Bayun

Nyamuk Bayun mengerikan. Ia tidak terdengar apalagi terasa mencucuk. Tapi dalam sekejap ia menghasilkan banyak sekali bintik seperti cacar air. Nyamuk Bayun lebih ganas daripada lalat babi brengsek yang menyuntik begitu sakit bahkan menembus celana jins dan daging pahaku yang tebal. 

Di Bayun aku selalu berkaki kosong. Bolak balik Pastoran dan pantai dan pantai dan Pastoran dan pantai dan lapang dan jalan cela hutan. Hanya untuk mengulang lagi elang sayap batik yang terbang bertiga berkeliling. Aku suka berkaki kosong, meski sakit luka-luka menginjak tumpukan hamparan kerang yang bercampur pasir. Menginjak lumpur becek dan sepohon kayu licin yang Pater jadikan jembatan. Ketika aku merengek, untuk melatih keseimbanganku katanya.
Di Bayun aku memakan tahu bacem paling enak selama berbulan-bulan terakhir aku makan buatan ibu atau dibelikan di Purworejo. Suster Alfonsa memasak tahu bacem paling enak satu Kabupaten pada saat perayaan ulang tahun Suster Basilia. Pater curang karena tidak beri tahu ada perayaan– jika tahu aku tidak akan makan banyak-banyak di pastoran. Kami berebut daun pepaya. 

Malam Paskah aku ikut pergi misa. Setelah merengek pada Pater, Pater kasih ijin. Meskipun aku tau aku akan  draw attention di gereja. Gereja yang gelap tanpa listrik. Hiasan berupa pohon pisamg segar yang ditebang dan dipindahkan ke dalam gereja utuh-utuh. Patung Yesus Kristus dalam salib cantik yang diukir-ukir. Nyanyian mama yang melengking merdu menyanyikan Tuhan Allah……oooo Tuhan Allah…..lalu disambung dengan bahasa. 
Aku kembali ke Pastoran tanpa senter. Karena bulan sedang bulat penuh dan terangnya menghasilkan silau. 

Bayun begitu sunyi dan syahdu. Meski Pastoran tempatku tinggal adalah rumah yang banyak orang mati korban tenggelam ditidurkan dan dimandikan. Pater bilang bau orang mati dirumah tidak hilang berbulan-bulan. 
Setiap pagi dan hampir selalu sore, aku berjalan sendirian berkaki kosong ke pantai. Duduk diatas akar nipa mati yang tinggi. Aku berani memanjat dan menunggu teman baru yang sewaktu-waktu datang dan kapanpun bisa kudapat. Gw akamsi, moapalo????
Setiap pagi juga aku selalu disapa oleh bapak, mama, dan banyak sekali bocah: “Selamat pagi……SUSTEEEERRR”
Ya! Suster temannya Pastor. Bukan temannya dokter. Suster biarawati. Mereka tidak pernah menemukan makhluk dengan penampilan sepertiku selain Suster. 
Bayun benar-benar pedalaman. Meski ada lagi yang lebih pedalaman dari Bayun. Tapi mereka kumaklumi memanggilku Suster. Mungkin itulah yang membuat Suster Sisilia (RIP) mengijinkanku melihatnya di ruang doa. Beliau mungkin penasaran siapa yang akan menempati susteran menempati kamarnya. Meski dengan bodoh aku memastikan berkali-kali kalau ruang doa itu adalah dapur. Dan kalau orang berbaju putih yang berkerudung berkacamata itu adalah Daniel. Aku memaksa diri dengan bodohnya lalu setelah cerita pada Pater ketika aku menemani Pater makan pisang goreng di hutan Agats, aku baru yakin benar yang kulihat adalah Suster Sisilia (RIP). Suster Sisilia meninggal tenggelam dalam musibah yang menimpa juga Pater Sipri. Pater kesayanganku itu hampir tewas dalam musibah mengerikan. Tapi Pater tidak kehilangan sisi lembut penyayangnya yang berbarengan dengan sisi galak dan melindungi. 
Pater yang pulang dari stasi membawakan kami oleh-oleh peliharaan baru: bayi kasuari yang diberi nama For You. Ketika kami sedang asik berkenalan dengan For You, Frater Soni melapor pada Pater kalau ada ular di gudang. Pater langsung mengambil senapan angin, menembak ular dan setelah lumpuh memotong-motongnya dengan parang. 
Pater yang sayang dan peduli aku. Ketika satu komplek misi berpesta babi dan amjing, sepulang ibadah di stasi, Pater menggendong ayam kampung. Katanya untuk Trias. Hanya untuk Trias. Dan harus Trias yang menyembelih supaya bisa halal kumakan.
Aku diajari menyembelih ayam oleh Albertus. Tentu saja dengan ribut, heboh, berisik, dan banyak merengek. Singkatnya aku berhasil. Ternyata leher ayam panas dan bergerak-gerak. Aku kasihan. Aku tak tega memakannya. Tapi setelah kuungkep dan kugoreng, aku lupa perasaan itu. 
Di Bayun aku tidur nyenyak sekali. Berkali-kali aku kesiangan dan tidak shalat subuh. Tidur di Pastoran terlalu nyenyak meski semua orang bilang angker dan menyeramkan. 
Di Bayun aku tidur terlalu nyenyak. Meski aku sempat juga rindu kasur dan selimutku di rumah hutan Agats. Aku rindu kamar mandi hutan. Aku rindu pemandangan burung hutan. Rindu sahabat gelembungku yang bisa kuajak bicara setiap waktu kecuali ketika dia sedang meeting penting atau menjadi akamsi kampung sebelah. Rindu jembatan papan– di Bayun kami sepenuhnya menginjak bumi dan tanah. 
Tapi siapapun yang butuh sesuatu yang seperti kucari: tempat asing yang sepenuhnya menerimamu seperti keluarga kandung– pergilah ke Bayun. Perjalan tidak pernah terlalu jauh, kalau ternyata ketika sampai kau merasa begitu dekat dengan tempat itu. Bahkan merasa rumah. 

