Selalu ada yang menyenangkan bertemu orang baru. Meski sekilas-sekilas, perjodohan yang sebentar beberapa menit selalu membawa pelajaran. Menularkan energi gembira. 

Tadi naik grab. Akang grabnya pasang lagu bagus-bagus. Pengen nyanyi sejak naik tapi masih malu. Pas di layar muncul lagu kesukaan aku, aku langsung refleks,
“ih ini lagu kesukaan aku!!” 

“gedein atuh teh”

Sambil ketawa malu aku refleks nyanyi-nyanyi. Bareng akang Grabnya. 

Lalu akang Grabnya nanya, 
“Kok tau lagu ini teh? Kayak kolot aja.”

“Iya kang, saya emang suka mahiwal sendiri dalam banyak hal dari orang lain. Dari kecil emang begitu.”

“Kirain seumuran teteh resepna Ed Sheeran yang in love body apa itu tea.”

“Hahaha, saya mah begog kang.”

Perjalanan kami setidaknya memakan waktu tiga putaran lagu. Dan akamg Grab masih terheran-heran saya nyanyi dengan lancarnya, soalnya lagu-lagu itu dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi seangkatan Embah sepertinya. 
Simon and Garfunkel. Dan Dolly Parton.
Sebenarnya agak susah untuk cari titik temu garis waktu kenapa aku yang umur segini bisa suka dan hapal beberapa lagu mereka. 
Makin kesini lagu di radio makin gak cocok buat aku. Semua kedengerannya sama: latar belakang lirik di club, sex satu malam, atau erangan-erangan yang dilagukan.  

Makin kesini, makin sulit cari lagu yang isi liriknya metafora– sejak aku adalah pecinta metafora garis keras. 

Entah aku yang buta musik dan gagap perkembangan, tapi aku gak pernah lagi dengar ada musik sekelas Bee Gees dan Simon Garfunkel di radio. Kalau ada yang begitupun sepertinya gak masuk radio. Karena kalau masuk, gak akan laku. 
Penyanyi penyanyi yang dulu pasarnya kelas atas pun ikutan genre disko-disko. Ya gak bisa disalahin juga sih, karena nereka cari makan. Tapi pada akhirnya orang-orang kayak aku yang tidak cukup betah dengerin lagu uwauwauwah i’m in love with your body setiap hari di radio, harus cukup puas mojok bersenang-senang dengan warisan masa lalu. Yang kemudian diejek tua dan kampungan. Tapi siapa peduli? 

Bersyukur juga ada anak muda yang jarang banget masuk radio. Sekarang malah tidak pernah. Bjork yang buat banyak orang aneh dan geje. Tapi musik-musik seperti mereka yang cukup mampu menelisik sudut kepala aku. Yang banyak kosong tidak tersentuh. Biar dikata tua dan kampungan. Aku senang menjadi mahiwal.

Id rather be a hammer than a nail

Id rather be a forrest than a street

El Condor Pasa



#day14

Advertisements

6 thoughts on “Mahiwal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s