Cemenem: Rumah Ambay

Beberapa kali aku keceplosan dan semua sahabatku di Bandung marah. Mereka mendengar bahwa aku mengatakan ‘pulang’ dan ‘rumah’ merujuk pada Rumah Ambay. Bukan Bandung lagi. Mereka bersedih. Katanya aku seperti bukan anak Bandung lagi yang suka naik angkot atau menghabiskan uangnya di cafe atau jajanan yang berkelimpahan.
Aku entah salah atau tidak, sudah merasa Rumah Ambay adalah rumahku. Rumah saat aku butuh tertawa atau penghiburan. 

Rumah Ambay. Isi rumah itu…… Aduh. Bisa emosi sendiri aku menceritakannya. Isinya penuh pria-pria culas yang tidak habis menggodaku. Menggoda dalam artian bukan genit gombal manis. Tapi menggoda sampai aku menangis karena kesal! Apa yang paling membuatku gembira dengan mereka adalah mereka memiliki kisah dan mereka mau berkisah. Meskipun itu hanya pada momen-momen yang tidak terduga dan tidak direncanakan. Sisanya? Semuanya soal hal jorok dan kotor. Meski mereka sanggup membicarakan eksistensialisme Sartre sampai Kierkegaard. Juga mengenai pendaratan roket dengan mulus di planet entah mana. Juga membicarakan filsafat dari sudut pandang matematika dan fisika. Kalau kami sudah sampai pada pembicaraan macam begitu, mereka pasti akan membelokkan lagi obrolan ke topik asali dan orisinil mereka: pembicaraan kotor. 
Mereka bilang, berbicara mengenai hal cerdas dan sok pintar bisa dengan siapa saja, tapi kalau satu paket dengan pembicaraan kotor, itu hanya denganku. Dan mereka tidak rela kami menjadi sok pintar kampret kalau melulu membicarakan soal filsafat dan ilmu yang entah gunanya apa kami perdebatkan. Sial! 
Tapi aku tetap selalu butuh mereka, sahabatku disini. Para pria disini yang isi kepalanya tidak pernah bersih. Tapi besar kasihnya padaku. Aku selalu membutuhkan mereka, karena mereka yang menyalakan kompor untukku kapanpun aku berteriak. Kalau aku sudah pindah rumah tidak dengan mereka lagi, pasti aku akan datang menginap di hari Sabtu malam dan menjajah kamar salah satu mereka. Kalau di tempat baru aku kehabisan air aku pasti akan datang kerumah ini mandi dan keramas dan mencuci. 

Meski mereka semua laki-laki kampret yang paling sering kuadukan pada Mang Onal karena mereka sering menggodaku dan mengejekku. Jika sudah begitu Mang hanya akan bilang dengan tegas ” Roy, Dofir, stop ganggu sa pu konco!!”

Bukan hanya mereka yang sering kena marah. Kadang Albertus dan Dion sering juga kena marah. Meski sebenarnya kadang justru Mang sering tambah-tambah ejekan mereka untuk membuatku makin merengek. Tapi lalu Mang akan berkacak pinggang berteriak “Heh stop ganggu sa pu konco” 
Hahahaha. 
Kadang aku sering mengadu aduan-aduan fiktif. Biasanya Bang Roy dan Dofir akan memelototiku dan mengacungkan tinju padaku tanda mengancam. Tapi itu justru makin membuatku berteriak lebih kencang memanggil Mang. Hahahaha. Meskipun mereka paling jail dan keji menggodaku, merekalah yang dirumah ini yang membuat perjalananku menyenangkan. 

Kami bebas berbicara kotor karena isi kepala mereka yang tidak pernah bersih. Tapi mereka tidak pernah genit padaku. Mereka anggap aku laki-laki. Sering kami membicarakan politik atau sains tapi kemudian dibelokkan kembali pada isi kepala mereka yang kotor dan jorok. Lalu kalau mereka mulai lagi mengejekku, aku akan berteriak kencang mengadu: Maaaaaaaaaang!!