Advertisements

Abdi 

Aku mencintaimu tujuh puluh ribu kali lebih banyak setelah hari itu.

Setelah kau menyerukan ‘Hidup sang Raja!’ sebanyak ratusan kali di padang panas ketika itu.

Bukan karena aku mencintai rajamu sebesar yang kau lakukan. Melainkan kepal tanganmu yang menjadi penanda tidak takut. Ia mengacung kepal melawan angin. Setidaknya aku mengetahui kau memiliki kesetiaan yang terbungkus selaput. Dengan cairan bening didalamnya yang memurnikanmu.

Bukan karena pula aku mencintai rajamu sebesar yang kau lakukan.

Bahwa dengan enam ribu lima ratus, cintamu pada sang raja begitu mengembang. Begitu menunduk kepala juga jiwamu penuh hormat pada rajamu.

Itulah mengapa aku mencintaimu tujuh puluh ribu kali lebih banyak dibanding sebelum kau berteriak ‘Hidup sang Raja!’.

Kau bertugas menyusun urut bunga dengan gradasi warna yang paling tipis sampai paling kental. Selanjutnya, adalah bagian alfabetis pakaian yang kau susun berdasar kecilnya hingga besar. Lalu kau menggosok lambang-lambang kerajaan: garuda sayap mengembang yang tembaga juga kuningan, dengan braso yang kau persiapkan sejak jauh hari. Agar ketika cahaya manapun bertengger sampai permukaannya, ia akan bersinar.

Bagimu hidup Raja ya Tuanku adalah berkah. Itulah mengapa kau sebut hidupmu yang kau abdikan sebagai ngalap berkah.

Di kala yang lain, matamu tak tertidur semalaman. Kau meraut anak-anak batang lidi untuk kau tancapkan pada gunungan. Dan keesokan harinya kau berjalan berlutut terseok jika bertemu papas dengan sang Raja.

Itulah kenapa aku mencintaimu tujuh puluh ribu kali lebih banyak dari sebelumnya.

Pernah kali kuingat kau berdiri di pintu Mirota. Membawa tenggok penuh bunga potong. Kau membagikan pada mereka yang melintas, seraya mengucapkan: sugeng riyadi.

Bunga potong titipan sang Raja yang menjadi salam bagi rakyat yang disampaikan melaluimu ketika terik panas.

Bunga potong segar itu bahkan berharga dua kali berkah yang kau alap setiap bulan per batangnya.

Itulah mengapa aku mencintaimu tujuh puluh ribu kali lebih banyak sejak saat itu.

Kala yang lebih lain, kau akan berteriak penuh gempita sunyi ketika arak-arakan Rajamu melewati barisanmu. Berteriak gembira ketika air basuhan pusaka cipratannya mengenaimu; lalu mengusap-usapkan ke seluruh badan yang terjangkau tangan.

Itulah mengapa aku mencintaimu tujuh puluh ribu kali lebih banyak.

Bukan karena aku percaya atas apa yang kau percaya soal air basuhan dan semacamnya. Tapi di kala yang paling lain dalam kepalaku, lakumu berbicara: bahwa tak perlulah sebuah mimpi layak dihormati dengan prasyarat kepunyaan hal besar.

Lakumu berbicara: kau mengunduh nikmat juga berkah.

Apa yang mampu menjadikan ruang benderang terang tanpa lampu kristal? Keyakinan seorang tua yang puluhan tahunnya ia jalani dengan mantap hati, dan gemertap tegap laku.

Itulah mengapa aku mencintaimu tujuh puluh ribu kali lebih banyak setelahnya. Dan keesokan yang akan seterus.

