Agts Bulan 3

Aku hidup di suatu tempat yang teramat panas jika dia sedang ingin panas. Hingga menyengat rasa terbakar langsung menuju kulit. Memerah dan mengelupas kulitku hitam seperti kerak gula dalam belanga panas. Aku hidup di suatu tempat yang jika dia sedang ingin dingin, aku bisa menggigil kedinginan hingga memakai kaus kaki. 

Aku tidur diatas kasur yang setiap aku bergerak terasa seperti ada bunyi keripik-keripik remuk. Tapi aku bersyukur dan bergembira. Dengan kelambu putih seperti tenda dapur umum. Aku hidup di sebuah tempat yang tidak ada satupun orang berani mengutuk hujan lebat. Meski aku–dan mungkin kami semua disini harus mengganti payung setiap dua atau tiga minggu. Karena habis hancur terkena hujan. Terkena angin. Atau karena memang karat terlalu lama disimpan tidak terjual. 

Aku hidup di suatu tempat.  Yang bisa kau lihat kepiting dan ular bersama dalam satu lumpur di bawah lantai tempat kaki menginjak. Berjalan miring atau keluar masuk lubang yang banyak. Seperti sarang semut. Seperti sarang tawon. 

Aku hidup di suatu tempat yang langitnya apabila senja dia nila atau jingga. Semau warna yang dia suka. 

Aku hidup di suatu tempat yang bintangnya menyebar kecil kulihat. Kadang ia terserak seperti beras putih di tanah pakan ayam. Kadang ia terkumpul satu jalur satu garis. Membentuk andai ia sungai. 

Aku hidup di suatu tempat yang berisik malam tidak ada selain kungkong katak. Berlombanya mereka.  Ganti bergantian. 

Aku hidup di atas genangan air jorok. Hitam kadang hijau. Kadang coklat Pramuka. Yang menyangkut beberapa kotak teh, atau kaleng penyegar panas dalam. Aku hidup di suatu tempat yang hidup serangga kecil penggigit penyebab gatal setengah mati. Aku hidup di suatu tempat yang seruan sahurnya tidak terdengar dan seruan takbir malam lebarannya tidak ada. 
Aku hidup di suatu tempat yang seluruh sudut dan hamparan adalah panggung.  Berdiri diatas tempat yang selalu lebih tinggi. 
Aku hidup di suatu tempat yang kakimu adalah yang bisa membawamu berpindah. Membeli garam di siang hari, atau mencari lombok penambah pidis. 

Aku hidup di suatu tempat–yang hanya ke arah atas kau menengadah memohon tetes-tetes lebat tanpa menggerutu takut baju cantikmu kebasahan atau jemuranmu tidak bisa kering. Aku hidup di suatu tempat yang selalu basah di bawah pijakan kakimu tapi bisa menangis karena kehausan.

Tanah ini begitu unik. Tapi aneh. Tapi membingungkan tapi membuat jatuh cinta. Selalu soal perihal hati dan rasa. Tanah ini begitu unik dan aneh. Tanah basah yang tidak punya sumber basah. Yang hidup manusia-manusia dan seluruh makhluknya mengandalkan betul belas kasihan Tuhan. Tidak ada yang lain yang menghidupi selain belas kasih dari langit. Aku selalu berpikir sejak dulu, siapa yang menyimpankan air dalam tanah? Orang akan bisa lupa bahwa air adalah pemberian. 

Aku hidup diatas tanah basah.  Yang hampir sering gempa menggoyang dan kami merasa sedikit senang karena bertambah hiburan kami bergoyang guncang-guncang.  

Aku hidup di suatu tempat yang kami pergi mencuci ketika hujan lebat bukan ketika panas penuh menyengat. 

Aku hidup di suatu tempat yang tidak kukenal satu orang manusiapun. Aku asing dan mulai berkenalan dengan diriku sendiri. Siapa aku. Sudah kenalkah aku dengan aku. Aku menjadi orang yang sama sekali asing. Dengan diriku sendiri aku berkenalan. Mencoba memaafkan–jangan-jangan bagian diriku sendiri yang hilang ia kabur entah kemana karena marah dan sesekali bosan. 

