperti itu yang mungkin membuat kecanduan. Tidak heran, banyak orang sekelilingku selalu menghadiahi diri mereka sendiri setelah melalui rutinitas dan masa sulit dengan vitamin sea. 


Aku tamasya kembali ke pantai setelah beberapa lama, tapi untuk pertama kalinya lagi dengan trah keluargaku. Personil tetapnya hanya Moyo Jati. Sisanya tidak ikut. Mereka semua berjauhan. Kali ini aku diajak ke sebuah pantai, karena aku bosan bermain di kota Jogja. Pantai ini cenderung baru diketahui oleh orang-orang. Dan tidak sepopuler Parangtritis atau Samas. Sehingga pantai ini tidak penuh oleh manusia yang berenang seperti cendol. Namanya Pantai Goa Cemara. Sepanjang pantai penuh oleh pohon cemara kerdil yang mentiung kebawah membentuk payung saling berkaitan satu dengan lain sehingga seperti membentuk goa. Pantainya pun masih cenderung sepi. Yang paling aku suka adalah karena pasirnya hitam. Garis pantainya cukup curam. Jadi sebenarnya pantai ini bukan tempat untuk berenang berkecipuk main air. 

Suatu siang ketika aku sedang menonton Ponyo di ruang kerja Moyo, Lik Mung tiba-tiba datang memberi ide yang membuatku kegirangan. Lik Mung menyuruh anak-anaknya mengajak kami ke pantai. Hore! Dan Jati memberi ide untuk ke Pantai Goa Cemara. Dan ternyata memang cantik! Pantai yang teduh karena banyak pohon cemara. Tipe pantai yang menjadi favoritku, seperti pantai di Tegal. Jarak yang dekat dari parkiran dan teduh banyak pohon. Hal yang membuat aku menjadikan pantai sebagai tujuan yang tidak didahulukan dalam daftar bermainku, adalah biasanya pantai selalu berada jauh dari tempat parkir dan berupa pantai terbuka tanpa pohon, sangat panas sehingga aku lupa menikmati apa yang aku lihat. Aku benci kegerahan. Dan Pantai Goa Cemara adalah tipe pantai yang toleran dengan kemanjaanku. 
Mega dan Acid juga turut ikut. Sebenarnya kami pergi ke dua pantai. Pantai Goa Cemara dan Pantai Depok. Tapi kami hanya murni makan siang (menjelang sore) ke Pantai Depok. 


Ada kelegaan tersendiri bisa mengulang sebuah momen banyak belasan tahun ke belakang. Perbedaannya, dulu ketika kami ke Parangtritis Mega belum lahir, sekarang kami pergi piknik dia sudah kuliah. 
Ada kelegaan tersendiri, mengetahui keluarga yang juga sahabatku sendiri, masih tetap disana. Menjamu dan mengusahakan kegembiraanku. Dalam kualitas hubungan dan pembicaraan yang lebih baik. Kalau dulu aku kecil sepupuku hanya akan membual aku akan diculik Ratu Selatan, sekarang kami akan membicarakan perihal yang lebih aneh dan transenden dari sekedar Ratu Selatan. 
Ada kelegaan tersendiri. Bahwa dalam sekian belas tahun, waktu yang kuhabiskan bersama mereka jika dikumpulkan tidak akan lebih dari tiga bulan, tapi kami masih bersahabat dan menjadi keluarga. Aku adalah seorang kakak yang bungsu. Yang selalu diasuh. 
Aku bersyukur atas setiap orang yang berperan atas kegembiraanku. Yang terlalu lama tidak pernah kutemui. Yang terlalu lama kudustakan.  

Those happy faces

#day5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s