Aku menginap di sebuah hotel tigaratus ribu dalam gang pinggir Jalan Malioboro. Kamar yang cukup besar dengan sarapan khas rumahan yang cukup enak. Berjalan sekitar 50 meter untuk sampai jalan raya Malioboro. Yang paling penting adalah sebenarnya hotel itu memasang tanda salib INRI, dan hotel itu dikelola oleh keluarga Katolik taat, sehingga pihak kampus tidak akan mengkhawatirkanku ketika aku harus memperpanjang waktu di Jogja tanpa pengawasan mereka. Karena besok Minggu, mereka semua akan langsung berangkat dari hotel Saphir–tempatku tadi siang tidur dan menumpang mandi di kamar yang dihadiah-pinjamkan padaku; selagi rombongan mereka mengunjungi Lapas dan bermain games dan mendengarkan tata tertib lapas. 
Aku sendiri berangkat terpisah. Menggunakan kereta Argo Gede, beruntung aku bisa mendapat fasilitas kereta eksekutif; karena perjalananku akan sampai siang di daerah Jawa Tengah, aku membutuhkan sedikit kemanjaan; kereta yang sedikit mahal dari kampus supaya aku bisa tidur nyenyak di kereta tanpa perlu kegerahan. Tujuanku pun bukan mengunjungi Lapas. Ada misi lain aku datang ke kota ini. 

Di mulut gang hotel tempatku menginap yang seharga tigaratus ribu– ada sebuah angkringan. Benar-benar angkringan dalam gerobak kayu kokoh dengan meja kecil yang tersambung. Lengkap dengan anglo: untuk mendidihkan air dalam ceret atau membakar sate-satean teman nasi kucing. Benar-benar angkringan, bukan yang seperti sekarang, angkringan berbentuk cafe, dengan pendingin ase, dengan internet wifi, sofa dan toilet duduk unisex. 

Aku biasanya memesan wedang tape. Dan memakan sebungkus nasi kucing, sebiji tahu susur, dan sate kikil. Atau jika sedang rajin menggerogoti bacem kepala ayam. Tapi berhubung karena aku sedang diare parah, aku hanya memesan teh tubruk tawar panas. Dan memakan nasi kucing tempe dengan sate telur puyuh. 

Sebenarnya aku menginap dengan dua temanku. Tapi mereka bersepeda keliling Jogja, dan aku sedang menstruasi. Badanku tak karuan sakitnya. Jadi aku memilih tidur dan makan. Ditambah perutku sedang diare. Aku menunggu dua temanku yang lainnya yang kebetulan berada di Jogja menghadiri konferensi pejabat kampus, Tama dan Stefanus untuk membawakanku Norit. Mereka berniat menemaniku sambil mereka menonton tv dan menumpang mandi sambil menunggu keberangkatan mereka ke Bandung karena hotelku berdekatan dengan stasiun. 

Sambil menunggu kedua temanku membawa Norit, aku duduk sendiri sambil makan di angkringan. Berbincang dengan pemilik kedai angkringan yang sangat ramah, mengetahui aku bukan orang Jogja ia memberiku bonus gorengan yang bebas kupilih. Tak berapa lama datang seorang yang cukup tua seusia Bapak. Memesan kopi arang. Membuka bungkusan nasi sambal teri dan menggigit bakwan disusul dengan sate kikil. Sebelumnya Bapak itu menawariku, “Makan, Mbak”

Ada keunikan tersendiri hidup di Indonesia. Kesopanan yang diam-diam diperjanjikan. Basa-basi menjadi penanda sopan santun. Buruknya, kami menjadi terlatih untuk berpura-pura. Tapi bukan berarti itu tidak baik. Selalu ada nafas komunal hidup di Indonesia. Melalui perilaku-perilaku kecil. Contohnya ya itu, “Makan, Mbak”

Aku tersenyum dan mempersilahkan. Kami berbincang, dengan pemilik angkringan juga. Katanya nanti malam akan ada semacam festival. Tapi tidak akan begitu laku seperti grebegan. Turis sepertiku, kata mereka lebih memilih berburu Dagadu. Aku sebenarnya kurang suka suasana Malioboro. Bagiku sudah hampir bukan seperti Jogja. Seperti daerah Pasar Baru atau Pecinan atau Sudirman di Bandung. Tidak ada arsitektur atau hijau sawah yang menyadarkanku ini adalah sebuah Jogja. Kami berbincang renyah. Mereka orang yang menyenangkan. Mengeluhkan kehidupan dan negara padaku, hanya karena semata-mata aku adalah seorang mahasiswa. Mereka berharap aku akan mengingat dan menyuarakan mereka jika aku kelak memiliki kesempatan untuk itu. 
Ditengah-tengah kami berbincang seru, resepsionis Katolik yang membuat dosenku mempercayai hotel itu, datang menyusulku. Mengantar seorang remaja tanggung. Mengantar sebuah bungkusan. Untukku. Yang tidak pernah berani aku buka. 
Sampai kemarin. 

Sampai kemarin, setelah beberapa tahun kemudian aku menemukan lagi bungkusan itu. Dan akhirnya berani membukanya. Ada keengganan bagiku membuka sebuah kiriman kado. Tanpa nama. Tanpa ucapan apa-apa. Surat kaleng, orang-orang tua menyebutnya. Aku tidak suka. Dan biasanya tidak akan pernah kubuka. Termasuk sebuah paket yang disusulkan ke hotel tiga ratus ribu tempatku menginap. 

Ada penyesalan sekaligus kekesalan. Aku benci dibuntuti. Aku benci diawasi. Aku akan dengan gembira menerima tanpa perlu dibumbui kesan heroik usahamu mencari tempat hotelku menginap dan bayaran pada anak remaja tanggung yang berharap bisa mengisi pulsa dari pekerjaan kecil yang kau suruhkan padanya. Semuanya tidak lucu. 

Semuanya tidak manis. Bukan romantisme yang akan kuingat sebagai gadis mekar yang tersipu-sipu. Justru adalah hal pertama yang akan kulupakan dan tidak ingin aku tahu sama sekali. 

Entah kesalahanku atau justru kesalahanmu. Sehingga aku tidak pernah menjawab pertanyaan besar dalam sebuah cara bodohmu. Dalam sebuah pesan yang sembunyi-sembunyi. 
Duduklah berbincang. Dengan Bapak pemesan kopi arang. Dengan Bapak pemilik angkringan. Denganku. Menjadilah manusia. Yang memukau manusia lainnya. Yang menggali pelajaran. Yang bercerita dan menikmati perjodohan– sekedar obrolan kopi di angkringan dengan orang yang sama-sama singgah. Dengan itu aku tak perlu kebingungan membuka bungkus. Dan mencerna pertanyaan. Dan kamu: tak perlu membuntuti dan menghambur uang untuk remaja tanggung pemburu pulsa. 

2011awal-2017

#day8

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s