Untuk Ebo dan Bapac

Sudah tiga pagi dan tiga sore aku membayangkan hal yang hampir selalu sama. Bahkan aku ingin hidup dalam delusi yang aku anggap paling ingin kuulang. Pernah suatu siang bulan puasa di tanjakan jembatan gapura komplek rumah kami aku membatin: saat seperti ini akan aku amat ingin kembali nanti jika sudah tiba di suatu masa yang namanya masa datang.

Masa datang yang kumaksud saat itu sudah datang sekarang-sekarang. Saat tiga atau empat pagi empat sore belakang ini. Aku merindukan saat dulu dan saat-saat lain sebelum aku membatin saat itu. Membayangkan entah saat mau tidur sore atau sambil bergumam Starsailor atau dengan waspada memantau lalat babi brengsek.

Aku ingin kembali. Ke masa bapak dan ibuku tidak tua. Aku tau aku tidak bisa kembali. Tidak juga mereka kembali. Meski mereka tidak pernah pergi ataupun sedikitpun mengubah porsi cintanya padaku. Aku hanya ingin sedikit menikmati kemanjaanku yang brengsek dan kurang ajar sebagai anak bungsu yang merengek segala sesuatu pada ibu bapaknya. Tadi aku sulit membuka pintu rumahku disini, kalau aku di Bandung saat itu pasti aku langsung berteriak: “BAPAAAAK! gak bisa buka pintu”

Dia adalah laki-laki superku. Bisa melakukan semuanya dan tahu semua jawaban segala yang kutanyakan. Ketika kecil dan pantatku belum sebesar dandang nasi seperti sekarang, motor bapak Vespa dan aku bisa ikut dengan ibu dan bapak ke pasar. Berdiri di pijakan depan. Dengan tangan kirinya bapak menutupi mataku supaya tidak kena debu ketika laju motornya. Lalu aku dan bapak akan menunggu parkir di depan toko plastik di Pasar Cikutra, dan ibu akan kembali dengan nasi kuning kesukaanku yang dibeli dari Emak tua di seberang yang spesial: nasi kuning Emak pakai sambal oncom yang penuh kemangi dan taburan kacang kedelai renyah dan bawang goreng. Pernah satu kali ketika aku menunggu dengan bapak ada pedagang jaket rajut menggelar lapak. Bapak membelikan aku dan kakak-kakakku sweater. Kakak-kakakku mendapat warna hijau dan merah cantik. Sedangkan aku mendapat warna oranye. Aku protes karena aku hitam. Bapak bilang karena aku selalu mengingatkan bapak dengan Belanda. Aku lahir ketika bapak sekolah disana, dan oranye adalah warna Belanda. Tetap aku kesal karena oranye seperti warna kantor pos. Bukan warna anak-anak.

Sampai aku dewasa aku selalu suka pergi jalan-jalan dengan ibu dan bapak. Aku paling sering diajak belanja bulanan ke Griya atau ke Pasar Suci. Sebagai imbalan aku boleh memilih makan dimanapun aku mau. Setelah pulang pasar biasanya aku minta makan di Kupat Tahu Cihapit. Kalau sepulang dari Griya, aku biasanya ingin makan di Plengkung Gading atau Gudeg Supratman. Apapun yang ingin kumakan tidak pernah tidak mereka kabulkan. Seringkali ibu, bapak, dan aku makan bertiga di Ampera Suci, padahal jarak Ampera Suci dan rumah sudah sangat dekat. Kami memilih makan dulu daripada langsung pulang dengan alasan supaya mereka bisa mentraktir aku.

Aku selalu suka bulan puasa biasanya Bapak, Ibu, Mbak Ian, dan aku pergi berempat ke Henny Catering mencari tajil atau berburu tajil kemanapun aku mau. Bapak akan dengan sabar menyetir meski macetnya Bandung menjelang buka puasa teramat brengsek.

Atau aku akan diminta temani ibu dan bapak membeli apapun entah dimanapun, kalau aku mengantuk aku menguasai kursi belakang dan tidur selonjoran. Aku selalu suka sensasi pusing tidur melintang di mobil bapak. Melihat pohon melintas-lintas di depanku. Aku suka mendengar bapak membentak orang yang serampangan berkendara. Aku merasa aman dengan ibu dan bapak.