Aku menjauh. Kelihatannya begitu. Tapi aku justru mendekat. Kalau kalau memang bagian diriku yang hilang sudah kutemukan kembali– ia akan kugandeng dan kuajak pulang. Berjalan di atas papan. Sambil setiap kali langkahnya menyentuh papan rangka, kumohonkan ia maaf yang sungguh benar-benar besar. Karena aku nyaris membunuhnya. Menguburnya hidup-hidup. Dan sekarang akan kucari akan kugali. Meski menggali di kedalaman becek lumpur. 

Advertisements

Agts Bulan 2

Aku sudah mulai bosan dengan keripik yang biasa kubeli di kios Reihan. Sudah 60 ribu kuhabiskan uang untuk membeli keripik macam begitu–yang kalau di Bandung jika kubeli di toko Pak Ian tidak lebih dari 15 ribu kuhabiskan. 

Selama dua bulan ini aku sudah menghabiskan tiga payung. Iya kusebut habis karena memang habis tidak bersisa. Entah rangkanya yang hancur bubuk, atau gagangnya yang patah, atau per yang terlepas. Aku mengomel. Iya.  Tapi kemudian aku membuat perjanjian dengan diriku sendiri: tidak apa-apa setiap bulan aku membeli payung, selama payung itu benar-benar kupakai; tidak apa-apa aku harus selalu membeli payung asal selalu hujan. Payung terakhir dibeli kembar kami tiga di toko Rizky. 

Oiya, disini banyak orang mabuk. Kalau malam aku tidak bisa juga mengandalkan dua laki-laki yang mengawalku– yang sekarang hanya tinggal satu.  Karena orang mabuk lebih menyeramkan. Mereka membawa parang sedangkan kami hanya membawa kantung keresek. Kamu tahu tidak, disini tidak ada mobil. Bahkan orang paling kaya pun hanya punya motor cina. Kamu tau motor cina kan?  Motor dengan model bentuk seperti honda atau yamaha dengan merek cina. Itupun hanya motor. Tidak ada mobil. Hanya ada mobil golf.  
Seandainya kamu tahu, aku mencintai setiap sudut kota ini. Termasuk jalan kembar yang menyeramkan. Termasuk jalan yang kami sebut jalan lurus-lurus yang sangat bau tahi babi.  

Semalam saja aku melompat kegirangan ketika Albert baru datang dari pelabuhan dan menggandeng tanganku untuk cepat-cepat keluar rumah. Ada milkyway diluar!  Katanya. Aku mengomel, karena tidak dapat kulihat dengan jelas. Masih ada lampu rumah cahayanya ikut masuk mataku. Dia mengajakku ke tempat yang lebih gelap,  dan iya benar! Aku melihat milkyway! Pertama kalinya seumur hidupku!  
Aku menghabiskan malamku duduk di tengah jalan mendongak keatas. Meskipun milkyway hanya dapat kulihat beberapa jam saja. Lalu kemudian bintang menyebar dan hilang menggelap. 

Aku heboh menjerit kegirangan. Setidaknya semalam menjadi pengobat mata bengkakku yang banyak menangis. Terisak-isak. Aku benci perpisahan. Aku benci pelabuhan. Aku benci pelabuhan ketika harus melihat orang yang aku sayangi yang pergi. 

Duduk nggelosor klesotan di Syuru sambil mengomel karena koneksi lambat tidak akan sama dan seru seperti ada mereka. TJ dan Naruto,  kata Albert,  meja mini itu akan terasa terlampau luas. Risol YPPGI akan terlalu banyak kumakan sendiri. 