*untuk abdi dalem keraton yang berjarik dan kebaya lurik menggendong tenggokk, yang memberiku satu tangkai bunga segar di pintu masuk Mirota Batik 20 tahun lalu.

*repost dari postingan yang sudah nyaris tenggelam 3 tahun lalu

Rindu Megapolitan 

Aku harus mulai jujur dan berani mengakui bahkan memupuk rindu, Tino bilang begitu. Aku akan mengakui bahwa aku sekarang sudah mulai rindu Bandung dan bahkan Jakarta. Kota megapolitan yang terkadang sumuk, sesak, dan terlampau dinamis tapi perjalanannya lamban– macet. 

Aku sesekali juga rindu Jogjakarta. Kota yang penuh sahaja tapi dipaksa untuk menjadi gaul dan asik. 
Disini aku benar-benar menikmati menepuk lalat babi sesekali mengutuk. Menikmati tidur siang di lantai kayu tertiup angin.
Aku rindu sesekali bisa sewaktu-waktu memanggil grab car atau menelepon dengan lancar tanpa putus sambungan di tengah pembicaraan. Aku merindukan sebuah megapolitan terkadang. Aku merindukan resital piano yang bisa kuhadiri dan merasa sendiri dan menikmati meski dengan siapapun aku menghadirinya. Terkadang anak-anak mungil yang sudah berhasil membuat resital. Kadang-kadang seorang profesional yang membuat sebuah pra pertunjukkan internasional di rumah sendiri. Aku merindukan diskusi sengit dalam pusat-pusat kebudayaan anak muda. Membicarakan soal proyek keberangkatan ke Mars yang tanpa kepulangan. Atau membahas soal air yang sebagai emas biru– kami disini dirumah kami, teman-temanku dan aku memperlakukan air melebihi emas. 

Aku rindu berdiskusi dengan sahabat-sahabatku setiap Minggu pagi yang mendung, terik, bahkan hujan di taman-taman yang semakin cantik di Bandung. Kami membicarakan soal konspirasi, sastra, pemimpin yang genit, atau bahkan soal pengalaman teman kami yang ditipu menjadi penjual panci. 
Aku merindukan berkeliaran hingga malam. Makan hingga perut kembung dan begah. Dengan porsi sendiri ataupun porsi kakak adik. Aku merindukan rute angkot yang jauh. Yang selalu melewati Supratman atau Cimanuk. Aku merindukan Togamas. Baso bakar dan onde-onde. Siomay Pahlawan. 

Aku merindukan setiap pembicaraanku yang spesifik dengan orang-orang yang spesifik. Aku merindukan sebuah negeri yang jauh yang belum pernah kudatangi atau bahkan belum bisa kubayangkan. 
Aku merindukan sebuah momen dimana aku berbincang mengenai isi kepalaku yang paling kelam dalam sebuah kedai daging iris tua atau tenda bakar ikan sambal jeruk nipis. 
Aku merindukan menyebrang jalan di lampu merah. Aku rindu lampu merah. Aku rindu memakai helm. Aku rindu mobil yang sering kumaki karena mereka menyiprati comberan ke kaus atau celanaku. 

Aku rindu sebuah perihal yang tidak mampu kuingat apalagi kusebut. Aku rindu soal rencana-rencana yang tidak pernah bisa kusebut sebagai janji. 

Aku merindukan gerobak-gerobak. Aku merindukan stasiun dan kereta. Aku merindukan angkringan dan kafe mahal yang borjuis kelas atas. Aku rindu pusat belanja yang penjaga keamanannya meremehkanku karena aku bersendal jepit. Untuk ini aku tidak terlalu rindu. Aku hanya mengingat. Tapi bukan rindu. 
Aku rindu kedai-kedai tenda nasi goreng yang di sembarang tempat bisa kutemui.  

Aku rindu sebuah kota yang banyak hatiku kusimpan disana. Bandung-Jakarta-Jogjakarta. 
Ada yang aneh. Aku lebih merindukan papan-papan tua dan reot. Aku merindukan matahari terbenam di air Asuwetsy. Aku merindukan perjalanan ke pelabuhan. Merindukan bunyi brengsek lalat babi dan gigitannya yang membuatmu memaki. Aku merindukan setiap hujan yang kuminum dan kupakai membasuh. Aku merindukan tempat ini bahkan sebelum aku membayangkan akan meninggalkannya.

Anak Mulut Sumpal Kain

Aku kenal seorang anak. Hobinya bermain perang-perangan. Bukan perang macam starwars atau starship troopers. Bukan perang bintang yang menggunakan pedang dan sepatu lampu menyala-menyala. Bukan perang yang laju kendali kau pegang dalam sebuah ruang dingin terang yang bisa terbang ke utara atau selatan sekejapan kedip mata. Bukan. Bukan yang seperti itu. Anak itu tidak hobi yang perang macam begitu. 