Aku paling suka dibangunkan dengan suara bapak yang bertanya: Wik, mau bubur atau nasi kuning?

Lalu setengah jam kemudian ibu dan bapak sudah mengklakson membawa banyak sekali makanan tanpa aku sempat bangun sejak dibangunkan.

Pernah suatu ketika aku dalam keadaan patah hati yang tidak bersemangat seperti ABG bodok alay. Tidak mau makan tidak mau keluar kamar. Ibu dan bapak tidak mau aku bersedih lagi, mereka pergi naik motor sore-sore mencari dan membeli mengelilingi semua makanan kesukaanku. Sesampai dirumah mereka membawa banyak makanan yang kusukai. Semuanya. Aku masih merajuk. Ibu hanya bilang: Ayo Wot, bapak ibu sudah keliling carikan banyak buat dewot dimakan yuk dewot.

Dengar begitu aku langsung keluar kamar dan makan sambil masih menangis.

Dewot adalah panggilanku dirumah. Bisa banyak arti. Bisa panggilan ketika aku dimarahi karena membuat mereka naik darah karena aku nakal, atau bisa juga panggilan kesayangan penuh kasih.

Mereka melakukan segala hal demi aku bergembira dan tersenyum. Meski aku banyak sekali membantah dan kepala batu.

Sebelum ibuku sakit, ibu naik ojek ke Pasar Cikutra membeli abon untuk bekalku disini. Meski kami disini tidak pernah kekurangan lauk.

Aku masih ingin seperti dulu. Menjadi anak-anak. Yang ikut bapak ke kantor dan dicubiti pipinya oleh pegawai-pegawai muda.

Aku rindu dijemput bapak pulang sekolah atau pulang kuliah. Aku rindu menumpang mobil bapak sampai kantor lalu menyambung naik angkot ke kampus. Di saat itu bapak kadang-kadang memberiku uang meski aku telah dibekali ibu.

Aku rindu ikut ibu pergi kerja. Naik ojek di tengah dengan ibu. Aku rindu dimarahi ibu dan bapak karena pulang malam. Aku rindu bapak dan ibu yang tidak muda dan tidak tua. Aku rindu menjadi manja.

Aku ingat ketika aku menjadi delegasi legislative drafting, kami semua kelaparan karena uang kami habis untuk menyewa hotel. Kami kelaparan. Pertama kalinya dalam hidupku aku tahu apa itu kelaparan yang sampai nyeri hingga ulu hati. Ibu dan bapak datang membawa gudeg kesukaanku untuk kami semua. Dengan bungkusan yang teramat gendut penuh nasi dan lauk. Masih panas mengepul.

Aku ingin kembali diambilkan raport atau ingin kembali wisuda dan mereka sabar aku yang kesana kemari disapa dan menyapa teman-temanku. Bersabar kutitipi bunga dan hadiah wisuda.

Bapak dan ibu, kalau boleh aku minta sesuatu kembali diulang aku tidak akan meminta episode Yoko atau Marimar kutonton ulang, aku hanya ingin kita kembali ke Pasar Suci lalu sarapan Kupat Tahu Cihapit.

Kalau ada yang boleh kuminta yang belum pernah kumiliki, aku tidak akan meminta perjalanan mewah ke negara Skandinavia. Aku hanya ingin shalat dipimpin dengan Bapak sebagai imam. Setidaknya sekali seumur hidupku.

Tidak ada yang kusesali. Tidak ada yang kukeluhkan. Aku hanya teramat menyukai kembali memutar adegan-adegan menyenangkan kita di otakku di mimpiku seperti salah satu anak Ms Peregrine.

Aku teramat siap menjadi dewasa dan menjaga kalian membuktikan kalian tidak gagal mendidikku. Membuktikan aku bisa menjaga kalian meski dari ruang jauh. Tapi teramat tidak siap kalian menjadi tua. Dalam beberapa waktu, keegoisanku muncul: aku ingin selalu menjadi anak manja kalian. Yang merengek. Yang pura-pura takut dan tertidur diluar. Supaya aku bisa digendong dan diselimuti.

–ttd, Dewot. Ragil kalian.

