Turki – 1912

Kasihan bangsa

yg mengenakan pakaian yg tidak ditenunnya,

memakan roti dari gandum yg tidak ia panen,

dan meminum susu yg ia tidak memerasnya.
Kasihan bangsa

yg menjadikan org dungu sbg pahlawan

dan menganggap penindasan penjajah sbg hadiah.
Kasihan bangsa

yg meremehkan nafsu dlm mimpi-mimpinya ketika tidur,

sementara menyerah padanya

ketika bangun.
Kasihan bangsa

yg tidak pernah angkat suara

kecuali jika sedang berjalan

di atas kuburan,

tidak sesumbar

kecuali di reruntuhan,

dan tidak memberontak

kecuali ketika lehernya sudah berada

di antara pedang dan landasan.
Kasihan bangsa

yg negarawannya serigala,

filosofnya gentong nasi,

dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.
Kasihan bangsa

yg menyambut penguasa barunya dgn terompet kehormatan,

namun melepasnya dgn cacian,

hanya utk mnyambut penguasa baru lain

dgn terompet lagi.
Kasihan bangsa

yg org sucinya dungu

menghitung tahun-tahun berlalu,

dan org kuatnya masih dlm gendongan.
Kasihan bangsa

yg terpecah-pecah,

dan masing-masing pecahan

menganggap dirinya sbg bangsa.
Kasihan bangsa

alamnya yg indah,

sawahnya hijau sepanjang masa,

tapi banyak penjahat dan org bodoh

dijadikan pemimpin negara.
Kasihan bangsa

hasil laut, tambang dan hutannya

seperti sorga di dunia

tapi banyak rakyatnya menderita

krn kejujuran dan keadilan telah sirna.
Kasihan bangsa

tempat-tempat ibadahnya penuh

puja dan puji selalu menggema,

tapi para pencuri tertawa-tawa

krn mereka bebas semaunya……..
Kahlil Gibran.

*repost dari Pak Rono Prakoso 

#day6

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s