Anak itu hobi bermain perang kerusuhan. Kerusuhan agama. 

Austin namanya. Tanpa Power. Kupanggil ia Tin. Tin yang seperti buah tin. 

Sesekali ia main perang dan berperan dengan teman-teman satu pengungsian jika mulai bosan ia menunggu kapan akan dijemput. Kadang kala ia berperan menjadi seorang Muslim yang memiting kepala dan ketiak teman Katoliknya. Sesekali ia mencari pelepah pisang digunakannya ia serupa ak47. Mau sesekali ia serupa angkatan bersenjata. 

Tin menembak mati. Kadang menebas pura-pura. Teman satu pengungsiannya tergelepar seperti ikan sepat habis kena serok satu kali ciduk. 
“Tin……….!” 
Nenek Tin memanggil. Tin harus mandi. Badannya penuh debu lapangan setelah habis ia berguling dalam perang kerusuhan.
Selepasnya kalau malam sudah mulai datang kasih gelap kembali. Ia harus rapat-rapat meringkuk di ketiak Nenek. Tin sebenarnya ketakutan. Gereja itu gelap. Tin takut bukan pada gelap. Tapi pada suara ketika tidak ada suara. 

Tin yang cengeng hobi berkelahi. Tin yang manja suka menempeleng. Tin terlalu banyak menonton kekerasan. Serupa opera dalam gedung teater rakyat. Terbuka dan tanpa sensor. Tidak dipungut bayaran dan tanpa membeli karcis. 

Ada yang aneh. Ada yang aneh. Ini bukan sebuah cerita pendek ternyata. Ini cerita. Cerita saja. Tanpa pendek. Kalau beberapa kala kemarin aku menulis soal kamp Yahudi atau Srebrenica. Aku sekarang berbicara soal tempat yang begitu dekat denganku. Dan aku bersedih ribuan kali karena ternyata ia dekat. 

Tin adalah anak Indonesia. Dua puluh sekian banyak tahun lalu. Tin yang anak-anak, hampir mati ketakutan. Hanya karena ia Katolik. Hanya karena ia menunduk dan menutup mata menderas Salam Maria. 

Ia hampir mati tercekik habis napas karena ada kain menyumpal mulutnya. Mulut liarnya yang menangis menjerit akan membahayakan dirinya sendiri. Nenek mengambil segumpal kain. Menyumpal mulut yang besar jeritannya. 
Gereja padam terangnya. 
Ia Katolik dan ia ketakutan menjadi Katolik. Ia sesekali takut dibakar dan ditebas. Ia diteriaki kafir. 
Kalimat yang mereka teriakkan bukan lagi menjadi puja dan puji. Tapi terdengar serupa seruan ancaman. Isi semesta ketakutan. 
Tin kecil hampir mati ketakutan. Diserbunya mereka dalam gereja padam. 

Ada yang entah aku pertanyakan. Apa yang pertama kali ia pikirkan soalku. Aku sempat malu muka. 
Tin melanjutkan cerita. 
Yang menghalangi pintu gereja dari serbuan adalah ayah dan ibu kecilnya. Yang muslim! Yang berteriak harus melangkahi mayat mereka untuk dapat masuk.
Kuberitahu: masa kecilku dan masa kecil kalian terlalu indah. Yang permasalahan terbesarmu saat itu adalah kalian terlalu banyak memiliki tazos dengan gambar Duffy Duck dalam koleksimu. Dan kau menggerutu karena itu. 
Jangan lagi kalian sebut masa kecil suram ketika kau nakal dan membangkang ayahmu akan menarikmu ke kamar mandi dan menggerujugmu lalu mengeramasi. 

Tin kecil hampir mati ketakutan. 

Ia masih hampir mati ketakutan meski dia sudah pindah pengungsian. Bukit Rosenberg. Sanatorium kusta. Itu teman barunya. Tapi ada yang belum baru: ia masih hampir mati ketakutan. 

Aku tidak akan menyalahkan Tin, jika saat kami pertama bertemu ia melirikku sinis bahkan meludahi. 
Aku juga tidak akan marah jika memang perlakuan dia akan paling beda ketika aku bertamu ke pastoran. 

Tapi dia tetap memasakkanku ikan ketika seisi rumah sedang berpesta daging anjing bumbu Manado. 

Dia menungguiku gerimis-gerimis di depan mesjid sampai aku selesai shalat Maghrib lalu dia mengantar dan memastikan aku sampai kembali pada teman-temanku di Ambay. Bukan hanya sekali atau dua. 
Perlu kalian tahu: hanya aku muslim sendiri dirumah ini. Dan di lingkunganku.  Tapi mereka menyayangiku lebih dari apapun dan siapapun. Aku diantar dan dijemput jika aku ingin shalat dan bermain dengan anak-anak TKA. Aku selalu dimasakkan sesuatu yang bisa kumakan dengan halal. Mereka mengecilkan suara ketika aku shalat. Mereka menemaniku menjalankan Islamku.