Aku sepertinya mulai kehilangan nafsu menulisku. Maafkan aku. Aku lebih memilih menikmati keterkejutan-keterkejutanku disini tentang apapun. Soal ritual soal kebiasaan. Bertemu dengan siapapun. Menyapa sebanyaknya manusia. Menikmati udara dan setiap tetes keringat sebesar bulir jagung–karena aku gugup dan ketakutan menyeberang jembatan yang bergoyang dan rapuh kayunya. 

Aku melampaui semuanya. Aku berada di tengah air banyak. Luas.  Dan tenang. Aku menempuh perjalanan. Aku mengalahkan ketakutan diriku sendiri. Aku melampaui apa yang bisa kubayangkan soal diriku sendiri. 

Ambay

Sore ini habis hujan lagi. Aku meminjam sepatumu. Seperti dulu lagi. Kala itu kakiku masih terlalu kecil. Sepatumu seperti sepatu Gulliver bagiku yang sementara dulu masih liliput. Sampai sekarang yang aku sudah lebih besar dan gembrot dibandingmu. 

Kamu kadang berbaik hati mengikatkan pita. Pada tali sepatu pinjamanmu. Pita yang simpul-simpulnya rumit. Susah kubuka. Tidak mati sih, tapi tak bisa kubuka. Tujuannya satu: supaya ketika kita sampai dan kamu masih membereskan bawaan selesai memarkir; aku yang biasanya langsung berlari ke dalam rumah– akan kembali mencari dan memanggilmu. Meminta dan merengek supaya kamu membukakan ikatan pita pada sepatuku.

Hampir selalu begitu. Hampir sering sekali begitu. 
Setelahnya lalu aku akan berlari. Entah menuju dapur mencari gelas. Atau ke kamar mandi. Jika sedari tadi aku menahan pipis. Atau langsung berlari menemui ibumu, dan bercerita dibelikan apa saja olehmu tadi ketika makan. Dengan cerewet. Dengan cerita penuh. 

Sudah jam lima. Kamu biasanya akan dengan geram menyuruhku lekas mandi. Dan kamu memetikkan utas-utas daun ketela.

 
Sebentar lagi Maghrib, katamu. Dan itu berarti akan bertambah lagi tugasmu. Mengantarku. 

Ke pendopo sanggar. Kamu membekaliku dengan botol minum. Terkadang kamu menemaniku. Duduk bersila. Bernyanyi dan berdoa. 
Dalam retak-retak semenan tempatku bersila kamu terkadang begitu cerewet dan banyak sekali misuh. Aku mencoba-coba memegang saron lalu semua orang memarahiku. Kadang kusentuh fu. Lalu kemudian terjatuh dan aku menutup muka karena malu. 
Kamu sesekali tertawa karena sampur yang kuikatkan di perutku terlalu pendek: karena perutku seperti busung lapar yang sedang hamil! 

Jangan kemudian bertanya apa ada awer yang sanggup menampung pantat gemukku. Kamu akan kutinju. Meski akhirnya akan kepalanku sendiri yang kesakitan.  

Mendekat pada isya kamu biasanya akan pergi sebentar lalu kembali setelahnya.
Aku tidak banyak bergerak,  disinipun begitu. Aku hanya akan banyak diam menonton,  kagum,  tercengang, mulut menganga,  kagum kembali, ribut karena kagum kembali,  dan begitu seterus seterusnya. 

Sehabis mulutku yang banyak bicara di halamanmu sampai pagi semalaman tidak suntuk– aku sendiri sekarang banyak diam. Aku banyak tidak bicara. Aku banyak tidak mendengar. 

