Dago, Siete, sehabis hujan.

—-

Aku tak henti BBM. 

“Cepeeeet teteh dimana? Lamaaaaa ih teh emillllllll”

“Sebentar Yasooooo. Angkotnya ngetem”

Yang akan menjadi penanda dari wanita ini dan menurutku sebuah konsistensi sopan santun adalah dia selalu menulis huruf pertama nama dan tempat dengan huruf kapital. Bahkan dalam chat yang kasual. Dia selalu memanggil namaku dengan huruf pertama kapital. Yang tidak semua orang sanggup lakukan. Termasuk aku. 

Beberapa lama yang sebenarnya sungguh sangat lama kemudian, dia datang. Kami sama-sama saling berteriak. Heboh tidak tahu malu. Saling memeluk seolah-olah sedang menemukan anak yang tertukar di Jalinan Kasih di Indosiar. 

Dan setelahnya, kami melebihi kelebayan sinetron Indosiar. Karena tidak akan permah ada sinetron Indosiar menampilkan dua kakak beradik saling menyiksa tapi begitu saling mencintai secara bersamaan. Berbicara sesering mungkin dan menculasi banyak-banyak.

Selanjutnya kami membicarakan hal yang–sampai sekarang masih sama begitu– tidak pernah penting

Namanya Teh Emil. Baik sekali hatinya tapi pikasebeleun dan mengundang jiwa sosorongot siapapun. Apalagi aku. Teh Emil beberapa tahun lebih TUA dariku. Seusia kakak kandung keduaku. Wanita keturunan Ambon yang lidahnya sangat medok Sunda ini memiliki seorang anak–saat itu, sekarang anaknya sudah dua– yang juga bersahabat denganku. Usianya kala itu empat tahunan. 

Bagiku keduanya sama. Sama-sama bertingkah aneh dan mengundang pembully, tapi di sisi yang lebih banyak, setiap habis bertemu mereka, aku akan selalu gembira. Hampir selalu. Hampir tidak pernah tidak. Keduanya sama-sama sahabatku. 

Kami tidak pernah menghabiskan sebuah momen bersama tanpa tertawa– dan MENERTAWAKAN. 

Anza kecil, nama anak itu, seorang anak yang cukup tegar bermain dengan orang-orang dewasa bermulut culas yang tak menganggap dia sebagai anak kecil lucu. Kami– khususnya aku, menjadikan dia sebagai sahabat. Anza kecil adalah bukan anak cengeng yang akan merengek pada ibunya jika kami menjahilinya, dia berjuang sendiri memperoleh tempat di hati masing-masing kami. 

Anza adalah anak yang mirip denganku, memiliki spontanitas dalam mengungkapkan kasih sayang. Memiliki keunikan sepertiku, semakin dia menyayangi dan nyaman pada seseorang semakin itu pula ia bebas bersikap culas dan jahil. 

Anza, menurutku adalah anak yang jiwanya besar. Mengapa? Karena tidak banyak anak kecil yang dengan besar hati ditegur atas sesuatu oleh orang yang BUKAN ibunya, dan si anak akan langsung mengubah perilaku yang barusan ia kena tegur. 

Dia memiliki hal spesial yang sama dengan ibunya. Bedanya, semakin ibunya disayang temannya, semakin dia diculasi. 

Tapi ada persamaan yang mencolok. Mereka berdua sama-sama sahabatku. Teh Emil sudah seperti kakak kandungku. Dan Anza melebihi hanya sekedar keponakan. Mungkin anakku. Kami tertawa dalam frekuensi yang sama. Mereka sama-sama suka berbagi. Sama-sama kecanduan atas perbuatan menolong. 

Beberapa minggu kemarin, Anza menggambariku sebuah gambar. Hadiah katanya. Kami bergandengan. Lengkap dengan rumah, matahari, rumput, bunga dan awan-awan hati. Simbol yang hanya anak kecil yang tahu maknanya apa. Kusimpan baik-baik. Kuselipkan di skripsiku yang penuh ucapan dari semua sahabatku. 

Mereka berdua adalah orang-orang unik. Tidak pernah kami membicarakan perihal harga minyak dunia, konspirasi wahyudi, atau perang nuklir. Atau hal sok cerdas lainnya. Kami tidak pernah mengerti akan itu. Kami hanya membicarakan dan menertawakan apa saja. Soal kerudung barunya yang mengkilat, dan dia ingin seluruh dunia mengetahuinya. Atau soal kemajuan peradaban di Bayongbong. Dan perjalanan panjang yang mereka tempuh dengan elp sejak ba’da Subuh.

Yang terutama: aku tidak dituntut menjadi siapa-siapa atau tau apa-apa. Karena soal kerikil sudah cukup membuat kami terbahak girang. Jika bersama mereka aku selalu girang bungah seperti sedang ulang tahun. Bahkan lebih dari itu. 

—-

Satu lagi bagiku bukti, tidak perlu kau menguasai kitab. Untuk menyebarkan pelajaran. Kasih sayang dan kegembiraan yang menular adalah sebaik-baiknya pelajaran.

May your happy face never last 😍

Note: dear Anza, kalau kamu sudah besar dan bisa mengunjungi ini, ingat baik-baik Tante Yaso sayang sekali sama kamu. Kamu anak spesial yang menularkan kegembiraan. Terus lakukan itu sampai besar nanti. Cintai sebanyaknya orang. Dan kamu akan dapat lebih banyak cinta. 

—-

#day7

Advertisements

3 thoughts on “Orang-orang Bayongbong

  1. Pingback: momanzaluna
  2. Terima kasih banyak Yasooooo, padahal aku cuma becanda tadi. Tapiii ngarep beneran pengen ditulisin. Dan ternyata aku terharu bacanya, ada beberapa yang ngeselin juga, tapi tak ku ambil hati karena kenyataanya seperti itu ha3x. Aku sayang Yasooooo :*

    Like

    1. Iyaaa aku tau kok emang teteh ngarep2 manjaaaa. Yg kenyataan yg mana? Yg bagian tua ya 😩 aku sayang teteh moreeee πŸ˜πŸ‘­πŸ‘ΈπŸ’΅πŸ’΄πŸ’ΆπŸ’· *emot org kaya

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s