Srebrenica dan kisah Tin mengungkap: bahwa selalu akan ada yang menjadi monster tidak terlihat. Bukan hal yang selain kamu. Bukan yang berbeda denganmu. Bukan yang tidak sama denganmu.
Dimanapun dan menjadi siapapun kamu, akan selalu ada yang menghantuimu. Meneriaki tidak beriman dan salah jalan. Meneriaki paling keliru dan tidak selamat. 

Selalu akan ada yang berteriak paling kencang: kalian sesat. Kalian tidak suci. Kalian tidak akan pernah selamat. 

Tapi bukan mereka yang berbeda dengan kita cara merapal doanya. Atau yang berbeda mengucap salam pada semesta. Bukan yang berbeda pegang rosario atau tasbih. 
Monster itu tidak terlihat. Tidak memiliki nurani dan cinta kasih. Tidak memiliki justifikasi tidak bisa dipersonifikasi. Monster itu tidak terlihat. Masuk ke dalam sel-sel dan dinding pembuluh darah. Ia menjalar seperti hemlock yang begitu cepat mematikan otak. 
Ia seperti serupa virus. Yang mengendap dalam darah manusia dengan antibodi lemah. Yang hati nurani dan kasihnya ia hemat-hemat berikan hanya pada yang mereka pilih. 
Selalu ada yang seperti virus dan monster sialan itu. 
Tapi selalu ada juga penawar bagi setiap racun. Yang menakutkan bagi monster jahat: kasih.
Tapi aku, aku sampai sekarang masih mau akan menganggap monster itu hanya legenda masa lampau. Karena aku selalu dikelilingi manusia sehat tidak terinfeksi. Yang kasih dan cintanya begitu berlimpah tidak pernah berkesudahan. Yang mungkin sama isi kepalanya denganku, yang selalu yakin: Tuhan akan berhenti senang kalau kita menghemat-hemat kasih.
Mereka orang yang berteriak “kafir…kafir…” harus sesekali pergi makan malam denganku. Hidup dalam rumah yang kutinggali. Kami berdoa makan sesekali dengan Doa Bapa Kami, sesekali dengan doa lembut Protestan, sesekali juga dengan allahuma bariklana….
Hidup dalam heterogenitas tidak menjadikanku pudar apalagi tercemar. Hidup dalam perbedaan dan keberagaman justru semakin menegaskan identitasku. Keyakinanku. Bukan dan tidak pernah menegasi. 
Lagi-lagi, aku yakin Tuhanku penguasa semesta tidak akan marah jika kita berbagi sedikit kasih. Apalagi banyak. 

*untuk T. Atbar, anak kepala menangis yang mulutnya disumpal kain– yang mengajarkanku pengampunan dan kematangan spiritualitas.

Botak Pecak

Agats, Januari – Februari 2018

Air pasang untuk kesekian kali mendorong harapan dan suara minta tolong, yang megambang di atasnya yang masih cokelat, keruh, dan jorok.  Segalanya terbawa bersama serakan botol air mineral dan sampah rumah tangga, bahkan sampah sumpah serapah yang dibuang sembarangan ketika meludah air pinang dengan bebasnya ke daratan perut ibu, tanpa mereka indahkan perasaan lumpur yang dipijaki. Tak ambil pusing dan semua menganggapnya lumrah. Walau mungkin meninggalkan kesan jorok dan jijik bagi sebagian yang bukan penikmat cemilan pinang kering dengan sedikit kapur yang melengkapi rasa dan memberikan  sensasi kesempurnaan. Daratan lumpur seperti dilukisi dengan karya abstrak dari mulut-mulut pecinta pinang yang kerap ngomong ngalur-ngidul seraya memamerkan tumpukan gigi yang merah agak mengarah kehitaman. Kadang juga berteriak dengan lantang ”bareoooo….pecak (ooo..betapa malangnya)”. Makin lama perutnya kian membuncit dan lipatannya melampaui gundukan tai sinak. Aku hidup di atas kota rawa yang terlihat berjerawat dan agak bopeng  karena bertebaran hamparan gundukan kotoran  hewan yang berwarna merah, sepintas terlihat seperti monster udang berukuran tanggung yang kerap keluar rumahnya waktu air pasang sempurna. Sinak. Begitulah penduduk setempat menamainya, namun perut Asmat bertambah besar sekarang. Bukan karena ibu sedang mengandung, namun karena lapar perutnya sampai menggembung sampai membusung. Bau lumpur semakin busuk. Bercampur dengan kepedihan dan derita yang semakin menggelembung. Seperti anak lapar tertunduk lunglai karena tidak dapat makan sagu, itulah wajah Asmat yang kini aku tempati.  Yang  tersisa bukan lagi ukirannya yang mendunia namun sebab perut buncit para anak dan ibu yang diisi dengan angin dan entah apa. Sesekali aku ingin mengutuk dan mendatangi satu per satu manusia yang kutemui dan bertanya “Siapa yang bertanggung jawab dengan semua ini ?”. 