Paling sial adalah ketika Mang harus pergi ke distrik antar Bupati berhari-hari. Mereka pasti akan menjailiku dan bilang kalau “Ha mati koe mau teriak sama siapa Mang ada pergi seminggu” 

“Kau buat daftar sudah apa yang kami ada lakukan, dari seribu daftar Mang hanya akan ada marah satu kali saja. Pijit-pijit sebentar Mang su lupa”
Kalau sudah begitu aku hanya bisa menrengek pada Albertus meminta dibela. Meski jawabannya hanya: iyo.. Iyoo.. Iyoo.. Dan iyo!
Tapi bagaimanapun dia #cemenemforever ku. Kalau rasa haus dan diluar terlalu panas dia yang akan dayung keluar untuk cari minum dingin atau es batu. Dia yang paling mudah kuperas kalau dia punya rahasia lalu aku untung micin beberapa bungkus. Kalau Tino datang dan bicara mulai mengesalkan, aku akan berteriak “Albertuuuuuuuuusss….!” 

Dia yang antar aku kemanapun aku mau. Dia yang belikan aku jajanan supaya aku bisa ceria kembali setelah muka kentut.

Lalu Tino akan mulai menepukku dan bilang “hush jangan bilang Albert nanti dia kira kamu saya apain”.
Meskipun lelaki kampret ini adalah yang paling sensitif menilik apa yang terjadi padaku. Mereka paling sensitif kalau aku pasang muka-muka kentut. Merengut dan menyendiri cemberut tidak enak dilihat. 

Mereka akan hibur-hibur aku entah bagaimana caranya lalu tertawa. Entah dengan sogokan makanan atau kusuruh mereka cuci piring. 
Pernah satu kali aku kelaparan sore-sore. Selesai Daniel dan Beta masak aku langsung makan sendirian. Jam setengah 8 malam ketika Albertus pulang, dia mengajakku makan dengan yang lain, aku bilang “Gak mau! Gak selera makan! :(” *dengan muka memelas.
Lalu Albertus bilang “Hei ko makan sudah. Nanti ko sakit”
Aku hanya makin memelas “Gak mau 😦 gak selera”

“Mau sate? Yang di cemnes? Kambing?”
Aku dengan girang “Mauuuuuuuuuuu”

Hahahahah. Dia langsung ambil motor dan ke atm dan pergi cusss ke cemnes. Harus ke atm dulu karena itu sate paling mahal di kota ini. Hahahaha.

Ketika dia sampai, dan kubuka satenya dengan girang, Beta berteriak: NENG KAMU MAKAN LAGI???
Albertus murka. LU UDAH MAKAAAAN? KAMPRET GW DITIPU!

Hahahahah. 

Gara-gara Beta, aku harus cari trik lebih rumit lagi untuk membuat Albertus bisa kumintai jajan. 
Atau Bang Roy, gadunku nomor satu sejagad raya. Pernah dia membayar 3,2 juta untuk belanjaan kami. Padahal total belanjanya hanya 400ribu.

Aih betul kebaikan mereka dirumah ini benar-benar menjadi nyawa dalam perjalananku. 

Atau Mang yang mengajakku dengan Dion pergi membeli minyak bensin dengan alasan aku sangat ingin naik speed Bupati seperti apa. Peleeeeee kencaaaaang sekali! Aku sampai kesal dengan Mang. 

“Mang jangan terlalu laju! Nanti kita cepat sampai!”

Ya bagaimana. Aku biasa naik fiber 15 PK dan saat itu aku naik speed 115 PK.

Peleeee rasa dibawa seperti naik jet coaster! Lajuuuuu sekali! 
Tapi ada kalanya aku bosan dirumah. Bukan karena mereka membosankan. Tapi aku butuh keluar rumah untuk melihat senja, atau bertemu anak-anak kecil yang biasa memanggilku ketika aku lewat, atau karena memang aku butuh berjalan sendirian. 
Dimanapun nanti aku berada dan berpindah. Rumah Ambay akan selalu yang kuceritakan pada semua orang. Mereka yang membuatku tumbuh. Mereka tidak mengubahku, tapi mereka menyaksikan dan menemani perubahanku. 

Advertisements

Surat Terbuka Untuk ARH. 