Aku lebih menikmati bincang-bincang dengan angin. Aku, entah kehabisan kemampuan berbahasa dan berkomunikasi atau memang aku yang malas bicara. Aku malas berbincang yang membuat aku harus berpandangan. Aku lebih suka berjalan kaki sendiri sehabis jam 3 sore untuk sesekali menyapa Gloria atau Helena. Menyapa dan mengucapkan ‘dadaaaaah’ pada anak-anak kecil beringus. Dibanding harus berurusan dan mendengarkan orang dewasa atau abg tanggung saling menyalahkan dan mengatur strategi curang. Aku lebih suka duduk di trotoar jalan tol untuk mendongak ke atas ketika langit cerah dan melihat bintang, planet, dan bulan seperti beras habis giling yang disebar di atas karton hitam. Banyak bintik-bintik dari jauh, malas kuhitung. Aku hanya ingin melihat dan menikmati. Membatin dan tidak melakukan apa-apa. Tidak juga hanya berbincang atau menjawab ajakan makan malam. Aku ingin diam di ujung jembatan dekat bevak Martha sampai malam habis, seandainya aku bukan pengecut dan kakiku ceroboh–karena aku bisa saja tiba-tiba menginjak paku atau kotoran.  Atau keduanya. Aku ingin diam saja. Duduk diujung jembatan. Dan mendengar kungkong katak dan bunyi-bunyi kadal. Sebelumnya ketika sore dari barat ada selalu semburat nila jingga atau ungu. Sesukanya matahari memberi warna. Aku ingin duduk saja di ujung jembatan dekat bevak. Diam dan mendengarkan Luqman berkisah. Aku selalu suka dan tidak pernah tidak suka. Meski digigiti nyamuk-nyamuk sebesar lalat buah yang gatalnya setengah mati. Yang membuat marah menepuk mereka ingin kupitas sampai mati. Ada juga, ingin kuceritakan, semua orang harus tahu: nyamuk disini ada juga yang sebesar laba-laba kaki langsing panjang. Yang jika kutepuk isi perutnya ikut keluar. Yang kadang-kadang malas kutengok atau kuapa-apakan. Aku ingin diam. Aku ingin begini saja. Semauku diam atau berkeliling tidak punya rencana arah. Berjalan entah kemana lalu singgah sebentar dan berbincang soal entah sembarang apa dengan bude-bude yang mungkin akan kutemui. Menyapa anak SD Inpres yang menguntut  extra joss bubuk. Dia colek-coleki dengan jarinya lalu dihisap-hisap. Dia bahkan kebingungan dia harus menghisap mana lebih dulu: ingusnya atau jari berbalut extra joss nya?  

Aku ingin duduk di papan lapang Yos Sudarso. Melihat dan menikmati gerakan lincah yang kelewat motah.  Sendirian tanpa dikenali siapa-siapa atau disapa siapa-siapa. Memejam mata untuk mendengarkan nyanyian yang kencang tapi pilu.  Soal tete yang menangisi masa mudanya yang gagal ia bentuk. Soal kematian soal perangai tidak baik. Soal kegelisahan dan soal perempuan yang berdiri. 

Oh iya, jangan kau tanya soal tarian. Mereka mungkin dilahirkan untuk berdansa dan bergoyang. Mereka tidak tampak berusaha keras tapi mungkin jika kita–atau aku saja yang menari seperti mereka; aku sudah akan pingsan di dua menit pertama. Energi mereka seperti baterai kelinci. Yang dipasang langsung seribu buah berjejer. 

Mereka lahir untuk menari dan entah sebut saja semua yang kau sebut berkesenian. Disini indah. Dan kamu harus datang. Tidak untuk melihat atau mendengar apa-apa–karena disini tidak ada yang bisa kau lihat atau dengarkan. Tapi kamu juga harus ingat– tak akan banyak hal bisa kau lihat kalau kau terlalu banyak memandang. Tidak banyak kau akan mendengar. Dengan hanya banyak-banyak buka mata. Dengan hanya banyak-banyak buka telinga. 

Syuru, Agustus 2017.

Managemen Mulut

Manusia butuh sesuatu yang lain selain pengetahuan, kebaikan hati, dan ketulusan. Saya pikir dulu itu adalah aspek paling utama yang menjadikan manusia sebagai manusia. Manusia ternyata butuh hal yang lain. 
Ada anak gemuk kemarin yang selalu memandangiku dengan tersenyum. Dia perempuan. Usianya mungkin kelas empat atau lima. Pantatnya sudah besar sepertiku. Pernah kami sempat berbincang dan dia memelukku dari samping. Senyumnya manis sekali. Dia berkata aku cantik seperti penyanyi yang dia sebutkan dan pintar seperti guru di sekolahnya.