Asmat menangis dalam kesedihan mendalam. Asmat enggan membalas tatap. Ia sibuk meratap. Asmat enggan membalas jawab. Padanya semua melempar tanya dan salah. Padanya semua menagih pertanggungjawaban.

Aku melihat perempuan botak meraung menengadah. Memohon seumpama ada diatas kepalanya yang bisa berbelas kasih. Bersamanya pula aku merenungi wahai apa ini. Dalam kesedihan yang mendalam, hatiku membuncit terisi angin kesedihan. Botak kepalanya baru cukur. Sebuah pertanda duka cita. Sebayi kecilnya yang belum dua tahun baru saja diselimuti kain putih hingga menutup wajahnya. Ia mati. Meninggal. Wafat. Tewas. Entah kata apa yang cukup cocok untuk bayi itu. Ada yang membunuhnya. Sebuah monster besar. Tapi ia tidak terlihat. Terlalu halus dan tipis seperti selaput. Tapi ia besar dan mengerikan. Ia datang tanpa pemberitahuan. Ia datang tanpa keliru alamat. Ia membawa sekantung penuh entah apa. Hendak ia bagikan rata pada anak-anak. Seperti santa claus mata satu. Ia membunuh. Tapi ia entah apa.
Adonimia Yeripit tidak pernah sangka ia antar anaknya menuju sebuah yang semua orang sebut sebagai kematian. Biasanya ia pergi ke seputaran rumah sakit untuk bermain di Tugu Tangan atau mengantar anaknya yang lain bermain bola kaki dari gulungan kertas bekas pemberian fotokopi di lapangan koramil. 

Sekarang ia harus botak. Sekarang ia memilih membotaki kepalanya. Ia kehilangan anak bungsunya. Yang kaki dan tangannya mungil tipis tulang. Dan perutnya menggembung buncit. Keras dan seperti nyaris meledak. 

Sekarang ia harus botak. Dan menangisi lebih banyak hal lagi. Soal bagaimana ia pergi gereja dan mencari dimana derma esok hari. Soal kesedihannya melihat sebayi kecilnya yang masih ringkih dan harus melihatnya dikubur dalam rendaman lumpur yang menggenang. Soal bagaimana mengantar bayi kecilnya yang kaku dan tidak bergerak– yang perutnya busung nyaris meledak. 

Ia hanya kembali meraung sambil menengadah. Berharap ada belas kasihan dari atas kepalanya atas kemalangannya. 

Adonimia berduka dan malang. Asmat berduka tapi tidak malang.

Aku jatuh cinta untuk pertama kalinya kepada Asmat tahun lalu. Waktu hujan mengguyurnya, maka ditampakanlah keindahan  luar biasa. Namun kini hujan seperti seumpamanya ia air mata. Ia menangis.

Atau mungkin cinta ini yang absurd. Aku terpikat pada lumpur. Pada ketenggelaman lumpur. Tapi rasanya aku kehilangan arah untuk berjalan didalamnya. Kompas batinku mati seketika saat melihat semua kejanggalan yang terjadi. Betapa teririsnya bersentuhan dengan anak-anak yang kekurangan gizi untuk tubuh maupun otak mereka. Namun yang membuat mereka kuat yakni karena ibu. Alam yang memelihara dan mendidik mereka dengan cinta yang asri tanpa  ada parasit yang mempolitisir di dalamnya. Aku tak sangup berbuat banyak selain meratap sesekali mengutuk pada entah apa entah siapa.  Aku hanya seperti hujan semalam yang jatuh menggenangi sebagian papan lapuk. Hanya diiingat saat malam dan ketika matahari mulai beri sinar megah, aku mengering dalam seantero ingatan.

Adonimia gundul dan malang. Adonimia botak dan pecak.

Adonimia sekarang harus botak. Dan menangisi lebih banyak hal lagi. Soal bagaimana mencari dimana derma esok hari. Soal kesedihannya melihat sebayi kecilnya yang masih ringkih dan harus melihatnya dikubur dalam rendaman lumpur yang menggenang. Soal bagaimana mengantar bayi kecilnya yang kaku dan tidak bergerak—yang perutnya busung nyaris meledak.

Ia hanya kembali meraung sambil menengadah. Berharap ada belas kasihan dari atas kepalanya untuk kemalangannya.