Hal yang paling selalu kuusahakan selama ini adalah memaafkanmu. Entah sekarang sudah berhasil atau belum– sepertinya sudah. Aku berniat mengatakan ini padamu: pernah satu waktu bulan kemarin aku berkumpul dengan teman-teman satu kosmu dulu, dan kami semua sepakat bahwa kami rindu padamu. 

Kuralat, kami tidak rindu padamu. Kami tidak rindu pada sosokmu, pada seseorang yang adalah kamu. Kami, dan terutama aku, merindukan pembicaraan kita. Pembicaraan soal banyak sekali hal yang sebelumnya tidak pernah kutahu.

Aku mengatakan dengan lantang bahwa aku mulai melupakan apa yang pernah terjadi dan kutangisi. Aku sepertinya mulai lupa apa yang pernah kutangisi dulu. Aku bergembira sekarang, kalau kau mau tahu. Meski beberapa kali aku pernah menangis cengeng disini. Entah karena aku ngambek dengan sahabatku yang mencandai aku ketika suasana hatiku sangat buruk ketika menstruasi atau aku kehilangan tasku di kapal. Aku menangis cengeng merengek lalu dibawa menyepi di sekoci oleh sahabatku yang paling baik disini. Semua sahabatku disini laki-laki. Masih seperti dulu, A, aku masih belum terlalu pandai berteman dengan perempuan. Kecuali kami sudah kenal dan bersama bertahun-tahun dan tidak ada konflik antara kami. Sahabat paling kentalku yang merupakan perempuan masih hanya Della. 

Aku sudah banyak berani melakukan banyak hal menakutkan. Dan aku berani melompat dan duduk diatas sekoci yang menggantung tinggi. Aku tidak pernah lagi menangis dengan dada sesak dan kepala pusing menahan marah. Aku sudah berani menyebrang jembatan kayu reyot yang ompong dan bolong-bolong. 

Aku sekarang hidup di suatu tempat yang tidak ada mobil. Aku hidup di suatu tempat yang bahkan tidak ada pengadilan apalagi velodrome. Aku hidup di suatu tempat yang tidak ada tanah dan air. 

Aku ingin kamu tahu, kalau entah bagaimana caranya nanti kamu membaca ini– bahwa aku selalu berusaha keras memaafkanmu. Aku sangat ingin memaafkanmu. Mungkin sekarang sudah mungkin belum. Aku tidak tahu ukurannya. 
Aku sekarang memiliki banyak teman yang kegilaannya hampir menandingiku.

Tapi ada banyak sekali hal darimu yang tidak sahabat-sahabatku miliki.

Aku ingat ketika kita dengan seru membahas Serat Gatholoco atau sistem informasi milik Tuhan yang maha canggih. Belum ada lagi teman sebaik kamu yang bisa memancing isi kepalaku bekerja dan berimajinasi liar begitu. Kita pernah berjanji kan kita akan menulis sesuatu bersama. Aku sudah mendapat teman menulis yang kami seringkali mengawinkan tulisan kami menjadi lahir baru. Meski tentu tulisannya tidak sekuat nyawa dalam tulisanmu. 

Tapi ada juga hal lain yang dulu kamu lakukan dengan sangat baik padaku, dilakukan juga oleh mereka dengan sangat baik. Bahkan lebih baik. 

Seperti mereka mengasuhku sebaik kamu dulu. Melayani khayalan-khayalanku soal pendakian ke Kilimanjaro, atau kejuaran balet internasional yang kumenangkan, resital piano solo yang kuadakan, performaku sebagai pembalap motoGP, dan banyak dan banyak. Mereka akan dengan penuh girang tapi malas meladeniku. 

Atau mereka akan mengabulkan semua keinginanku ingin makan apa minum apa di tengah hari super panas atau di tengah malam sudah gelap. Untuk urusan ini mereka jagonya. Lebih menang dari ketelatenanmu. Karena kami tinggal bersama satu rumah. Orang yang pertama kali kulihat ketika bangun tidur dan akan tidur kembali adalah mereka. 