Advertisements

SGF Nomor 3

Rokokmu Surya warna merah. Sesekali kretek premium dengan bungkus kertas emas. Font kesukaanmu Cambria. Dan kamu selalu memakai celana pendek hitam kumal. Model rambutmu menyebalkan tapi membuatmu tampan. Ada sesekali waktu aku mendengarmu berteriak dengan gitarmu. Yang mengkilap dan hitam. Suaramu tercekat. Seperti saat kamu menelan salak di tangga gereja. Sudah berapa waktu aku pernah putus asa. Tapi kamu memelukku tidak seberapa kencang supaya aku tenang. Hanya kamu yang mengetahui dan paham arti setiap bekas luka dan sayatan. Kamu menyukai biji jambu monyet. Kamu berdusta sesekali: mengatakan membenci keju tapi mengunyah kue kering bertabur keju parut yang gemuk-gemuk. Kamu marah seringkali karena kebodohanku tapi hanya mengusap kepalaku tanpa menoleh dan tetap melihat jalan. Ada yang paling kubenci darimu: mata merahmu seperti pemabuk. Padahal itu ulahmu sendiri yang malas pejam. Kamu memberikan bungkusan yang ketika kubuka aku menjerit gembira: tidak pernah kulihat benda secantik itu. Kau bilang ia menempuh perjalanan jauh demi sampai padaku.

Kamu mengusap air mataku. Entah karena pedih atau air mata cengeng seorang anak manja yang tidak mau dibentak dan ditinggal sendirian. Matamu selalu padaku. Ingatanmu tertuju pada kegembiraanku. Aku banyak sekali rindu padamu tapi aku gagap dan seketika bisa tidak tahu menjawab ketika kamu bilang kamu bisa sebegitu rindu padaku. Rindu itu benar ternyata brengsek.

Lagu dalam mobilmu berisik dan membuatku menggerutu. Tapi lain lagu membuatku bersenandung dan berusaha mengingat. Aku suka pewangi dalam mobilmu yang tidak membuatku mual dan mabuk ingin muntah. Aku suka segala sesuatu yang kau katakan. Aku suka mendengarmu bercerita. Kau mengabulkan semua keinginanku yang bahkan tidak kuucapkan. Kau menemaniku bangun disaat kamu bahkan belum tidur baik selama empat hari. Kamu duduk di kursi sebelahku di meja makan. Kamu menunjukkan hal yang membuatku menjerit bangga.

Kamu memelukku dalam suara yang diam sekali atas kehilangan terbesarmu. Kamu remuk tapi kamu masih melindungi dan menggembirakanku. Kamu masih meyakinkanku bahwa aku utuh dan berharga.

Kau mendorongku pergi jauh. Bukan agar hilang dari pandangmu. Tapi supaya aku menemukan diriku sendiri.

Kau melingkarkan lengan di kepalaku. Berkata sambil jalan menuju garasi: kain ini bikin aku sadar kamu udah bukan anak-anak lagi ya.

Kamu mengupaskan udang dan membakarkan benang yang keluar dari kausku dengan rokokmu. Kamu memberikan waktumu.

Kamu bangun lebih pagi untuk duduk bersamaku ketika sarapan dan berdoa. Kamu mengambil wudhu setelahku lalu mengejarku untuk sekedar memunggungiku ketika sembahyang.

Kalau ada yang ingin selalu kuulang: aku pasti akan meminta suara sengau lantangmu kudengar dalam berdiri tegak tundukku memimpinku. Kamu berharga dan tolong ketahui itu.

Aku ingin kamu melihat segala sesuatu yang kupandang. Aku ingin kamu merasai segala kegembiraan dan kedukaanku menemui anak-anak dengan ingus kering di wajah mereka. Aku ingin kamu bergembira mendapat salam. Aku ingin kamu mendengar suara kodok yang sahut-sahut kencang membentuk paduan suara seperti dengan sound sistem hajatan.

Kamu pasti akan berbinar meski hanya diam merokok atau memetik senar gitar dan bergumam lirih-lirih saja.

Kamu menahan lapar untukku. Makanan yang kuinginkan masih berjarak 30km dari tempat kamu mengeluh lapar. Kamu membiarkanku tidur saat kamu bosan menyetir dalam macet.