Aku menepuk-nepuk lengan kirinya dan berkata kamu jauh lebih cantik, nak. 
“Ah tidak ibu saya jelek. Gemuk dan hitam”

Tidak!! Kamu cantik!!

Lalu aku berkata pada temanku yang lain berkata bahwa ada anak gemuk memelukku dengan senang dan tersenyum. Mereka berkata dan tertawa setengah menertawakan; HAHAHAHAHAAHAHA MUNGKIN ANAK ITU MERASA BERCERMIN HAHAHAHAHAHA.

Ya lalu?

HAHAHAHAHAHA MUNGKIN ANAK ITU MERASA BERTEMU SAUDARA KEMBAR GENDUT.

Ya lalu? 
Saya tidak merasa tersinggung seperti saya akan tersinggung dan bersedih seperti kelas empat SD atau lima mendengar kata-kata itu. 
Saya mengatakan pada teman saya: saya bangga menjadi gendut dan saya bangga anak itu memeluk saya. Saya ingin anak-anak gemuk, gembrot, gendut seperti saya bisa tumbuh percaya bahwa ketika dia dewasa dia bisa tumbuh pintar, ceria, dan dicintai. Bertalenta. Karena tidak ada yang salah menjadi gendut.  Saya tidak mau anak-anak yang merasa dirinya jelek entah karena kulit atau badan atau wajahnya tak seindah anak lain; akan merasa hidupnya kiamat sudah dimulai saat itu. 

Manusia harus mulai terkadang pura-pura buta membahas yang tidak perlu bahkan pantas. Hanya karena orang gemuk bisa dimiripkan dengan babi, mereka disebut babi. Sungguh entah manusia yang mulutnya busuk– karena tidak ada pembanding kesamaannya atas bau mulutnya yang bisa ditemukan di dunia. Tidak di kandang atau bahkan sekedar nama binatang. 
Manusia butuh sensitifitas rasa. Mengingat bahwa mulutnya bisa mengeluarkan bau busuk tahi sapi yang sudah kena hujan dan panas dan hujan dan panas kembali dan hujan lalu berjamur. Ada yang perlu dihitung selain pandai berbicara; yaitu merasai berbicara. Merasai kedukaan orang lain. Manusia harus mengingat bahwa mulutnya yang tajam dan tidak ada gunanya bisa merobohkan banyak bangunan dalam kepala orang lain, yang sudah lelah dibangun satu persatu bata. Tanpa semen tanpa perekat. 

Kiwana Hewpi ❤

Namaku Yaso. Teman sebaya Kiwana (ngarep). Dulu waktu aku kecil. Aku sering dikuncir ke atas. Rambut bagian ubun-ubun dijulangkan ke atas. Persis seperti kamu, Kiwanaaaaaaaa. Tapi bedanya rambutku tidak segomplok kamu. Rambutku kriwil seperti Kait Bibi. Tipis dan kriwil. 

Ada yang berbeda dari Kiwana (gaya cadel-cadel panggilan kesayangan dari fans Kirana)– sebenernya sempet bingung pertama kali diceritain sahabat aku soal Kiwana, apa yang spesial dari anak ini– mengingat jumlah followernya cukup dahsyat untuk — bukan anak artis. Pertanyaannya dalam batin: apa yang jadi magnet dari gadis tembem ini– selain lucu gemas unyu?