Tapi bukan berarti mereka manis bagai malaikat. Mereka keji dan culas sepertiku. Kamu selalu bilang kan, A, kalau siapapun yang bergaul denganku akan tertular keculasanku. Mereka membuktikan itu. Mereka mengganggu dan sering sekali membuatku rewel. Tapi ada satu pelindungku disini, kalau aku diganggu oleh para laki-laki yang kampret itu, aku hanya perlu berteriak satu nama. Maka gangguan akan berhenti. Mereka paling hormat dan takut dengan pelindungku itu. Penderitaanku akan mengerikan kalau pelindungku itu ada pergi dinas keluar kota berhari-hari. Mati sudah aku!

Ada banyak sekali yang aku ingin ceritakan. Apalagi ya. Aku bercerita karena semata-mata masih menganggapmu sebagai sahabatku. Sahabat yang menumbuhkan dan sekaligus menciutkan pribadiku selama lima tahun terakhir. Kamu masih sahabatku. Dan kenapa aku berkirim surat ini: karena kamu terlalu jauh. Kamu sedang menjalankan misi Apolo 19 ke Saturnus. Aku hanya tidak bisa menjangkaumu. Aku tidak mau menjangkaumu. Aku lebih memilih bercerita disini dan semoga ketika kamu sampai di kantor NASA nanti, kamu akan bisa membaca ini.

Kamu tahu, A, aku tidak lagi mengeluh berjalan kaki. Aku sekarang suka sekali berjalan kaki. Tanpa mengeluh. Kulitku sekarang jauh lebih hitam daripada terakhir kita bertemu. Sekarang kulitku seperti karamel gula yang terlambat diangkat. 
Aku tidak lagi menderita dan menangis sampai tersengal-sengal sesak. Penderitaanku paling berarti disini adalah ketika aku lapar dan tidak ada satupun orang dirumah. Itu artinya aku akan kelaparan. Karena mereka yang menyalakan kompor untukku. Atau ketika Mang–pelindungku pergi, maka para lelaki kampret itu akan memerasku menyuruhku membuatkan susu hangat atau kopi untuk mereka ketika mereka semua main PES. Tidak ada lagi hal yang membuatku sakit hati. Kalau hanya sekedar merusak moodku, ah itu banyak. Apalagi dekat tanggal menstruasiku. Apapun yang diucapkan mereka di rumah ini, akan membuatku kesal nyaris menangis. Hanya itu. Tapi aku pastikan tidak ada lagi yang membebaniku seperti dulu aku menangis kehabisan tenaga dan airmata. Kuberitahu saja. Jika informasi ini masih penting bagimu. Jika ini penting bagi dirimu sendiri. Jika rasa bersalah masih ada dalam kepala dan dadamu. 
Aku melakukan perjalanan. Aku melampaui diriku sendiri. Aku tidak menjadi cacat lagi seperti dulu. Aku mulai pelan-pelan berdiri dengan kakiku sendiri. Tanpa menangis tanpa digandeng dan dibimbing. Semua orang yang menyayangiku sekarang hanya perlu membuatku tertawa lepas untuk meniupkan nyawa baru untukku. Aku mengandalkan Tuhan dan diriku sendiri untuk sembuh. Aku yakin akan selalu lahir nyawa baru dalam nyawaku. Aku hanya perlu lebih banyak bergembira dan menghisap sebanyaknya energi baik manusia untuk kulipatgandakan. Setelahnya aku yakin akan sembuh. Bahkan lahir baru. 

Aku sungguh berusaha memaafkanmu. Aku memaafkanmu bukan hanya untukmu. Tapi juga untuk diriku sendiri.
Terima kasih, A. Maafkan aku dan beri aku waktu memaafkanmu. Aku rasa aku sudah mendekati berhasil karena aku berani menulis ini. Untukmu, ARH.
Salam,
Masih sahabatmu, TYD.

