Sore ini habis hujan lagi. Aku meminjam sepatumu. Seperti dulu lagi. Kala itu kakiku masih terlalu kecil. Sepatumu seperti sepatu Gulliver bagiku yang sementara dulu masih liliput. Sampai sekarang yang aku sudah lebih besar dan gembrot dibandingmu. 

Kamu kadang berbaik hati mengikatkan pita. Pada tali sepatu pinjamanmu. Pita yang simpul-simpulnya rumit. Susah kubuka. Tidak mati sih, tapi tak bisa kubuka. Tujuannya satu: supaya ketika kita sampai dan kamu masih membereskan bawaan selesai memarkir; aku yang biasanya langsung berlari ke dalam rumah– akan kembali mencari dan memanggilmu. Meminta dan merengek supaya kamu membukakan ikatan pita pada sepatuku.

Hampir selalu begitu. Hampir sering sekali begitu. 
Setelahnya lalu aku akan berlari. Entah menuju dapur mencari gelas. Atau ke kamar mandi. Jika sedari tadi aku menahan pipis. Atau langsung berlari menemui ibumu, dan bercerita dibelikan apa saja olehmu tadi ketika makan. Dengan cerewet. Dengan cerita penuh. 

Sudah jam lima. Kamu biasanya akan dengan geram menyuruhku lekas mandi. Dan kamu memetikkan utas-utas daun ketela.

 
Sebentar lagi Maghrib, katamu. Dan itu berarti akan bertambah lagi tugasmu. Mengantarku. 

Ke pendopo sanggar. Kamu membekaliku dengan botol minum. Terkadang kamu menemaniku. Duduk bersila. Bernyanyi dan berdoa. 
Dalam retak-retak semenan tempatku bersila kamu terkadang begitu cerewet dan banyak sekali misuh. Aku mencoba-coba memegang saron lalu semua orang memarahiku. Kadang kusentuh fu. Lalu kemudian terjatuh dan aku menutup muka karena malu. 
Kamu sesekali tertawa karena sampur yang kuikatkan di perutku terlalu pendek: karena perutku seperti busung lapar yang sedang hamil! 

Jangan kemudian bertanya apa ada awer yang sanggup menampung pantat gemukku. Kamu akan kutinju. Meski akhirnya akan kepalanku sendiri yang kesakitan.  

Mendekat pada isya kamu biasanya akan pergi sebentar lalu kembali setelahnya.
Aku tidak banyak bergerak,  disinipun begitu. Aku hanya akan banyak diam menonton,  kagum,  tercengang, mulut menganga,  kagum kembali, ribut karena kagum kembali,  dan begitu seterus seterusnya. 

Sehabis mulutku yang banyak bicara di halamanmu sampai pagi semalaman tidak suntuk– aku sendiri sekarang banyak diam. Aku banyak tidak bicara. Aku banyak tidak mendengar. 

Aku lebih menikmati bincang-bincang dengan angin. Aku, entah kehabisan kemampuan berbahasa dan berkomunikasi atau memang aku yang malas bicara. Aku malas berbincang yang membuat aku harus berpandangan. Aku lebih suka berjalan kaki sendiri sehabis jam 3 sore untuk sesekali menyapa Gloria atau Helena. Menyapa dan mengucapkan ‘dadaaaaah’ pada anak-anak kecil beringus. Dibanding harus berurusan dan mendengarkan orang dewasa atau abg tanggung saling menyalahkan dan mengatur strategi curang. Aku lebih suka duduk di trotoar jalan tol untuk mendongak ke atas ketika langit cerah dan melihat bintang, planet, dan bulan seperti beras habis giling yang disebar di atas karton hitam. Banyak bintik-bintik dari jauh, malas kuhitung. Aku hanya ingin melihat dan menikmati. Membatin dan tidak melakukan apa-apa. Tidak juga hanya berbincang atau menjawab ajakan makan malam. Aku ingin diam di ujung jembatan dekat bevak Martha sampai malam habis, seandainya aku bukan pengecut dan kakiku ceroboh–karena aku bisa saja tiba-tiba menginjak paku atau kotoran.  Atau keduanya. Aku ingin diam saja. Duduk diujung jembatan. Dan mendengar kungkong katak dan bunyi-bunyi kadal. Sebelumnya ketika sore dari barat ada selalu semburat nila jingga atau ungu. Sesukanya matahari memberi warna. Aku ingin duduk saja di ujung jembatan dekat bevak. Diam dan mendengarkan Luqman berkisah. Aku selalu suka dan tidak pernah tidak suka. Meski digigiti nyamuk-nyamuk sebesar lalat buah yang gatalnya setengah mati. Yang membuat marah menepuk mereka ingin kupitas sampai mati. Ada juga, ingin kuceritakan, semua orang harus tahu: nyamuk disini ada juga yang sebesar laba-laba kaki langsing panjang. Yang jika kutepuk isi perutnya ikut keluar. Yang kadang-kadang malas kutengok atau kuapa-apakan. Aku ingin diam. Aku ingin begini saja. Semauku diam atau berkeliling tidak punya rencana arah. Berjalan entah kemana lalu singgah sebentar dan berbincang soal entah sembarang apa dengan bude-bude yang mungkin akan kutemui. Menyapa anak SD Inpres yang menguntut  extra joss bubuk. Dia colek-coleki dengan jarinya lalu dihisap-hisap. Dia bahkan kebingungan dia harus menghisap mana lebih dulu: ingusnya atau jari berbalut extra joss nya?  

Aku ingin duduk di papan lapang Yos Sudarso. Melihat dan menikmati gerakan lincah yang kelewat motah.  Sendirian tanpa dikenali siapa-siapa atau disapa siapa-siapa. Memejam mata untuk mendengarkan nyanyian yang kencang tapi pilu.  Soal tete yang menangisi masa mudanya yang gagal ia bentuk. Soal kematian soal perangai tidak baik. Soal kegelisahan dan soal perempuan yang berdiri. 

Oh iya, jangan kau tanya soal tarian. Mereka mungkin dilahirkan untuk berdansa dan bergoyang. Mereka tidak tampak berusaha keras tapi mungkin jika kita–atau aku saja yang menari seperti mereka; aku sudah akan pingsan di dua menit pertama. Energi mereka seperti baterai kelinci. Yang dipasang langsung seribu buah berjejer. 

Mereka lahir untuk menari dan entah sebut saja semua yang kau sebut berkesenian. Disini indah. Dan kamu harus datang. Tidak untuk melihat atau mendengar apa-apa–karena disini tidak ada yang bisa kau lihat atau dengarkan. Tapi kamu juga harus ingat– tak akan banyak hal bisa kau lihat kalau kau terlalu banyak memandang. Tidak banyak kau akan mendengar. Dengan hanya banyak-banyak buka mata. Dengan hanya banyak-banyak buka telinga. 

Syuru, Agustus 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s