Saat itu kami lagi di mobil menuju Cizz, salah satu toko cheese cake terbaik di Bandung. Yang pertama kali aku lihat dari Kiwana adalah, video cekakakan (bahasa Jawa) karena dengar Ibuk bilang ‘kejlungup’ (hahahaha. Pas ngetik ini aja aku masih ketawa). Aku pikir Kiwana masih sama kayak bocah yang lainnya. Yang lucunya rata-rata, dandanannya imut dan banyak yang endorse. Tapi beberapa kali mulai kepo, beberapa video Kiwana bikin mbrebes mili dan pernah pula sesenggukan. 

Dalam hati: ada yang beda dari anak ini. 

Hobinya tersenyum. Dan bilang ‘hewpi’ — red: happy. Ada yang berbeda dari anak ini. Kiwana, bukan cuma memprovide video lucu gemas-gemas anak kecil yang banyak bertebaran. Anak ini menyuplai energi. Tanpa sadar melipatgandakan. Dia tidak pernah kehabisan energi baik. Aku selalu percaya, bahwa sebaik-baiknya sedekah untuk orang yang jauh, tidak kenal, dan tidak terjangkau– adalah dengan bersedekah energi baik. Dan Kiwana, entah apa dan bagaimana: seluruh dirinya mengirim energi baik. Yang berlipat ganda. Yang tidak kikir dia bagikan– untuk selanjutnya dia lipatgandakan lagi, dan bagikan lagi. Dan begitu terus menerus. Anak ini seperti pabrik. Yang tidak berhenti mengolah dan memperbanyak. Persis seperti pabrik. Yang kalau dia berhenti saja barang sebentar memproduksi energi baik, dia justru akan rugi. Dan Ibuk adalah listrik dan bangunannya. Yang memungkinkan Kiwana memproduksi banyak sekali energi baik. Matanya, senyumnya, gerak geriknya, ucapannya. Semuanya mengirimkan sebuah gelombang tidak terlihat. Yang diterima dengan baik dan mampu membuat bergetar– itulah kenapa aku mengatakan tadi bahwa dengan melihat video yang penuh keceriaan dan tawa lepas mampu membuat saya mbrebes mili bahkan sesenggukan. 

Ibuk– jika Anda membaca ini, setiap doa yang diucapkan ribuan kali untuk kesehatan dan keceriaan Kiwana, percayalah itu bisa sepenuhnya tulus. Karena dengan melihat Kiwana cekakakan dan berceloteh ceria, membuat– saya khususnya, membatin ‘semoga Allah menambahkan terus kegembiraanmu tidak berhenti, nak.’

Dalam hati juga saya membatin, ‘jangan cepat besar ya nak’. Hahahaha.

Kirana, kalau kamu besar nanti dan sudah bisa membaca, dan kita berjodoh bertemu dalam tulisan ini, kamu harus tau: bahwa kamu yang kecil banyak mengubah muka-muka cemberut penuh energi gelap menjadi putih dan terang, seperti ‘makbyar’ lampu baru menyala. 

Iya, kamu dan Ibuk pasti akan kebingungan dan berkata: kami tidak melakukan apa-apa sambil menoleh kana kiri kanan kiri karena bingung.

Dan kalau aku punya kekuatan sama seperti kamu, nak, aku akan mengirim lebih banyak untukmu energi baik melalui tulisan ini– supaya pabrikmu makin kaya dan banyak membuka cabang. Meski aku tahu, kamu sudah sangat kaya raya dengan energi baik yang selalu berlipat ganda dan bertambah tidak pernah selesai kamu sebarkan– entah darimana sumbernya. 

Semoga nak, Allah membuat hatimu tetap terjaga melakukan kebaikan sederhana. Tapi tidak pernah sampai menyederhanakan kebaikan. Sesederhana kamu menangis karena friend tidak mau say sorry, justru bukan karena kamu dilempar batu oleh friend. 

Semoga mulai sekarang, anak-anak yang tumbuh di dunia semuanya memiliki energi seperti kamu– untuk membuat dunia lebih cepat makbyar lampu menyala, di tengah cemberut muka dan hati yang masih banyak penuh benci penuh dengki. Semoga Allah selalu kasih kamu hewpi. 

Dengan kasih,

TYD