Terlanjur Lumpur

Aku tidak pernah mendengar suara katak begitu kencang dan massal seperti disini. Nyaris seperti suara generator yang dinyalakan bersamaan oleh beberapa kios sekaligus ketika mati lampu. Aku menikmati perjalananku yang sendirian melewati hutan dan jembatan kayu. Melewati rimbunan tanaman rawa. Melewati jembatan papan yang kayunya ompong karena rapuh dan dicongkeli untuk kayu bakar. 
Hal yang sebenarnya membuat sedikit deg-degan adalah gubuk kayu di pertigaan ujung jembatan. Sering kutemui beberapa orang mabuk tergeletak disana. Kala lain ada kulihat sepasang mesum tergeletak disitu. Tapi yang paling mengerikan dari tempat ini adalah sebenarnya selalu pemabuk. Pernah satu kali aku pergi pagi sekali karena malas menunggu Albertus yang belum mandi atau Dion yang masih menyiapkan bekal; ada pemabuk berlari ke arahku. Dia ceria. Dan hanya berteriak: love you! — sambil berlalu. Hahahah. Pagi yang aneh. 

Meski rute ke arah darat dan kebun jauh lebih pendek dibanding menempuh jalur Keuskupan, tapi perjalanan kesini selalu lebih melelahkan. Dua kali lipat. Albertus bilang mungkin karena panas dan tidak ada pohon. Tidak serindang jalur Keuskupan yang teduh dan dingin. Tapi menurutku disini perjalanan melelahkan justru karena sepanjang perjalanan jarang sekali kutemui manusia. Jarang ada yang kubisa sapa selamat pagi dan ajak bicara dengan ramah. Aku adalah Dementor. Aku penghisap energi manusia. Ketika tidak ada yang bisa kuhisap energinya, aku akan lemas dan lebih mudah emosi dan marah. Jika begitu satu-satunya yang bisa mengembalikan keceriaanku hanya sogokan-sogokan ajakan jajan dan jalan dari pengasuhku satu-satunya, si Albertus. Sahabat paling cemenem yang kupunya. Atau kalau kami justru bosan dengan suasana rumah yang terlalu panas dan gaduh oleh bunyi PES, kami diam di jembatan-jembatan memancing kepiting dengan benang jahit. Dan bertaruh. 
Kalau aku sedang sangat kesal di pagi hari entah karena telpon atau sms genit laki-laki kampret, aku akan jalan cepat jam 6 pagi. Kalau sudah begitu aku akan pergi dan tak peduli ketika Albertus tanya kenapa mukaku seperti kentut. Lalu berjalan sendiri menuju arah kebun dan hutan. 

Seperti pagi tadi. Aku memilih jalan pagi sekali dan sendirian. 

Di depan kebun aku bertemu seorang Mama yang pernah kutemui dengan Dion ketika suatu siang kami pulang untuk masak. Mama masih mencari pucuk sagu dalam lumpur. Begitu melihatku Mama naik ke jembatan. Kami berbincang dan duduk di jembatan sambil Mama mengeluh gatal digigit lalat babi. Mama menggaruk kakinya dengan parang. Aku gemas sendiri. Aku takut kakinya berdarah. Mama hanya jawab “Ah gatal enak e anaak” 

Tapi kuperhatikan dan baru kusadari: Mama ada botak kepalanya. 

Aku bertanya kenapa kepala Mama ada botak? Sedang ada duka kah?
Mama bilang ‘sa pu anak perempuan ada meninggal. Dipukuli dong pu suami. Dipukul pakai balok di kepala dan punggung sampai mati.’
Lagi-lagi aku patah hati dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan negeri secantik ini. Orang bilang kita adalah penghuni negeri dewa. Karena kita tidak pernah injak tanah. Dan kitalah yang paling dekat dengan langit. Kita mengambang. 

Aku benci dengan realita. Aku benci pada apa yang ternyata benar kulihat. Anak-anak yang perutnya menggembung nyaris meledak. Para ibu yang badannya kurus tenaganya habis dihisap: hamil, melahirkan, menyusui, belah kayu, petik pucuk pakis dan kangkung, tanam-tanam di lumpur, jaring ikan, jarang air, putar kopi, bakar sagu, dibuahi, disetubuhi, ditiduri, dan banyak, dan banyak, dan banyak. 