Kamu memakai sepatu demiku.

Kamu membuatku tahu pola kunci telepon selulermu dan pin ATMmu.

Kamu menyebalkan dan selalu membuatku merengek. Kamu mengangkatkan air untukku. Kamu tampan memakai batik Lasem. Kamu sederhana dan tidak berlebihan. Kamu bangga menjadi dirimu begitupun aku.

Pribadimu matang dan hatimu tulus. Semua manusia yang mengenalmu mencintaimu sebagai pembayaran tunai yang besar.

Kamu benci bola tapi kamu mencintai Ayah Ibumu. Kamu memperlakukanku seperti bayi. Tapi disitulah aku merasa amat dicintai. Kamu menjadikanku pusat kepentinganmu.

Dari semuanya: aku memohon tetap menjadi dirimu. Dan bergembiralah. Jika lelah dan sedih sesekali hatimu, peluk aku seperti biasa dan isap energiku dan kembali gembiralah. Aku masih belum lelah menyebut namamu sangat sering dalam rengekan-rengekan yang memaksa, atau dalam mohon-mohon yang lirih pelan penuh kesopanan.

Sahur

Ini adalah puasa keduaku sendirian benar-benar jauh dari Ibu dan Bapak. Tanpa aku harus memikirkan bangun pagi dan siapkan sahur seperti biasanya dirumah. Puasa pertama tanpa Ibu Bapak ketika di Jakarta. Di kosan tante Lily yang keluarga Katolik, otomatis aku sahur sendirian. Masalah buka puasa aku tidak banyak pusing karena setiap sore, Yuri mengantarkan makan malam untukku atau mengajak aku makan entah apa saja yang kuinginkan di depan Gadjah Mada Plaza. Atau beli jajanan yang super macam-macam di depan halte Harmony. 

Buka puasa bukan perkara rumit dan melankolis bagiku. Aku bisa pergi kemana saja dan makan dengan siapa saja. Makan apa saja sesukaku. Entah ke Dimsum Inc. Atau ke Depok numpang makan tempat Momey sekalipun aku bisa. Tapi persoalan sahur itu berbeda. Dia melankolis dan memancing sedih. 
Persoalan mengunyah sambil mengantuk jam 3 atau setengah 4 dini hari adalah perkara melankolis. Dirumah ini hanya aku muslim sendiri. Dan pasti aku akan sahur sendiri. Mungkin itu yang membuat sahabat gelembungku tadi bersikeras mau menjemputku ketika sahur nanti, untuk makan sahur dirumahnya. Tapi aku tentu menolak. Tempat tinggalku di tengah hutan. Rasa tidak tega membiarkan sahabat gelembungku menjemputku hanya karena dia tidak tega membiarkan aku sahur sendirian di tengah hutan. Katanya dia tidak mau sahabat gelembungnya sahur sendiri dengan air mata dalam kedinginan subuh yang menggigit tulang. Terdengar lebay memang. Tapi entah kenapa. Sepertinya dia mengerti. Ada perihal besar dan baru dalam puasa kali ini. Semuanya serba baru. Ada rasa syahdu yang sedikit sunyi. Tapi bukan sepi. Ada transformasi besar yang sudah kulalui tapi belum siap untuk kusadari sudah terjadi. 
Kesadaran alam bawah sadarku dan seluruh memori terpanggil pada jam-jam dini hari menjelang sahur. Saat sahur juga adalah saat otakku menyimpan memori paling baik. Ada sebuah perasaan yang paling kurindukan dan nikmat menahan kantuk untuk sesuatu yang sebenarnya tidak wajib– dan rasa nikmat tidak terbahasakan itu hanya ingin kau bagi dengan orang-orang yang memiliki arti bagimu. Ibu, bapak, keluarga, atau sahabat. 
Saat sahur adalah selalu saat yang paling kuingat setiap detil dan rasa perasaanya. Bunyi orang gedumbrang gedumbreng toki-toki keliling komplek bangunkan sahur– akamsi bernyanyi nyanyi tidak jelas;abg-abg tanggung menyalami anak perempuan yang dilewati rumahnya, panggilan ‘sahur-sahur’ dari toa mesjid, atau posisi duduk Ibu, Bapak, Naninunu, Makjuneng dan aku. Aku bahkan bisa mengingat suara lagu-lagu acara sahur pada saat kuis interaktif fiktif dalam acara sahur musiman di tipi. Aku mengingat Mbah selalu memasakkan dan menemaniku sahur jam 3 pagi saat aku mulai belajar sahur kelas 4 SD, meski jam 8 aku sudah mulai mengunyah kepok ketan, galundeng, dan klepon oleh-oleh Mbah dari pasar. Aku mengingat posisi anggur, susu, madu, dan semua makanan ketika aku masih mengantuk dan refleks membuka kulkas setiap bangun tidur. Hanya sahur yang bisa membuat kami semua sesekali diam tanpa sedikitpun kata sampai imsak, atau tertawa terbahak bergosip sangat seru. Hanya sahur yang membuatku ingin cepat bangun kalau Ibu ada masak terong balado atau sate goreng ketika buka puasa. 
Sahur selalu merupakan saat melankolis dan sedih jika jauh dari Ibu, Bapak, Makjuneng, dan Naninunu. Tapi Bang Sopyan bilang bahwa harus hadapi Ramadhan dengan happy. No manja like anak mami. Aku harus jadi akamsi tangguh. 
Biarpun sahur disini tidak seperti di Bandung, dan Bandung sedang amat kurindukan pada momen seperti ini; nanti sahur disini adalah yang akan paling kurindukan ketika sudah di Bandung. 
Sahur, bukan hanya perkara mengisi perut supaya tahan lapar. Sahur bagiku momen krusial mengukur ketulusan: ia yang menyiapkan dan menemanimu sahur adalah yang punya cinta besar untukmu. Apalagi aku: ia yang selalu menyiapkan dan menemaniku sahur justru ia yang tidak harus berpuasa. Tapi ia memilih berpuasa: Ibu. 

