Aku hidup di suatu tempat yang teramat panas jika dia sedang ingin panas. Hingga menyengat rasa terbakar langsung menuju kulit. Memerah dan mengelupas kulitku hitam seperti kerak gula dalam belanga panas. Aku hidup di suatu tempat yang jika dia sedang ingin dingin, aku bisa menggigil kedinginan hingga memakai kaus kaki. 

Aku tidur diatas kasur yang setiap aku bergerak terasa seperti ada bunyi keripik-keripik remuk. Tapi aku bersyukur dan bergembira. Dengan kelambu putih seperti tenda dapur umum. Aku hidup di sebuah tempat yang tidak ada satupun orang berani mengutuk hujan lebat. Meski aku–dan mungkin kami semua disini harus mengganti payung setiap dua atau tiga minggu. Karena habis hancur terkena hujan. Terkena angin. Atau karena memang karat terlalu lama disimpan tidak terjual. 

Aku hidup di suatu tempat.  Yang bisa kau lihat kepiting dan ular bersama dalam satu lumpur di bawah lantai tempat kaki menginjak. Berjalan miring atau keluar masuk lubang yang banyak. Seperti sarang semut. Seperti sarang tawon. 

Aku hidup di suatu tempat yang langitnya apabila senja dia nila atau jingga. Semau warna yang dia suka. 

Aku hidup di suatu tempat yang bintangnya menyebar kecil kulihat. Kadang ia terserak seperti beras putih di tanah pakan ayam. Kadang ia terkumpul satu jalur satu garis. Membentuk andai ia sungai. 

Aku hidup di suatu tempat yang berisik malam tidak ada selain kungkong katak. Berlombanya mereka.  Ganti bergantian. 

Aku hidup di atas genangan air jorok. Hitam kadang hijau. Kadang coklat Pramuka. Yang menyangkut beberapa kotak teh, atau kaleng penyegar panas dalam. Aku hidup di suatu tempat yang hidup serangga kecil penggigit penyebab gatal setengah mati. Aku hidup di suatu tempat yang seruan sahurnya tidak terdengar dan seruan takbir malam lebarannya tidak ada. 
Aku hidup di suatu tempat yang seluruh sudut dan hamparan adalah panggung.  Berdiri diatas tempat yang selalu lebih tinggi. 
Aku hidup di suatu tempat yang kakimu adalah yang bisa membawamu berpindah. Membeli garam di siang hari, atau mencari lombok penambah pidis. 

Aku hidup di suatu tempat–yang hanya ke arah atas kau menengadah memohon tetes-tetes lebat tanpa menggerutu takut baju cantikmu kebasahan atau jemuranmu tidak bisa kering. Aku hidup di suatu tempat yang selalu basah di bawah pijakan kakimu tapi bisa menangis karena kehausan.

Tanah ini begitu unik. Tapi aneh. Tapi membingungkan tapi membuat jatuh cinta. Selalu soal perihal hati dan rasa. Tanah ini begitu unik dan aneh. Tanah basah yang tidak punya sumber basah. Yang hidup manusia-manusia dan seluruh makhluknya mengandalkan betul belas kasihan Tuhan. Tidak ada yang lain yang menghidupi selain belas kasih dari langit. Aku selalu berpikir sejak dulu, siapa yang menyimpankan air dalam tanah? Orang akan bisa lupa bahwa air adalah pemberian. 

Aku hidup diatas tanah basah.  Yang hampir sering gempa menggoyang dan kami merasa sedikit senang karena bertambah hiburan kami bergoyang guncang-guncang.  

Aku hidup di suatu tempat yang kami pergi mencuci ketika hujan lebat bukan ketika panas penuh menyengat. 

Aku hidup di suatu tempat yang tidak kukenal satu orang manusiapun. Aku asing dan mulai berkenalan dengan diriku sendiri. Siapa aku. Sudah kenalkah aku dengan aku. Aku menjadi orang yang sama sekali asing. Dengan diriku sendiri aku berkenalan. Mencoba memaafkan–jangan-jangan bagian diriku sendiri yang hilang ia kabur entah kemana karena marah dan sesekali bosan. 

Aku menjauh. Kelihatannya begitu. Tapi aku justru mendekat. Kalau kalau memang bagian diriku yang hilang sudah kutemukan kembali– ia akan kugandeng dan kuajak pulang. Berjalan di atas papan. Sambil setiap kali langkahnya menyentuh papan rangka, kumohonkan ia maaf yang sungguh benar-benar besar. Karena aku nyaris membunuhnya. Menguburnya hidup-hidup. Dan sekarang akan kucari akan kugali. Meski menggali di kedalaman becek lumpur. 

Advertisements

3 thoughts on “Agts Bulan 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s