Orang harus mulai berhenti berkata: 
“Pengecut lu! Pake rok sana!”
“Ah cemen, kayak perempuan. Pake lispstik aja gih”

Permasalahannya bukan mengenai rok atau lipstik. Tapi benda-benda itu disebutkan karena berasosiasi dengan perempuan. 

Laki-laki yang tidak cukup berani masuk rumah hantu, atau melakukan panjat tebing, atau tidak main bola; dikatai perempuan. Seolah-olah tidak ada satupun perempuan yang berani masuk dengan tertawa-tawa ke rumah hantu. Atau memanjat tebing atau menendang bola dengan profesional. 

Perempuan diasosiasikan sebagai sebuah kata sifat dan kata keterangan. Yang menjadi lawan kata yang serba laki-laki. Yang bernyali, yang gagah, yang sportif, yang menantang. Yang pemberani, yang mahir.
Parahnya, ucapan-ucapan yang mengejek laki-laki yang dianggap pengecut dan bukan pemberani– tidak memenuhi harapan society terhadap ukuran lelaki sejati seharusnya; sering pula diucapkan keras-keras oleh perempuan.
Ada juga laki-laki menangis. Dikatai. 

“Ha ha ha ha he crying like a little girl

Memangnya little boy tidak menangis??
Orang-orang harus berhenti mengatakan 
“Hahaha cemen. Bencong lu!”

Kalau yang semua orang pernah ucapkan yang dimaksud bencong adalah laki-laki yang bertutur sengau keperempuanan, berdandan seperti perempuan, memakai gincu dan pupur, memakai rambut dan bulu mata palsu, dan stilleto– kita salah. 

Mereka bukan pecundang. Berapa banyak pria dan wanita tersiksa berpura-pura. Karena tidak cukup berani mengakui orientasi dan mengenali tubuhnya sendiri, yang berani para bencong lakukan?
Orang-orang harus berhenti berpikir bahwa perempuan dan bencong adalah selalu simbol kelemahan laki-laki. Mereka berdiri sendiri-sendiri. Bukan negasi satu sama lain. Berdirinya sendiri-sendiri adalah seharusnya selalu sebuah afirmasi.
Bahwa ada laki-laki yang pengecut. Ada yang penakut. Ada yang takut hantu. Ada yang gelagapan atas ketinggian. Ada yang tidak bisa menyetir tapi pandai memasak. 
Ada yang tidak merokok dan tidak berkelahi. Mereka tetap laki-laki. Akui. Terima. Keberadaanya tidak mengubah apa-apa. Mereka tetap laki-laki. 
Orang-orang harus mulai berhenti menunjuk bagian yang dianggap cacat dan tidak diharapkan dari laki-laki sebagai perempuan. Sebagai bencong. Sebagai pemakai rok atau gincu.

Orang-orang harus mulai menerima dengan sadar kepala. Gender hanya kelompok besar manusia. Dan manusia secara sendiri-sendiri memiliki hak menjadi dirinya. Meski tidak gagah berkelahi, memanjat tebing, atau berani hantu. 
Ukuran society ini dan anu soal bagaimana seharusnya seseorang toh mensyaratkan pembanding. Banding yang dibandingkan lebih buruk, yang lebih tidak patut. Dalam hal ini, ukuran laki-laki yang katanya seharusnya, diperbandingkan dengan perempuan dan bencong, kalau-kalau seorang laki-laki tidak cukup memenuhi syarat menjadi laki-laki yang seharusnya. 
Orang-orang bahkan harus mulai belajar hanya untuk mengumpat. Bagaimana mengumpat dengan pantas.
Mulai sekarang, jika ingin mengumpat, cukup:

“Pengecut lu!!”
Sudah titik. Tidak perlu ada penambahan ‘seperti perempuan, seperti bencong, pakai rok sana, pakai lipstik sana, pakai kutang, tumbuhkan toket atau apa atau apa’
Berhenti mengasosiasikan perempuan dan bencong dan atributnya dengan kepecundangan. 

Saya tidak berkata perempuan atau bencong tidak ada yang pecubdang, atau lemah, atau penakut, atau brengsek. Tapi setidaknya, terima itu. Sepertinya saya hampir tidak pernah mendengar ada yang berkata pada perempuan: “Pengecut lu, seperti laki-laki”
Perempuan justru dihakimi jika memakai atribut kelakilakian. 

“Kok perempuan rambutnya cepak? Kok perempuan naik motor besar? Kok perempuan manjat-manjat tebing? Kok perempuan main bola?”

Orang-orang harus berhenti mendefinisikan perbedaan laku sifat dalam satu gender dengan menunjuk gender lain.

Orang-orang harus belajar tidak menunjuk pihak lain untuk menyalahkan hal yang dia anggap tidak benar dalam dirinya.
Orang-orang harus belajar membungkam mulutnya untuk tidak mengatai orang lain dengan banyak ‘kok kok kok kok’

Orang-orang harus belajar ada laki-laki yang takut hantu, takut ketinggian, dan membenci bola. Dan mereka bukan pecundang. Bukan perempuan. Bukan bencong. Mereka masih tetap laki-laki.
Orang harus berhenti berkata dan makin meramaikan definisi bahwa pengecut, penakut, dan pecundang itu memakai rok, memakai gincu. Perempuan. Juga bencong.

#day12

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s