Seorang anak mengetuk pintu rumahku. Saat itu aku tiga puluh. Dan Kanta tiga puluh tiga. Anak itu memakai masker tisu. Membawa sesisir pisang uli. Sudah kuning-kuning masak tampaknya.
Diserahkannya pisang itu padaku. Ia mengatakan itu adalah buah tangan untukku. Di tangan yang satu ia membawa kelapa gading. Tidak terlalu besar. Belum dibukanya masker itu. Ah aku mengenalinya samar-samar. Tapi aku belum tau pasti siapa anak ini. 

Menangislah ia mulai perlahan. Kemudian makin perih rasanya kudengar tangisnya. Ibu…berkatanya ia padaku. Tolong. Tolong isap habis air dalam kelapa ini. Hingga habis. Tapi tolong jangan membelahnya atau melubanginya.

Kupikir, bagaimana caranya??

Ini terlalu terdengar mustahil.
Aku pernah mempercayai Sinterklas. Aku pernah mempercayai bahwa Susan benar-benar dapat berbicara tanpa bantuan Ria Enes. Aku pernah mempercayai bahwa kunang-kunang adalah kuku orang mati. Aku pernah mempercayai banyak dongeng. Aku pernah mempercayai banyak kebohongan. 

Tapi aku tidak mempercayai hal yang dikatakan anak ini. 

Kuminta ia membuka masker tisunya. Di kejauhan mulai terdengar suara yang menggema Maghrib. Kanta menyuruhnya masuk dan mendudukkannya diatas GL Pro miliknya. Aku mengambilkannya minum. Kusuruh lagi ia membuka masker tisunya.

Ah ternyata anak itu berbelalai!

Lubang hidung belalainya besar. Hampir sebesar biji salak. Panjang belalainya cukup panjang. Sepanjang oyong yang sudah masak siap petik. Sambil menangis anak itu sengguk-senggukan menghisap ingus yang mulai keluar dari belalainya. 

Sebenarnya anak itu cukup tampan. Tapi belalai yang menempel di wajahnya membuatnya sedikit janggal. Kelopak matanya terlipat sempurna, bulu mata lentik khas anak-anak. Tubuhnya mungil. Aku sebenarnya cukup heran bagaimana ia bisa membawa kelapa gading dan pisang muli sekaligus jinjing. 

Ia masih memohon, untuk menghisap air kelapa didalamnya tanpa membelah tanpa melubanginya. 

Aku sempat mengomel pelan bagaimana mungkin aku bisa menghisap air tanpa melubangi atau membelahnya. Anak itu menangis makin kencang. Menyebalkan, kupikir. Anak-anak dan aku selalu mendapat apapun yang kami mau dengan menangis dan merengek. Dan aku hanya sebal jika hal itu terjadi padaku. Aku hanya mau rengekan manjur untuk diriku sendiri. Bukan malah aku yang menjadi korban rengekan. 

Kutanya, 

“Tak bolehkah aku melubanginya saja sedikit? Selubang paku?”

Dia menjawab

“Kumohon ibu jangan.”

 
Sembari makin menangis makin pilu. 

Anak sialan batinku. Ini rupanya kekesalan orang lain menghadapiku yang merengek. Bedanya ia masih lucu masih anak-anak. Sedangkan aku sudah bersusu dan berpantat besar, mungkin sudah habis lucunya. Kanta cukup hebat berarti. Menghadapi rengekanku yang tidak pernah habis.

Kanta dan aku makin kebingungan. Kalau-kalau dia makin menangis menjerit. Membuat seluruh kampung yang sekarang sedang berkumpul di langgar akan mendengar dan berpikir kami adalah jelmaan nenek kakek sihir penyiksa anak-anak. 

Kutawari anak itu makan. Ikan layur bumbu kuning dengan nasi dingin. Dia menggeleng sambil menyeka ingus encer di lubang belalainya. 

Dia mulai tenang ketika Kanta menggendongnya dan menepuk-nepuk punggungnya. Masih sedikit isak-isaknya terdengar. Kanta menoleh padaku yang kebingungan. Anak itu berbisik-bisik pada Kanta. Aku semakin sebal tidak diajak berbisik. Aku benci orang berbisik-bisik depan mukaku. 

Kanta terkaget. Menjauhkan kepalanya dari kepala anak itu. Lalu mendekatkan lagi. Dan menepuk-nepuk pundaknya. Bernyanyi sholawat badar. Dan tidurlah sudah anak itu di pelukan Kanta. Kanta membawanya masuk ke dalam dan menidurkannya diatas ranjang kami. 
Aku menyusul sambil membawa kelapa gading. Juga mengunyah pisang muli. Mengikuti Kanta. 

Kanta keluar. Menuang air dari kendi ke dalam gelas seng motif tentara. Meminumnya sampai habis. Meletakkan gelas, mengambil rengginang ketan hitan dan mengunyahnya. Dan berkata padaku:

“Ternyata kelapa gading itu adalah kepala ayahnya.”

Mulutku menyembur. Kaget setengah mampus. Dan kelapa gading terlempar ke dekat tungku. Kelapa entah kepala itu bocor. Merembes air bening sedikit keruh. 

Kanta memungutnya. 

“Setidaknya kita memenuhi rengekan anak itu. Kita bisa menghisap air ini, tanpa melubangi atau membelahnya.”

Tyd. Kenari21

#day13

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s