Manusia butuh sesuatu yang lain selain pengetahuan, kebaikan hati, dan ketulusan. Saya pikir dulu itu adalah aspek paling utama yang menjadikan manusia sebagai manusia. Manusia ternyata butuh hal yang lain. 
Ada anak gemuk kemarin yang selalu memandangiku dengan tersenyum. Dia perempuan. Usianya mungkin kelas empat atau lima. Pantatnya sudah besar sepertiku. Pernah kami sempat berbincang dan dia memelukku dari samping. Senyumnya manis sekali. Dia berkata aku cantik seperti penyanyi yang dia sebutkan dan pintar seperti guru di sekolahnya.

Aku menepuk-nepuk lengan kirinya dan berkata kamu jauh lebih cantik, nak. 
“Ah tidak ibu saya jelek. Gemuk dan hitam”

Tidak!! Kamu cantik!!

Lalu aku berkata pada temanku yang lain berkata bahwa ada anak gemuk memelukku dengan senang dan tersenyum. Mereka berkata dan tertawa setengah menertawakan; HAHAHAHAHAAHAHA MUNGKIN ANAK ITU MERASA BERCERMIN HAHAHAHAHAHA.

Ya lalu?

HAHAHAHAHAHA MUNGKIN ANAK ITU MERASA BERTEMU SAUDARA KEMBAR GENDUT.

Ya lalu? 
Saya tidak merasa tersinggung seperti saya akan tersinggung dan bersedih seperti kelas empat SD atau lima mendengar kata-kata itu. 
Saya mengatakan pada teman saya: saya bangga menjadi gendut dan saya bangga anak itu memeluk saya. Saya ingin anak-anak gemuk, gembrot, gendut seperti saya bisa tumbuh percaya bahwa ketika dia dewasa dia bisa tumbuh pintar, ceria, dan dicintai. Bertalenta. Karena tidak ada yang salah menjadi gendut.  Saya tidak mau anak-anak yang merasa dirinya jelek entah karena kulit atau badan atau wajahnya tak seindah anak lain; akan merasa hidupnya kiamat sudah dimulai saat itu. 

Manusia harus mulai terkadang pura-pura buta membahas yang tidak perlu bahkan pantas. Hanya karena orang gemuk bisa dimiripkan dengan babi, mereka disebut babi. Sungguh entah manusia yang mulutnya busuk– karena tidak ada pembanding kesamaannya atas bau mulutnya yang bisa ditemukan di dunia. Tidak di kandang atau bahkan sekedar nama binatang. 
Manusia butuh sensitifitas rasa. Mengingat bahwa mulutnya bisa mengeluarkan bau busuk tahi sapi yang sudah kena hujan dan panas dan hujan dan panas kembali dan hujan lalu berjamur. Ada yang perlu dihitung selain pandai berbicara; yaitu merasai berbicara. Merasai kedukaan orang lain. Manusia harus mengingat bahwa mulutnya yang tajam dan tidak ada gunanya bisa merobohkan banyak bangunan dalam kepala orang lain, yang sudah lelah dibangun satu persatu bata. Tanpa semen tanpa perekat. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s