Aku sedih. Pada segala keterlanjuran disini. Semalam aku berbincang dengan Pater Juan dan Tino. Bahkan eskrim yang Pater belikan tidak cukup membuatku terhibur. Apa yang salah dengan tempat ini? Dengan semua keterlanjuran disini. Pater pernah marah Bapak Mathias. Dewan gereja di Paroki Pirimapun. Dong hanya hisap-hisap rokok ketika istrinya menggendong anak sambil jaring ikan berdiri diatas ci. Menjaga keseimbangan dalam perahu lesung sekecil itu saja sudah setengah mati. Apalagi harus gendong anak sambil melempar dan menarik jaring. Lalu lempar lagi. Tarik lagi. Sampai ada ikan duri atau bandeng menyangkut terserok di jaring. 
Aku lebih benci pada keterlanjuran disini. Dibandingkan dari bau busuk yang muncul dari lumpur yang bercampur dari segala kotoran dan sampah segala rupa.

Aku lebih benci pada keterlanjuran disini dibandingkan tahi yang berserakan menjadi ranjau. Yang membuatku harus selalu waspada berjalan kaki supaya tidak membuatku meledak dan memaki.

Aku tidak lebih benci tai pinang yang merah dan membentuk noda serupa cat pada jalan, lantai, atau tembok kayu dibandingkan keterlanjuran yang kami putus asa atasnya. 
Seandainya Pater Juan atau semua yang memiliki hati atas tempat ini berhenti berteriak dan marah-marah pada umatnya, mungkin keterlanjuran hanya akan menggurita dan subur seperti tanaman rawa. 
Aku hanya mungkin akan menikmati perjalananku yang sendirian untuk mengutuki banyak hal yang sia-sia. Aku hanya tidak ingin didengar. 

Negeri Lalat Babi

Gabriel sedari sore mengirimiku pesan. Dia bilang “Triaaaas saya stres. Biasa kita ramai disana sedari pagi sampai malam disini saya hanya diam. Benar kata orang, kalau pergi dr tempat itu rasa rindu ingin kembali begitu besar”

Aku tidak tahu apa yang dirasakan Gabriel benar atau tidak. Karena aku belum meninggalkan tempat ini. Tapi ada yang aneh, aku sudah rindu tempat ini bahkan sebelum aku berangkat untuk– yang semua orang sebut sebagai pulang.

Entah ini apa. Aku begitu mencintai sudut pasar ikan, atau sudut yang menuju langsung muara: dimana aku bisa melihat langsung riak-riak arus air yang coklat dan luas. Aku suka sekali melihat Susteran Tarekat Maria Mediatrix yang halamannya tanah keras. Yang cat dinding kayunya merah. Dengan gordin hijau turquoise dilapisi kawat nyamuk. Aku suka melihat kelapangan SD Salib Suci. Setiap pagi ketika hujan ataupun tidak– Pastor dan Suster ramai berjalan keluar dari Katedral sehabis misa setengah enam pagi. Semua dengan jubah putih atau biru. 

Aku–tidak rela liburan besarku ini terhenti untuk yang semua orang bilang sebagai liburan–Natal dan tahun baru. Untuk kemudian bertemu dengan orang-orang congkak yang memakai kacamata hitam dalam mobil yang kacanya penuh sunscreen. Bertemu dengan orang-orang penghuni rumah besar– yang bahkan tidak tahu tetangga belakang mepet temboknya sedang ada kapesan atau adakan hajat. Bagaimana aku nanti akan kembali mengeluh dan malas berjalan,  karena kembali ada Grabcar dan Gocar. Disini aku selalu berjalan. Sejauh apapun aku selalu berjalan dan tidak lelah. Tidak mengeluh. 

Aku mencintai tempat ini. Belokan Bhayangkara untuk melihat rangkong botak. Aku mencintai tempat ini meski jam dua malam apabila hujan, aku harus memaksa diri bangun dan kedinginan untuk menampung air dalam jolang dan baskom. Supaya beberapa hari ke depan bajuku dapat kucuci. 