Sahur bagiku momen pertumbuhan spiritual. Ketika kecil usia SD: hanya Naninunu dan aku belajar puasa berdua. Makan Indomie dalam panci kecil berdua. Kami makan hanya syarat. Berpuasa sebagai uji coba latih-latih. Sampai akhirnya Bapak dan Ibu mulai puasa sampai saat ini. 

Sahur bagiku adalah momen intim dengan energi transenden besar berpusat di sebuah rumah yang penghuninya berjuang menahan kantuk untuk sebuah perjalanan yang disebut janji merasai kedukaan: puasa. 

Aku tidak malu cirambay dan mengatakan aku ingin seluruh orang yang kucintai berkumpul dalam satu meja: makan dan mengunyah dengan paksa. Entah itu duduk diam atau dengan tawa pecah. Aku hanya ingin mereka hadir. Dalam sahur pertamaku di tempat secantik ini. 

Skripsweet so Sweet

Hampir setiap pagi dekat siang, aku berjuang bangun dari tidur. Makan. Mandi. Memasukkan laptop ke tas. Cari ojek. Tunggu transmetro di halte. Masa-masa frustasi itu. Masa-masa aku sudah terlalu lama diam di bab 1. Aku biasanya memaksa otakku bekerja meski setengah mati ia tidak mau bekerja. 