Adonimia dan aku tidak banyak memiliki kisah. Tapi setiap pertemuan dengannya selalu ada keceriaan dan keramahan yang tidak pernah habis dia kembangkan. Membuatku merasa berat untuk berpisah dengannya. Ibu yang ramah juga baik dan cantik. Meski selusin giginya merah kena noda pinang, meski ibu jarang mandi namun selalu memberikanku camilan pinang kering lengkap dengan sirih buah dan sedikit kapur dalam lintingan plastik bening. Ibu yang menyapaku lembut dengan nama anakku sayang meski sebenarnya aku lebih tua darinya beberapa tahun. Selalu menertawakanku saat aku mabuk pinang. Aku membawakannya rokok kretek dan ia memberiku seumpama cinta dalam lempengan pinang kering yang pipih. Hampir seukuran dengan hosti yang aku makan pada perayaan Ekaristi hari Minggu. Hanya saja diameternya kurang mencukupi. Kami duduk di pasar bak preman pasar yang nimbrung di dekat bait suci. Berbicara panjang lebar tentang banyak hal dengan diselingi tawa muncrat bersama semburan tai pinang dari mulut masing-masing. Anak-anaknya sebanding dengan gelodok yang bersliweran dekat papan sambil sesekali berselancar dengan tubuhnya dan menciptakan nada “clup…clup…clup” di atas kulit air. Kami menyaksikan pengemudi motor yang tanpa helem, tanpa tau aturan lalu lintas, tanpa lampu merah. Bahkan tanpa takut untuk ditilang polisi karena memang di kota ini tak ada satu orang pun yang memiliki SIM. Kami hidup bersama alam dan kebebasan.  Bersama lumpur dan karaka pun gelodok yang berpesta pora dalam kubangan lumpur. Sebelum akhirnya semua itu berubah saat monster setipis selaput yang tidak terlihat membuntuti kami. Ia seperti santa claus mata satu. Ia enggan melihat dengan baik. Campak serta gizi buruk merenggut sebagian besar nyawa adik-adikku bahkan teramat kasihan sebab mereka yang belum sempat belajar makan buah pinang.

Rasa nyaman begitu besar ketika aku masih dipanggil “sayang” oleh mereka. Tak takut aku berenang dalam lumpur cokelat penuh tai. Karena banyak ibu dan ayah serta saudara yang mencintaiku bahkan berani menamaiku dengan panggilan sayang.  Namun kini aku sangsi. Saat aku melintas di depan pasar, tak ada lagi ibu yang melambai dan memberiku  camilan pinang. Semuanya seakan berpaling. Semuanya sibuk membotaki kepala sambil meraung dan meratap. Pada papan reot atau hujan tengah malam. Aku dilema. Seakan rasa benci pecah ketika melihat santa claus bermata satu. Berpapasan denganku. Campak dan gizi buruk dalam batinku bahkan lebih sadis dari ulat sagu yang menggerogoti pangkal sagu sendiri. Ibu dan anaknya sama-sama menderita gizi buruk dan campak kini dan aku merasa seperti gelodok tak berguna. “Ya Tuhan….aku ini gelodok tak berguna”. Gumamku disela rintik malam yang kesekian kalinya setelah disembunyikan awan untuk beberapa saat yang lama.
Namaku Adonimia Yeripit. Anakku mati. Meninggal. Wafat. Sa pu anak ada hilang ditelan mati.

Dia anak ketujuhku di usia 23 tahun. Namanya Aloysius Desnam. Kuberi nama dia Aloysius, nama pemberian seorang Frater asal Bandung. Ia memberi nama anakku seperti nama sekolahnya dulu. 

Aloysius anakku paling kecil. Paling mungil dan paling tipis. Sejak ia lahir ia tidak punya pipi bulat dan mata bersinar dengan bulu mata lentik seperti keenam kakaknya. 

Matanya bulat nyaris keluar seperti mantan mantri gila perempuan di kampung kami dulu. Aku sempat berpikir jangan-jangan anakku terkena kutukan memiliki wajah dengan mata sepertinya. 

Kulitnya terbungkus kulit tanpa daging. Bahkan aku bisa melihat dan meraba sendi-sendi tulangnya. 

Perutnya membusung seperti nyaris meledak. Ketika aku sekolah dulu, aku pernah diberi lihat guruku sebuah gambar. Sebuah negeri bernama Ethipoia atau Ethiapoi atau Etaaipoi atau Ethiopia, entah apa namanya. Ada sebuah gambar seperti anakku. Anak dengan perut membusung nyaris meledak tapi mata belo nyaris keluar yang cahayanya redup tatapannya kosong. Gambar itu seperti anakku. 

Aku adalah perempuan celaka yang seluruh hidup sisanya kuhabiskan untuk menyesal. Aku menyesal tidak bertahan sebentar lagi saja untuk tetap sekolah. Aku merasa celaka. Dan berhutang pada diriku sendiri di masa depan. Aku berhutang pada anak-anakku. Yang mati kelaparan. Yang mati dengan tulang tipis dan perut nyaris meledak. Aku berhutang pada mereka. 