Aku suka kulitku menghitam. Bertambah dekil karena matahari. Aku mencintai tempat ini apabila habis bahan bakar kemudian seluruh kota padam listrik. Gelap segelapnya. Hanya ada bulan yang sabit.  Bintang yang terangnya mengelilingi seluruh penjuru atasmu. Depan belakang  kanan kiri atas.  Hanya ada satu lampu yang menyala di simpang tiga gang. Yang dayanya dari panel matahari. 

Aku mencintai duduk di pinggir bingkai semen jalan. Yang jika aku berhenti  waspada sebentar saja,  aku akan jatuh ke kolam lumpur. Hanya ada suara jangkrik,  kungkong katak, dan suara binatang malam yang menyumbang suara. Entah iya atau tidak,  sepertinya mereka menyumbang nyanyi atas petikan gitar Albert yang menemaniku duduk diluar rumah. Aku selalu suka jika padam lampu. Aku bisa keluar dan mendongak ke atas lama-lama sampai tidak tahu berapa jam. 
Terkadang aku mengeluh beberapa kali dan mengkhayal apabila di panas terik Albert mengajakku ke pasar: naik grab car putar radio musik disko-disko abg sialan, dan kasih kencang AC. Atau terkadang aku rindu duduk dan berbincang di sebuah kafe berAC meminum dan memakan entah sembarang apa membincangkan dan menertawakan hal tidak berguna. Atau terkadang aku merindukan heater dirumah kalau sedang hujan lebat dan dingin menusuk tulang-tulang. Atau terkadang juga ketika musim kering dan menstruasi aku merindukan kloset duduk dengan semprotan cebok sekali tekan, lalu flush! Atau ketika aku sedang malas dan bebal untuk makan sesuatu, aku merindukan kompor gas, sekali ceklek menyala dan matang.

Tapi aku jauh lebih menyukai duduk dalam kerumunan anak-anak beringus menonton gerak dan tari– semua orang disini kepala tari.  Sambil sesekali berteriak dan tidak dikenali. Pulang bergelap-gelapan melihat satu dua titik cahaya di muara. 
Aku mencintai seluruh rawa ini meski di kulit kakiku ada noda hitam dan mengeras bekas gigitan lalat babi. Lalat babi yang terkadang brengsek– kau tidak berbuat apa-apa dan bergerak tidak banyak, tapi dia menyengat begitu kecil dan sakit, membuat berdarah dan meninggalkan bekas. Hidup pun begitu.

Tapi dari semuanya: rasa tidak rela dan terlalu sayang. Untuk ditukar dengan apa juga. Meski untuk memposting ini aku harus berjalan dan kepanasan yang amat menyengat dan membuat lemas untuk bisa dapat internet yang cukup kuat. Rasa terlalu sayang pada sebuah tempat becek yang  bau dan kotorannya dimana-mana bisa kau injak. Rasa terlalu sayang, pada sebuah tempat yang tidak pada siapapun kau bisa menggantungkan harapan untuk sekedar bisa menggosok dakimu atau menhilangkan haus di tenggorokanmu– selain pada Sang Empunya Hidup. Kalau kalian siapapun yang membaca ini, bisa kemari– kalian akan heran, hujan kadang datang datang tanpa aba-aba dan sangat sebentar: seperti memberi satu dua ember pesedian untuk sekedar menghilangkan gatal di punggung dan ketiakmu. Atau juga kadang ia datang semalaman tak berhenti dan lebat: hal ini juga kadang merupakan tanda,  Tuhan memenuhi tampungan kami sebagai bekal kemudian hari ke depan, sebagai persediaan– dan mengetes: sayangkah tidak kita pada air yang dikirimnya langsung. Tanah ini telah menenggelamkanku dalam sebuah cinta yang hampir teramat sangat. Oh, Negeri Lalat Babi, sudahkah aku jatuh cinta padamu sekarang-sekarang ini? 

Perjalanan Rejeki

Rejeki berjalan menempuh jarak yang jauh. Menempuh perjalanan panjang. Tanpa peta. Tanpa alamat. Tanpa kenalan saudara. Tapi ia akan sampai. Tapi ia ternyata sampai. Tidak tersesat.  Tidak salah alamat. Tidak salah tujuan. Tidak salah mengenali orang. 
Malam sebelumnya Lik Mung membatin pada Moyo ingin sayur sukun kuah santan encer. Tepat keesokan paginya ada tetangganya menggantungkan satu buah sukun di engsel pintu samping. 