Tugas akhirku kuselesaikan begitu lama. 3 tahun hanya untuk bab 1. Sedangkan seluruh mata kuliah kuselesaikan hanya dalam waktu satu tahun. Dengan nilai satu B, dan sisanya mendapat A. IPKku salah satu yang paling tinggi. Tapi menulis dengan pakem dan aturan sungguh amat menyiksa dan membuat otakku mati. Meski aku pada dasarnya suka mengoceh dalam tulisan. Aku harus melewati 3x sidang, dan dalam hampir 4 tahun aku baru menyelesaikan sidang bab 1. Sidang proposal. Tidak lebih. Aku frustasi. Semua temanku sudah lulus. Aku menunda terus mengerjakan. Otakku mati. Aku tidak bisa berpikir. Dan mungkin itu akibat aku selalu menunda-nunda pekerjaan sampai bertahun-tahun. Aku hanya terus membayar uang kuliah tanpa melakukan apa-apa. Meski setiap hari aku pergi ke kampus, perpustakaan, atau diam di kamar teman yang kosong sendirian. Pada akhirnya aku hanya tidur, main hape, frustasi, dan makin frustasi. Aku benar-benar frustasi dengan penulisan hukumku. Aku benar-benar putus asa. Pada saat itu aku menyalahkan banyak sekali hal, KECUALI diriku sendiri. Aku menyalahkan bapak dan ibu yang selalu pentingkan kerja dan meninggalkan aku dirumah. Aku menyalahkan Mbak Ian karena aku marah harus terus menjaganya. Aku menyalahkan pacarku pada saat itu karena membuatku frustasi dan tidak bisa berpikir. Aku menyalahkan laptop karena hang terus. Aku menyalahkan bus kota atau grab car yang terjebak macet. Aku menyalahkan taksi yang selalu lama datang jika kutelpon. Aku menyalahkan materi penulisanku yang sangat susah dicari sumbernya dimanapun. Aku menyalahkan post-it ku yang habis ketika aku membaca buku dan aku merengek setengah marah pada pacarku yang lebih mirip pengasuhku. Intinya aku menyalahkan seluruh dunia atas otak matiku. Aku menyalahkan seluruh dunia dan tidak pernah SEKALIPUN menyalahkan diriku sendiri. Pada akhirnya saat itu aku memutuskan untuk tetap bersenang-senang dan berencana meminta maaf pada bapak ibuku karena aku tidak sanggup melanjutkan kuliahku. Aku frustasi. Aku malas. Dan itu salah mereka sendiri. Karena memaksaku untuk kuliah. Aku sampai bilang pada bapak ibu, “aku minta maaf dari sekarang kalo ternyata aku dikeluarin ya pak bu”
Dan aku melanjutkan waktu bermain dan bersenang-senangku, liburanku yang bertahun-tahun. Aku muak sekolah. Aku muak harus menulis hukum. Otakku mati. 
Sampai pada tahun keempat. Bulan-bulan terakhirku. Bulan Maret. Aku dapat telpon dari Bapak, ketika aku sedang main dan bersenang-senang seperti biasanya. Kata bapak aku dapat surat. Dari kampus. Surat peringatan. Peringatan DO. Drop Out. Dikeluarkan. Dikeluarkan sebagai mahasiswa. Empat tahun adalah waktu terlama yang boleh kutempuh sampai lulus. Dan surat peringatan sekaligus pemberitahuan DO itu kudapat pada akhirnya. Dan kurang ajarnya lagi aku menjawab Bapak dengan santai: oh surat itu. Aku tau kok kalo akan dapat itu. Biarin aja. 
Sesampai dirumah kubaca sendiri. Dan ternyata aku tidak sesantai itu menanggapi surat itu. Aku cirambay. Surst itu mengatakan, aku harus lulus tanggal 16 Juni. Dalam artian lulus berarti yudisium. Yudisium berarti harus lulus sidang. Sidsng berarti harus selesai bab 5 dan seminar 2. Sedangkan penulisan hukumku baru sampai bab 1 dan seminar satu. 
DAN SAAT ITU BULAN MARET TANGGAL AKHIR.
Dari situ aku merasa tertampar. Buat apa nilaiku yang berderet A tapi penulisan hukum yang tidak lebih dari 100 lembar tidak sanggup kukerjakan. Aku panas. Aku menghubungi lagi semua dosen pembimbingku yang setelah bertahun-tahun tidak kutemui. Mereka lupa materiku apa. Aku mulai dari nol. Setiap hari aku pergi ke perpustakaan gedung 9. Aku ke Cimbuleuit. Saat itu puasa. Setiap hari aku diorderkan gojek oleh pacarku saat itu. Setiap weekend dia menemaniku menulis di perpustakaan. 
Penulisan hukumku hancur. Aku babak belur di seminar 2. Waktuku hanya seminggu lagi menuju tanggal DO sedangkan aku belum sidang 3. Aku makin panas dan mengejar. Bolak balik Cigadung, Cinbuleuit, Merdeka, Lengkong, Cimahi, Merdeka, Cimbuleuit. Gitu terus bolak balik bekok. 
Aku berhasil masukkan tanggal sidang. Hari Sabtu. Dan Senin, lusanya adalah tanggal DO ku. 
Aku, aku biasanya mengirim surat untuk diriku sendiri di masa depan, tapi kali ini aku mengirim surat untuk diriku sendiri di masa lalu. Ada dua hal yang ingin kukatakan:

1. Woy bego! Otak mati! Ko sia-siakan 4 tahun hanya duduk diam bodok-bodok. Sialan ko!

2. Tapi TERIMA KASIH, karena pada akhirnya ko tidak menyerah. Karena akhirnya ko tabakar juga karena surat ancaman itu dan menjadikan aku sekarang sedikit berguna.
Maaf untuk semua yang kusalahkan saat itu: Mbak Ian, Bapak, Ibu, dan Yuri. Pada kenyataanya kalianlah yang paling bersabar dan berjasa membakar otakku supaya tidak terus-terusan mati.
-untuk Winda sahabatku yang aku sayang banyak sekali, kumohon jangan menyerah pada tesismu. Jangan menyerah pada kemalasan dan keputusasaanmu. Kamu jauh lebih hebat dari apapun yang sanggup kamu bayangkan tentang dirimu. Bakar otakmu! Supaya dia tidak enak tidur lalu kebablasan mati!
Instead of bilang skripshit, ayo kita bilang dia sebagai Skripsweet So Sweet ❤

Sahabat Gelembung di Lumpur

Aku memiliki sahabat baru. Dan seperti kebiasaanku sebelum-sebelum ini: aku menulis sesuatu untuk mereka sahabatku yang paling kufavoritkan. Entah serupa racau-racau cerita penanda patok ingatanku dimasa depan– karena setiap tulisanku adalah surat untuk diriku sendiri di masa depan; atau serupa doa yang kuamini betul. Sahabat yang dengannya aku selalu bisa tertawa lepas. Disini bisa menemukan orang yang punya koneksi dan frekuensi sama denganmu itu sulitnya setengah mati. Dia laki-laki sangat cerdas. Pintar sekali memasak– sekelas Gordon Ramsey dan Maangchi, penuh niat dan kreasi bahkan hanya untuk sebungkus mie instan. Dia tahu segalanya. Soal burung, serangga, tanaman, daun, angin, semuanya yang aku tanyakan soal tempat ini yang sama sekali asing dan baru untukku. Dia bahkan tau mengenai Eva Braun dan si kumis mirip Charlie Chaplin. 

Siapapun kalian tidak akan berharap menemukan laki-laki cerdas lulusan Sorbonne lalu membicarakan mengenai penemuan radium atau polonium, disini. Atau berharap bertemu dengan lulusan Universitas Warsawa yang beberapa kali menjadi moderator Jack Ma. Bukan. Bukan orang yang seperti itu yang kau harapkan bertemu di tempat seperti ini. Atau menemukan orang yang sama gembiranya membicarakan sajak dan puisi Szymborska. Bukan, tidak yang seperti itu.

Di tempat seperti ini kau tidak akan minta banyak.  Tapi cukup bertemu dengan orang yang punya setidaknya beberapa centimeter pijakan di frekuensi yang sama. Yang sama mendengarkan Bee Gees. Yang sama menikmati video Maangchi. Yang datang Minggu pagi sekali untuk menemani Minggu pagiku yang selalu sendiri karena seisi rumah pergi Gereja. Yang bahkan telah datang sebelum teman-temanku yang gereja Katedral selesai mandi. Ia membawa benda dapur kesukaanku: minyak wijen botol besar yang tidak pernah bisa kubayangkan kumiliki di tempat seperti ini. Lengkap dengan kue dan bahkan dia memberikan infused water bekalnya untukku, dengan isian kesukaanku: irisan lemon dan daun mint. Pernah beberapa bulan kemarin dia memberikanku sepohon kecil daun mint. Sehat dan segar. Tapi kepergianku lima hari ke Bayun membuat makhluk kecil itu jadi tidak terawat, kekeringan, dan kehausan. Karena aku tidak menaruhnya di tempat terbuka, di tempat hujan mampu menjangkaunya. Dia mati kering tanpa sisa batang apalagi daun. Dia mati menghisap nutrisinya sendiri untuk bertahan hidup untuk kemudian akhirnya mati. 