Kalau aku sedikit saja bersabar dengan mulut dan pukulan busuk orang tuaku, aku akan memakai kebaya kutubaru atau atau kebaya Kartini dengan kain di kabin pesawat maskapai kelas satu. Dan kalau aku sedikit saja bersabar untuk tidak menukar usia remajaku dengan pinangan yang tidak seberapa berarti– aku bisa mengajak dan melayani anakku sendiri di dalam pesawat agar tidak kelaparan. Dan anak itu bisa Aloysius bisa bukan. Bisa ia gemuk menggemaskan, bisa juga tetap tipis tulang ringkih patah.

Atau bisa juga aku menjadi pemain peran di gedung teater atau menjadi penyanyi di broadway. 

Guruku pernah mengatakan aku adalah anak Asmat paling cerdas. Aku fasih berbahasa Inggris dua kali lebih cepat dibanding temanku dari Toraja atau Manado. Aku paling gigih mencari tugas mewawancarai sejarah atau meneliti pergerakan tanaman terhadap matahari. Aku mengikuti lomba sprint dan marathon yang persyaratannya adalah laki-laki. Aku mampu menganalisa persamaan-persamaan yang bahkan tidak mampu dikerjakan guru Sejarah atau Bahasa Inggrisku. Aku kepala goyang dan badanku paling lentur diantara semua temanku. Aku pandai mengukir dan menganyam noken. Aku adalah anak paling cerdas yang pernah ditemui guruku di Asmat. 

Sampai semuanya berhenti. 

Pinangan tidak seberapa berarti itu mengantarku pada sebuah awal yang sebenarnya bagian paling akhir. 

Pernikahan yang melelahkan. Pukulan dan makian. Mengandung ketujuh anak. Badan dan vaginaku lelah. Aku hanya terus disetubuhi tanpa diberi makan dan uang belanja. Jangankan lipstik dan tas chanel atau kaus zara. Pernikahan cuma sekedar legalisasi persetubuhan yang disahkan bapak Pastor. Aku mencari sendiri kayu bakar untuk memanaskan sagu yang kuperoleh susah. Laki-laki dirumah kami hanya berfungsi menyetubuhi dan menghamili. Akulah kepala keluarga sekaligus ibu yang manis. Aku harus membelah kayu bakar dan memetik pucuk pakis di lumpur halaman sekolah inpres sambil menggendong dua anakku yang masih bayi. Sementara kelima anakku mulai merengek kelaparan. 

Tidak ada yang bisa kumasak. Tidak ada yang bisa kupakai membeli apa yang bisa kumasak. Tidak ada yang bisa kucari selain pucuk pakis atau kangkung jorok. Sungai terlalu jauh. Tidak dapat kuserok ikan atau udang seperti yang digambarkan dalam iklan wisata alam. Urusanku terlalu banyak dan brengsek untuk pergi berjalan jauh ke sungai dan hutan. Anak balita yang terlalu banyak dan penuntut. 

Kalau sudah begitu dengan kesal kuberikan mie instan supaya mereka kunyah mentah-mentah. Hingga mereka kenyang dan mulai diam. Urusanku terlalu banyak untuk memenuhi standar yang bahkan tidak pernah cocok untuk kami. Kesehatan apalah itu. Biar sudah! 

Urusanku terlalu banyak. Mengangkang melayani libido laki-laki. Mengurusi balita yang selalu merengek. Mencari kayu bakar untuk menjarang air guna putar kopi. Urusanku terlalu banyak. Memberi makan banyak sekali orang. Aku hanya mampu turun lumpur dan memetik pakis. Badanku sendiri tidak ada isi dan tenaga. Aku kelaparan. Aku menyesal. 

Seandainya aku bertahan sedikit saja. Aku yakin bisa menjadi perempuan pertama yang menjadi Bupati. Atau perempuan pertama dari kampungku yang menjadi pramugari atau pilot. Atau perempuan pertama yang menjadi apapun yang aku inginkan. Yang memastikan anak-anakku tumbuh cerdas dan segar badannya. Yang memiliki otoritas atas tubuhku. Menentukan kapan tubuhku: untuk mengandung, untuk melahirkan, bahkan disetubuhi. 

Aku ingin membayar hutangku. Aku ingin memperbaiki. Aku ingin anakku kembali. Kutumbuhkan menjadi anak yang tidak nyaris meledak perutnya. 

Aku ingin jika aku membotaki kepalaku, itu karena aku memiliki hak atas tubuhku dan menjadi gembira karenanya. Bukan karena botak dukacita. Bukan karena aku merayakan kematian anakku. Bukan. Tidak pernah sekalipun.

*Untuk Asmat sayang o. Cepat sembuh Asmat. Jangan sakit. Jangan sakit. Cepat sembuh. 
Tino-Trias

#cerpen #ceritapendek #Asmat #giziburuk