Mang Ronald menyuguhkanku keripik pisang hangat. Pisang yang ia dapat entah dari Yepem atau Peer. 

Aku memakan lalap timun hasil panen Pastor Sipri di Bayun yang bibitnya dibawa Isti dari toko Trubus, yang ikut ditanam Daniel Beta ketika mereka berangkat kesana. 
Aku sarapan pagi telur ayam kampung hasil ternak Bu Ima di Ambisu. Yang seumur hidupku tak pernah terbayang ada tempat seperti itu dengan nama seperti itu. 

Suatu sore aku ditemani menunggu hingga jam lima sampai Sate Mbah Mardi buka dan kuhabiskan satu porsi penuh lontong sayur dan sate ditambah satu porsi penuh sate kere minus dua tusuk yang diambil Moy. Andaikan sore itu kami tidak sabar, sate itu tidak akan pernah kumakan. 

Suatu sore Bang Roma bertanya padaku sudahkah aku makan atau belum. Tidak berapa lama ia menggorengkan cumi besar dan segar yang ia bawa dari Tual lengkap dengan sambal korek kesukaanku! 

Tiga sore berturut-turut aku memakan udang Atsj yang sebesar lobster oleh-oleh dari Bang Roy. 

Kami membuat jamu kunyit asam yang kunyitnya dipetik langsung dari Bayun. 

Rejeki terkadang datang tanpa undangan. Tanpa jemputan. Tanpa kartu alamat, tanpa peta penunjuk jalan. 

Rejeki seringkali bukan hal yang diharap-harapkan. Tapi sesekali manusia masih boleh berharap. Menitip kartu alamat– dilemparkan ke alam bebas mengawang di udara yang semesta.

Manusia boleh berharap. Manusia boleh setidaknya berkeyakinan kecil atas sesuatu. 
Selama perjalanan ke Pangalengan, Mang pernah menjajikan akan mengajakku setelah aku lulus sidang skripsi pergi berlibur kecil ke satu tempat. Dekat saja di dekat Puncak, Taman Bunga Nusantara. Tapi karena satu dua tiga hal, kami tidak pernah jadi pergi kesana. Tapi aku berkeyakinan akan suatu hari entah kapan; pasti akan sampai kesana. Entah dengan siapa, bagaimana caranya, dan kapan waktunya.

 
Dan beberapa hari kemarin dulu aku sudah sampai sana. Tanpa perencanaan dan tanpa uang. Meski banyak meskipun yang aku lewati: perjalanan berangkat menuju kesana aku kesal nyaris menangis karena si Romi sialan (tapi baik) merusak moodku. Keduanya dia menyetir seperti kesetanan dan membuat aku terguncang kiri kanan kiri kanan kiri kiri kanan yang membuat aku berkali-kali tertimpa koper.
Aku bisa melihat apa itu yang peta sering gambarkan– pulau-pulau kecil yang didampingi sungai yang kelokannya tajam. 

Sahabat duluku pernah mengatakan,  ada dua jenis rejeki: satu makanan yang masuk dalam perutmu,  kedua adalah pakaian yang kau pakai hingga robeknya.
Bagiku, yang lain termasuk pula rejeki, termasuk siapa yang kutemui, candaan yang kutertawakan. Terutama hujan yang berhasil kutampung dan memungkinkanku untuk mandi. 

Bagiku, jika kita dianggap menjemput rejeki, itu banyak kelirunya. Yang sebenarnya, jauh lebih banyak adalah rejeki yang menempuh perjalanan. Yang mengantarkan dirinya sendiri. 

Rejeki apapun klasifikasinya, apapun bentuknya: apa yang sebenarnya ditujukan sebagai milikmu, akan datang padamu. Menemuimu. Meski ia harus menempuh perjalanan. Yang sulit yang jauh. Yang tanpa peta tanpa kartu alamat. Dia hanya akan sampai padamu. Tidak akan pernah tersesat.