Sahabat gelembungku. Begitu kami biasa saling memanggil jika kami sedang akur dan tidak saling kesal mengejek. Jika kami saling kesal kami memaki dengan sebutan KELODOK! ikan kecil endemik lumpur yang tidak bisa dimakan. Memiliki sirip yang seperti tangan dan kaki. Dia melompat dan bisa hidup tanpa air. Kami tentu lebih sering mengejek. Entah kenapa. Padahal dia dulu pertama kali kukenal sangat pendiam dan kalem dan cool dan alim dan banyak hal unyu yang kalau dimiliki laki-laki akan membuat perempuan menjerit. Mungkin memang benar kata Arif sahabatku dulu, kalau siapapun yang bergaul denganku akan menjadi culas. Tertular keculasanku. Termasuk kelodok ini. 

Aku menamainya dengan nama yang berima seperti nama orang Sunda. Dan dia menamaiku dengan nama Ice Juice. Dengan C cicak.  Bukan dengan ejaan Bahasa Inggris. 
Minggu pagi adalah hari tanpa piket masak dirumah karena semua orang pergi gereja. Dan kami harus mengusahakan sarapan kami masing-masing. Sahabat gelembungku datang menjadi penyelamat. Pertama kali yang dia lakukan adalah mengajarkanku menyalakan kompor. Meski akhirnya dimatikan kembali, dan dia yang memasak untukku. Membuatkan sarapan untukku. 
Di tempat seperti ini kau tidak akan berharap untuk bisa menemukan orang yang membaca Faulkner dengan detail apalagi Dostoevsky. Bisa tertawa karena menertawakan kartun kami semasa kecil adalah lebih dari menggembirakan. Menertawakan Wedding Peach– kartun superhero yang berwujud pengantin dan kami kesal karena betapa repot dan rempongnya berperang melawan kejahatan memakai gaun pengantin putih yang lengkap dengan tudung dan buket bunga. Menghujat Anomalisa; bagi kami itu adalah film pengukuhan para gadun dan film yang mengecourage para abg untuk menjadi cabe-cabean. 

Atau menertawakan kekayaan-kekayaan fiktif kami– ini adalah poin penting soalnya. Dia memahami gaya hidupku sebagai calon orang kaya yang sepanjang hidup sampai hari ini kutulis ini, masih menjalani gladi resik. 

Poin paling besar yang menyenangkan soalnya adalah kami sama-sama mencintai Spongebob– inilah awal mula dia menjadi sahabat gelembungku. Dan Ghibli Studio. Orang seperti ini yang mencintai Ghibli disini adalah seperti hantu atau cendrawasih oranye. Yang hanya bisa kau temui tidak dimana-mana, kecuali ia yang menampakkan diri. Kami sama-sama menikmati mengusir bosan dengan menjadi Nelalover atau Valenisti. Sama-sama mencibir Yanglek, dan menyanyikan penggalan Mitha Talahatu– hati gelisaaaaah beta seng bisa sendiri~~~~

Menikmati braingasm mendengar narasi-narasi David Attenborough soal semesta yang apa saja. 
Aku dengan ringan menceritakan soal kepandiranku, ketersesatanku, dan kemungkinan penemuanku padanya. Soal pergumulan soal religiusitas. Aku tidak malu mengaku pandir, bebal, dan bodok. Bodok dengan K dibelakang. Aku menceritakan isi kepalaku dulu yang sangat mencibir dan ingin meludahi sosok-sosok yang seperti diriku yang sekarang. Aku pikir ketika aku menceritakan soal perjalanan imanku dia akan bereaksi sama dan biasa. Tapi dia berbeda, dia menghargai kisah. Dia tidak menghakimi. Dia mengerti dan paham indahnya tinggal di tempat ini. Menjadi satu-satunya yang dirimu. Dia memahami dan merasai kedukaan. Dia mengerti perjalanan. 
Pada akhirnya selalu orang seperti dia yang ingin kuminta digandakan sebanyak-banyaknya dan didekatkan padaku dan didekatkan pada semua orang. Supaya semua orang seberuntung aku, punya sahabat yang menggembirakan seperti dia. Yang mengerti dan memahami. Yang akan menemani perjalanan dan menjadikan lebih banyak ada artinya.